Pilih Lelaki Berbakat atau Lelaki Telaten?


Bertahun-tahun lalu, seorang teman bertanya pada saya. Pilih lelaki berbakat atau lelaki telaten? Saat itu saya masih SMA dan polos. Pengalaman cinta baru seputar naksir anak kelas sebelah. Maka saya pun menjawab: pilih lelaki berbakat. Bisa di bidang apa pun. Dengan pertimbangan, bakat akan membantu sekali untuk sukses. Jadi kalau punya pasangan seperti itu, hidup kita akan enak dan damai. Betulkah? Tidak juga. Kalau sekarang ditanya pertanyaan yang sama, jawaban saya berbeda. Saya pilih lelaki telaten.

Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita samakan persepsi tentang “berbakat” dan “telaten”. Orang yang berbakat berarti punya kepandaian tertentu sejak lahir. Misalnya suara yang bagus. Tanpa belajar pun, dia sudah punya kemampuan di atas rata-rata. Bagaimana dengan orang yang telaten? Dia punya sifat sabar dan cermat. Kemampuan itu muncul karena diasah terus. Dalam dunia nyata, tak ada orang yang hanya berbakat tanpa telaten sama sekali. Begitu juga sebaliknya. Untuk mempermudah bahasan kita, bayangkan ada dua lelaki—sebut saja Lelaki A dan Lelaki B. Lelaki A sangat berbakat, tapi kurang telaten. Sedangkan Lelaki B sangat telaten, tapi kurang berbakat. Sudah terbayang? Mari kita lanjutkan.

Kasus Lelaki A: punya bakat besar, mudah mencapai sukses. Tapi karena kurang telaten, dia tak memanfaatkan bakatnya dengan maksimal

Selama bertahun-tahun, saya mengamati manusia dan hubungannya dengan sesama. Termasuk dalam urusan cinta. Saya pernah mengenal berbagai jenis lelaki. Sebagian punya bakat yang besar—entah pandai bicara, bisa olahraga apa pun, atau cerdas luar biasa. Mereka menonjol di antara orang-orang. Biasanya berprestasi dan punya banyak teman. Sayangnya, tak semua bisa konsisten berusaha. Ada yang berhenti setelah beberapa kali berhasil. Lantas berpuas diri dan hanya mengenang prestasi yang lalu. Dipikirnya sudah hebat. Padahal, di atas langit masih ada langit. Semua orang berusaha tiap hari. Sekalipun punya bakat besar, kalau tak rajin melatihnya, kita akan berada di posisi yang itu-itu saja. Tidak berkembang.

Lelaki seperti ini mudah dideteksi. Biasanya banyak bicara tapi sedikit bertindak. Punya segudang mimpi tapi tak kunjung diwujudkan. Sehari-hari hanya berkhayal tentang kesuksesan. Namun tidak telaten saat berjuang. Sebagai perempuan, bagaimana kalau punya pasangan seperti ini? Dijamin jengkel. Kita akan terjebak dalam hidupnya yang penuh ilusi. Kalau sudah begitu, cobalah untuk mendukungnya dalam berusaha. Bujukan saja tak cukup. Kita perlu menjadi contoh yang baik—buatlah target tertentu dan wujudkan sampai berhasil. Siapa tahu dia akan mengikuti. Lantas, bagaimana kalau kamu sendiri adalah lelaki jenis ini? Segeralah berubah! Di mata perempuan, lelaki yang punya banyak mimpi memang keren. Tapi kalau malas ya jadi tidak menarik. Berjuanglah untuk kelangsungan hidup.

Kasus Lelaki B: kurang berbakat, butuh lebih banyak waktu dan usaha. Tapi karena telaten, pelan-pelan bisa mencapai sukses yang besar

Sepintas lelaki ini kurang menarik. Dalam keseharian, dia tak mencolok. Prestasinya biasa-biasa saja. Namun punya ketekunan dan kesabaran dalam berusaha. Dia butuh waktu lebih lama untuk meraih kesuksesan. Jalannya pun tak mulus. Coba sekali, gagal. Coba dua kali, gagal. Coba tiga kali? Masih saja gagal. Bahkan sampai diremehkan orang-orang. Namun itu bukan alasan untuk menyerah. Tiap kegagalan dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya. Jadi saat kembali berjuang, dia lebih kuat dari sebelumnya. Proses itu pun berulang sampai akhirnya sukses. Ingat! Bakat hanyalah penentu 10% dari keberhasilan. Sedangkan 90% sisanya diperoleh dari usaha. Kalau kamu termasuk lelaki tipe ini, teruslah berjuang dengan semangat.

Sebagai perempuan, bagaimana kalau kita punya pasangan seperti ini? Harus sabar dan selalu memberi dukungan. Mungkin dia belum sejahtera. Dompet tidak tebal, materi tidak banyak. Tapi sifat telatennya adalah harta yang tak ternilai. Dengan usaha terus-menerus, kesuksesan hanya tinggal waktu. Berhubungan dengan lelaki seperti ini juga menyenangkan. Biasanya mereka tak hanya telaten dalam berjuang, tapi juga dalam keseharian. Selalu ingat hal-hal penting. Tak lupa melimpahi kita dengan perhatian. Dia bagaikan permata yang belum diasah. Tugas kitalah untuk menemukan dan mendampinginya sampai sukses.

Kasus Lelaki Impian: punya bakat dan ketelatenan yang besar

Setelah membahas Lelaki A dan Lelaki B, masih ada tipe yang lain, yaitu Lelaki Impian. Dia punya bakat dan ketelatenan yang besar. Kesuksesannya bisa berlipat ganda. Namun lelaki seperti ini cukup langka. Jumlahnya terbatas. Sekalipun sudah menemukannya, tak bisa semudah itu meraih hatinya. Tentu dia punya kriteria pasangan yang ketat. Sebab jodoh adalah cerminan diri. Sebagai perempuan, kita juga perlu berjuang tiap hari. Jadilah perempuan yang punya kualitas tinggi, jadi jodoh kita pun seperti itu. Selamat berusaha!



Sumber ilustrasi: pinterest.com

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog