Pengalamanku Belajar Bahasa Cina dari Nol, Ikut Les Sepulang Kerja Kantoran
Sunday, February 01, 2026Bahasa Cina disebut-sebut sebagai bahasa tersulit di dunia, dan sekarang aku sedang mempelajarinya dari nol. Saat tulisan ini dibuat, aku baru ikut les bahasa Cina selama satu bulan dan berencana melakukannya untuk jangka panjang. Kira-kira apa alasannya?
Cerita ini dimulai saat aku menyadari pentingnya bahasa Cina dalam pekerjaan baruku di bidang komputer, jadi aku putuskan untuk mempelajarinya
Sebelumnya aku sudah menulis tentang pengalamanku mulai bekerja di bidang PC hardware. Selain mengelola event, salah satu pekerjaanku adalah berkomunikasi dengan klien-klien dari Indonesia maupun luar negeri. Nah, kebanyakan klien asing kami berasal dari Cina dan Taiwan, dan sehari-hari mereka berbicara dalam bahasa Mandarin. Ada yang jago berbahasa Inggris, tetapi ada juga yang kurang lancar dan bahkan tidak bisa sama sekali.
![]() |
| Photo by Nuno Alberto on Unsplash |
Hal ini kualami saat diajak bosku, Pak Andi, untuk meeting langsung di Jakarta dengan klien-klien dari Cina. Tim kami bernegosiasi dengan mereka dalam bahasa Inggris. Namun aku agak bingung karena aksen mereka sulit dipahami. Bahkan ada satu orang penting yang tidak bisa berbicara bahasa Inggris sama sekali, jadi diwakilkan orang-orang lainnya.
Di tengah negosiasi, terutama saat membahas hal yang agak sensitif, para klien ini akan berbicara di antara mereka sendiri dalam bahasa Mandarin. Mungkin supaya komunikasinya lebih jelas dan supaya kami tidak bisa memahami isi pembicaraan mereka. Aku jadi penasaran, apa yang mereka bicarakan? Hal seperti ini juga kami hadapi saat online meeting dengan klien-klien lain dari Cina dan Taiwan. Adakalanya mereka sengaja berdiskusi dalam bahasa Mandarin dulu, sebelum menawarkan atau menyetujui sesuatu dari kami dalam bahasa Inggris.
Jadi begitulah. Awalnya, Pak Andi yang menyarankanku untuk belajar bahasa Mandarin. Lalu setelah aku menyadari pentingnya bahasa ini, apalagi dalam industri PC hardware, aku pun memutuskan untuk mempelajarinya. Sebetulnya ada banyak cara untuk belajar bahasa Mandarin, tetapi aku memilih untuk ikut les supaya lebih efektif.
Sepulang kerja kantoran, sekarang aku ikut les bahasa Cina dan belajar untuk membaca, mendengarkan, menulis, serta berbicara dalam bahasa tersebut
Awal Januari 2026, aku mulai ikut les di Xinlong Mandarin Education Center (XLMEC) di Yogyakarta. Ada sejumlah level pembelajaran, dari pemula sampai ahli. Tentu saja aku mulai dari level terbawah alias pemula yang sangat pemula, karena aku sama sekali belum pernah belajar bahasa Mandarin.
Untuk kelas yang kuikuti, materinya setara dengan Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) level 1. HSK adalah ujian standar kemampuan bahasa Mandarin untuk penutur asing, kira-kira seperti TOEFL dan IELTS. Nah, kelas yang kuikuti adalah kelas orang dewasa yang dilaksanakan 3 kali per minggu. Total ada 20 pertemuan selama bulan Januari hingga Februari. Setelah itu, kami boleh berhenti atau melanjutkan ke level selanjutnya.
Biasanya kelas berlangsung selama 1,5 jam dari pukul 18.30 hingga 20.00 WIB. Sedangkan jam kerjaku di kantor berakhir pukul 17.00, walaupun kadang-kadang aku bekerja melebihi itu. Jadi biasanya aku akan berangkat les langsung dari kantor sekitar pukul 18.00. Jaraknya sekitar 20-25 menit naik motor. Sesampainya di sana, aku akan menuju ruang kelas dan mulai belajar bersama teman-teman yang lain.
Ada lima orang di kelas kami, termasuk aku. Murid lainnya bernama Meisya, Sherin, Bening, dan MM sebagai satu-satunya cowok. Masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda dalam belajar bahasa Mandarin. Ada yang masih kelas 2 SMA dan ingin melanjutkan kuliah di Cina, ada juga yang sudah bekerja sepertiku dan ingin belajar untuk menunjang pekerjaan.
Kami mendapat dua buku dari tempat les, yaitu satu text book dan satu work book. Keduanya digunakan untuk berlatih membaca teks, mengucapkan dialog, mencocokkan audio yang disetel dari speaker, dan tentu saja berlatih menulis aksara Mandarin yang banyak dan ruwet.
Bagiku, hal yang paling sulit adalah berbicara dalam bahasa Cina, karena ada empat nada berbeda yang menentukan arti suatu kata
Karena muridnya hanya lima orang, laoshi atau guru kami bisa betul-betul fokus menjelaskan dan mengoreksi langsung kesalahan kami. Misalnya saat latihan berbicara. Setelah mendengar contoh pelafalan dari Laoshi dan audio, satu per satu dari kami akan mengulanginya.
Berbeda dengan bahasa-bahasa lain, ada empat nada dalam bahasa Mandarin. Nada pertama: datar, nada kedua: naik, nada ketiga: naik lalu turun, dan nada keempat: turun. Pengucapannya harus betul. Karena kalau salah, artinya berbeda dan bisa membuat orang yang mendengarnya salah paham. Ini adalah bagian yang paling sulit bagiku, karena nada suaraku sehari-hari cenderung datar. Aku merasa masih sering melakukan kesalahan dalam pengucapan nada, untung ada Laoshi yang selalu membetulkan.
Selain itu, hal tersulit bagiku adalah menghafalkan aksara Mandarin yang jumlahnya sangat banyak dan bentuknya ruwet. Dari informasi yang kudapat di internet, katanya kita harus bisa menghafal 3.000-4.000 karakter Mandarin untuk bisa disebut ahli. Padahal masing-masing karakter ini terdiri dari banyak garis dan harus ditulis dengan urutan yang benar. Pusing!
Jujur, tak mudah untuk kerja kantoran sambil ikut les bahasa Cina. Semoga aku bisa kuat dan konsisten untuk melakukan ini sampai bertahun-tahun ke depan
Sebelumnya aku pernah belajar bahasa Prancis dari nol saat kuliah di Sastra Prancis UGM. Jadi aku paham kalau kita membutuhkan waktu, tenaga, dan tekad yang banyak untuk menguasai bahasa asing. Kalau aku bisa ikut les terus, dengan ritme lesku yang sekarang, kemungkinan baru tiga tahun lagi aku bisa cukup jago berbahasa Mandarin. Itu pun harus banyak belajar sendiri di luar les. Jadi biasanya aku sempatkan belajar di rumah atau di kantor setelah jam pulang, sambil menunggu berangkat les.
Ini adalah hal yang menantang bagiku. Setelah sibuk bekerja dari pagi sampai sore, malamnya lanjut les bahasa Cina, lalu kadang masih bekerja lagi setelah itu. Kadang aku merasa capek dan terpikir untuk bolos les, hehehe. Tapi tidak pernah bolos kok, bahkan saat aku sakit lumayan parah sepanjang minggu ini. Di situasi tersulit, aku berusaha mengerahkan seluruh will power yang kumiliki supaya bisa tetap mengikuti les dari awal sampai akhir. Semoga aku bisa konsisten melakukannya untuk jangka panjang.
Oh ya, kalau kamu tertarik untuk ikut les bahasa asing juga, menurutku salah satu hal terpenting adalah memilih tempat dengan frekuensi les yang sesuai dengan kita. Karena setiap tempat les punya aturan yang berbeda. Ada yang hanya menyediakan 2 kali pertemuan per minggu, ada juga yang sampai 5-6 kali per minggu. Sedangkan aku sengaja memilih tempat yang 3 kali per minggu, karena masih masuk akal untukku yang bekerja dari Senin sampai Sabtu.
Nah, untuk menutup tulisan ini, aku akan mengutip kata-kata Laoshi saat beliau melihat kami kesulitan memahami materi di kelas. Dengan baik hati Laoshi berkata, "Semakin tidak mudah materinya, semakin banyak ilmu yang didapat."

0 comments