Memahami Cinta Beda Agama (2)


Akhir tahun lalu saya menulis tentang cinta beda agama (bisa dibaca di sini). Tak lama setelah merilisnya, seorang kawan menghubungi saya. Sebut saja Johan. Ternyata dia membaca tulisan itu. “Cinta beda agama memang mendewasakan kita,” katanya setuju. Namun ada secercah sedih yang melintas. Benar saja, Johan bercerita tentang pengalamannya sendiri. Ternyata beberapa hari sebelumnya, dia putus dengan sang pacar. Padahal sudah pacaran selama beberapa tahun. Bahkan sedang sayang-sayangnya. Lantas kenapa putus? Ternyata karena beda agama. Johan beragama Katolik, pacarnya Islam.

Cinta beda agama memang bikin bingung. Sebagian orang lebih suka menghindarinya. Sejak awal, mereka berusaha pacaran dengan orang yang seiman. Jadi tak perlu was-was bakal berpisah karena agama. Namun, kita tak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Sebab cinta terjadi begitu saja—cepat, mendadak, dan seringkali sulit dihentikan. Mungkin itulah yang terjadi pada Johan dan pacarnya. Mereka jatuh cinta dan menjalin hubungan. Seiring berjalannya waktu, muncul harapan ke jenjang selanjutnya: pernikahan. Namun terhalang perbedaan agama.

Pacar Johan, sebut saja Salma, berasal dari keluarga yang Islamnya kuat. Saya tak pernah bertemu dengannya. Namun dari sejumlah cerita, tampaknya Salma adalah perempuan yang baik. Berkerudung seperti muslimah pada umumnya. Sedangkan Johan lahir di keluarga Katolik. Pernah belajar di institusi Katolik selama bertahun-tahun. Saya tak tahu seperti apa mereka saat pacaran dulu. Dari cerita Johan, tampaknya bisa saling toleran. Menghormati agama dan keyakinan masing-masing. Saya salut sekali, sebab tak banyak orang bisa melakukannya.

Masalah terjadi saat wacana pernikahan muncul. Johan dan Salma memang sudah cukup umur untuk menikah. Kebetulan ajakan datang dari Salma. Dia sudah berdiskusi dengan keluarganya. Mereka setuju, asal Johan mau pindah agama jadi Islam. Waduh. Johan tak berkenan melakukannya. Tentu dia menyayangi Salma—tapi saat agama jadi pertaruhan, pasti berat sekali. Pada akhirnya mereka memilih untuk putus. Saling melepas, lantas melanjutkan hidup masing-masing. Barangkali dengan hati yang hancur.

“Rasanya memang sakit, tapi mau bagaimana lagi,” kata Johan suatu hari. Saya jadi ikut sedih. Sebenarnya, saya dan Johan mengalami hal yang mirip. Kami sama-sama putus karena beda keyakinan. Namun kasus saya lebih ringan, sebab hanya pacaran beberapa bulan. Bukan beberapa tahun seperti Johan. Tapi karena lebih muda dan labil, saya kebingungan. Dulu saya pikir cinta bisa menang di atas segalanya—mulai dari keluarga, jarak, usia, sampai perbedaan agama. Ternyata tidak. Ada hal-hal yang tak bisa diubah. Tak bisa dikalahkan. Cintalah yang harus mundur dan pergi.

Di saat seperti itu, kita tak perlu memaksakan diri. Berhentilah berjuang kalau hanya menoreh luka. Lebih baik belajar melepas. Belajar memaafkan. Belajar merelakan supaya perasaan jadi damai. Seperti kata Kahlil Gibran, “If you love somebody, let them go. If they return, they were always yours. And if they don't, they never were.”

Pacaran beda keyakinan memang berisiko. Namun saya tetap mau menjalaninya. Sebab di balik semua risiko itu, ada manfaat yang besar. Tentu ini beda-beda untuk setiap orang. Buat saya, perbedaan agama justru membuat hubungan lebih bermakna. Lebih luas dan warna-warni. Kalau Anda tak setuju ya tak mengapa—toh tiap orang punya keyakinan sendiri. Apa semua hubungan beda agama pasti berakhir gagal? Tidak. Kalau memang ditakdirkan, pasti akan bersama. Buktinya banyak pasangan beda agama yang menikah. Salah satunya adalah paman dan bibi saya. Mereka bisa membangun keluarga dengan bahagia dan baik-baik saja.

Bagaimana agar berhasil dalam hubungan beda agama? Menurut saya, yang penting adalah memilih pasangan dengan tepat. Some people will only love you as long as you fit in their box. Kalau mau hidup bersama, penyesuaian diri memang perlu. Tapi jangan melakukan perubahan yang membuat kita kehilangan diri sendiri. Pilihlah orang yang toleran. Yang mau menerima apa adanya. Yang menghormati walau beda keyakinan. Selamat berusaha!



Sumber ilustrasi: pinterest.com 

Tidak Punya Teman Dekat


Sebagian kenalan saya mengaku tak punya teman dekat. Padahal sehari-hari dikelilingi banyak orang. Namun sebagian besar hanya kenalan, rekan kerja, atau teman sekampus. Kalaupun ada yang diajak jalan bareng, frekuensinya tak sering. Lantas apakah mereka kesepian? Sedih karena tak punya teman dekat? Tidak. Ternyata buat sebagian orang, punya teman dekat atau tidak bukanlah masalah. Mereka tetap gembira. Nah, ada alasan menarik di balik itu.

Hidup ini sangat lucu. Kalau bersikap lebay, hubungan sehari-hari bisa jadi sinetron. Misalnya kita sedang marah pada A. Bukannya ngomong langsung, kita malah membicarakan A di belakang. Gosip pun muncul dan menyebar ke B, C, D. Problem yang harusnya milik pihak bersangkutan, malah melibatkan orang sekampung. Solusi pun tak kunjung diperoleh. Malas kan kalau mengalaminya? Karena itulah sebagian orang menghindari interaksi yang tak perlu. Mereka antigosip. Tak mau terlibat hal tak bermutu. Lebih fokus cari uang atau mewujudkan mimpi-mimpi. Buktinya, beberapa di antaranya memang sukses. Dilimpahi banyak pujian dan kekaguman, tapi memilih tak punya teman dekat.

Lantas apa yang mereka lakukan saat senggang? Masa menyendiri terus? Tidak juga. Ada yang hobi menimba ilmu. Saat punya waktu luang, mereka akan membaca buku. Melukis. Menonton film. Bisa juga belajar masak, olahraga, atau mencoba hal baru. Kadang semua dilakukan sendiri. Kadang dilakukan bersama orang lain. Sebab bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial—pasti butuh interaksi. Namun mereka lebih selektif. Biasanya lebih suka menghabiskan waktu bersama keluarga atau pasangan. Hidup pun tetap gembira dan bermakna.

Namun itu bersifat subjektif. Yang saya tulis tadi tak berlaku untuk semua orang. Tergantung pada kepribadian dan latar belakang masing-masing. Ada orang introvert yang jarang bergaul, tapi punya sejumlah teman dekat. Ada juga orang ekstrovert yang populer, tapi selalu membatasi diri saat berhubungan. Macam-macam pokoknya. Tak ada yang lebih baik atau lebih buruk, karena kebutuhan kita kan berbeda. Yang penting pas.

Saya sendiri adalah orang ambivert. Bergaul dan menyendiri sama pentingnya. Saya suka bertemu orang-orang dan menjalin hubungan. Bahkan, saya pasti kesepian kalau tak punya teman dekat. Sebab butuh kawan untuk berbagi cerita. Butuh partner untuk melakukan hal-hal seru. Karena itulah saya sering dikelilingi teman. Mulai dari teman sekolah, kampus, organisasi, kepanitiaan, tempat kerja, dan berbagai tempat tak terduga. Buat saya, berteman itu menyenangkan. Namun tak selalu mudah dilakukan.

Saat baru masuk SMP, saya hampir tak punya teman. Sebab tak ada orang lain yang berasal dari SD saya. Selama beberapa hari pertama, saya duduk sendirian. Bingung harus bicara dengan siapa. Sampai akhirnya dapat saran dari ayah saya. Kebetulan beliau adalah orang yang jago bergaul (tulisan tentang ayah saya bisa dibaca di sini). Sebelum saya berangkat sekolah, beliau berpesan agar saya mengajak ngobrol lima orang baru setiap harinya. Boleh siapa saja. Saya pun mematuhi saran itu. Pelan-pelan, saya berkenalan dengan banyak orang. Sampai akhirnya akrab dan tidak sendirian lagi.

Setelah itu, pergaulan saya berjalan lancar. Jumlah teman membengkak saat kuliah. Saya senang sekali karena bisa bertemu macam-macam orang. Sebagian memberi ilmu, pencerahan, dan banyak manfaat lainnya. Namun berteman tak selalu tentang manfaat. Buat saya, yang paling penting adalah rasa nyaman. Tak perlu memaksakan diri berteman dengan orang yang tak cocok, hanya karena dia kaya dan populer. Saya lebih suka bergaul dengan orang yang mengerti dan menerima saya apa adanya, walau mungkin dia biasa-biasa saja.

Apa saya pernah mengalami masalah saat berteman? Tentu saja pernah. Kadang marah atau bertengkar dengan kawan. Tapi biasanya selesai baik-baik. Persoalan justru muncul karena dulu saya tak menyeleksi teman dekat. Ada beberapa teman yang memberi pengaruh buruk. Entah melibatkan saya dalam masalah, membuat saya rendah diri, atau membuat saya selalu tak nyaman bersamanya. Namun karena tak enak, saya tetap berteman dekat dengan mereka. Bahkan sampai bertahun-tahun! Barulah belum lama ini, saya sadar dan menjauhi mereka. Hidup jadi lebih tenang dan damai. Berteman dengan siapa saja memang boleh, tapi berhati-hatilah memilih teman dekat. Sebab akan berpengaruh dalam hidup kita.

Walau suka bertemu orang, saya juga suka menyendiri. Misalnya tahun lalu saat sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata). Tujuh hari dalam seminggu, saya bertemu terus dengan teman-teman sekelompok. Bahkan tinggal berdesakan di rumah yang sempit. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, obrolan tak henti-henti. Kondisi itu membuat stres. Saya butuh waktu sendiri supaya bisa berpikir jernih. Jadi terkadang pergi sendirian dari pondok KKN. Naik motor berjam-jam mengelilingi desa. Berhenti di supermarket yang jauh, lalu beli camilan dan membaca buku. Sendirian. Momen sederhana itu sangat penting bagi saya. Memulihkan kedamaian dan energi yang terkuras.

Bagaimana denganmu? Lebih suka menyendiri atau berkumpul dengan teman? Yuk bagikan ceritamu di kolom komentar! :)



Sumber ilustrasi: pinterest.com

Ke Mana Manusia Pergi Setelah Meninggal?


Sebelum cerita dimulai, perlu ada sedikit peringatan. Tulisan kali ini berisi pemikiran saya tentang manusia setelah meninggal. Akan muncul tebakan demi tebakan. Tak ada yang didasari penelitian langsung, sebab saya kan belum pernah mati. Jadi sebagian besar hanya imajinasi. Karena itu mohon tak ditanggapi kelewat serius. Saya hanya ingin menyampaikan pemikiran, tak ada maksud lain. Tapi kalau Anda takut terpengaruh, atau takut imannya terguncang, lebih baik tak lanjut membaca. Terima kasih :)

Nah, mari kita mulai.

Beberapa minggu lalu saya mengobrol dengan seorang kawan. Umurnya jauh di atas saya. Beliau adalah ibu rumah tangga. Merintis keluarga sejak sangat muda. Selama puluhan tahun, beliau mengalami banyak hal—baik yang manis, pahit, maupun yang amat sangat pahit. Tak heran kebijaksanaan tumbuh subur dalam dirinya. Enak diajak ngobrol tentang apa saja. Suatu hari, kami berdua membahas kematian. Sesuatu yang tak tampak tapi merayap dekat. 

Saya bertanya, apa yang beliau inginkan setelah meninggal? Apa berharap masuk surga seperti kebanyakan orang? Atau jadi hantu saja? Beliau menjawab, “Kalau bisa memilih, aku ingin semuanya selesai saat meninggal. Mungkin seperti televisi yang dimatikan. Tiba-tiba hitam, gelap, tak ada suara, pokoknya usai. Tak perlu kehidupan setelah kematian. Aku tak mengharapkan surga, neraka, reinkarnasi, atau lainnya. Sebab hidup sekali saja sudah cukup.”

Jawabannya agak mengherankan. Sebab, selama ini reinkarnasi adalah favorit saya. Kalau boleh memilih, di kehidupan selanjutnya saya ingin reinkarnasi. Entah jadi apa. Mungkin jadi manusia lagi beberapa abad kemudian. Pasti seru melihat perkembangan teknologi. Atau mungkin, reinkarnasi jadi sekuntum bunga di tepi danau. Bisa juga jadi awan. Jadi burung. Jadi setetes air yang mengalir di samudra. Kata orang, konsep reinkarnasi berhubungan erat dengan karma. Makin baik karma seseorang, makin baik pula wujudnya di kehidupan yang berikut.

Dulu kehidupan setelah mati membuat saya penasaran. Saat SMA, saya melakukan banyak pencarian tentangnya. Sebagian berasal dari kitab suci. Sejak dulu saya biasa melihat Alquran dan Alkitab disimpan berdampingan. Begitu juga kitab suci agama lainnya, biasa ditata bertumpuk dan bebas dibaca. Jadi saya mempelajarinya tanpa ragu. Ternyata, konsep hidup setelah mati berbeda di tiap agama. Ada yang langsung lanjut ke surga dan neraka. Ada yang melalui tahapan rumit dulu, dengan waktu yang sangat lama. Ada yang mati, reinkarnasi, lalu hidup lagi. Beda-beda pokoknya. Namun saya tak ingin menyimpulkan mana yang benar dan salah. Sebab agama adalah tentang meyakini. Tak perlu diperdebatkan segala.

Kemudian saya mencari di berbagai buku, film, lukisan, hingga artikel ilmiah. Apa tujuannya? Untuk menemukan kebenaran? Tidak. Kebenaran itu akan muncul sendiri saat saya meninggal. Saya mencari-cari hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu. Sebab pikiran saya terlalu aktif. Kelewat suka menganalisis sesuatu. Jadi saya lakukan saja sebagai hobi.

Dari pencarian itu, saya mendapat hasil yang lumayan. Ada sejumlah kondisi yang mungkin terjadi setelah manusia meninggal. Tebakan pertama saya adalah surga dan neraka, seperti yang diyakini banyak orang di dunia. Orang baik masuk surga. Orang jahat masuk neraka. Lalu tebakan kedua adalah reinkarnasi, seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Prosesnya tergantung pada karma semasa hidup. Sedangkan tebakan ketiga adalah tidak ada apa-apa, yaitu kondisi yang diinginkan kawan saya di awal tulisan. Tak ada suara, tak ada cahaya, tak ada apa pun.

Masih ada tebakan keempat dan kelima. Setelah meninggal, mungkin kita pindah hidup ke dimensi lain. Misalnya saat ini saya adalah perempuan yang tinggal di dimensi A. Lalu setelah meninggal, saya pindah ke dimensi B—tapi sebagai laki-laki. Kedua dimensi itu tetap ada dan utuh, tapi tak menyadari keberadaan lainnya. Sedangkan tebakan terakhir adalah menjadi hantu. Mungkin orang yang meninggal tak benar-benar lepas dari dunia. Tetap menjalani hidup seperti biasa, tapi sebagai roh. Tak bisa interaksi dengan yang masih hidup.

Itulah tebakan-tebakan saya. Tak perlu dibawa serius, sebab ditulis hanya untuk bersenang-senang. Lho, kematian kok dikaitkan dengan kesenangan? Bukannya harus selalu dibayangi rasa takut dan waspada? Tidak juga. Seorang kawan saya pernah bilang, kita tak perlu takut menghadapi kematian. “Lakukan yang terbaik selama masih bernapas. Hiduplah dengan maksimal. Jadi saat meninggal—entah puluhan tahun lagi atau sehari lagi—kita tak akan menyesal. Mari hadapi kematian dengan berani,” ujarnya.



Sumber ilustrasi: pinterest.com

Ada 1001 Cara Bertemu dan Tuhan Tahu Waktu yang Tepat


Pertemuan itu misterius. Seringkali tak terduga. Ada yang berkenalan dengan kita lalu pergi begitu saja. Ada yang tetap tinggal. Ada yang memberi manfaat besar, ada yang hanya lewat. Tak sedikit pula yang menoreh luka. Sebetulnya, kenapa kita bertemu seseorang? Pasti ada alasannya. Ada pula momentumnya. Tuhan tahu waktu yang tepat untuk mempertemukan manusia. Selama ini banyak orang yang sudah dimunculkan dalam hidup kita. Kelak lebih banyak lagi yang menyusul. Berikut ini adalah berbagai jenis orang dan alasan kehadirannya…

Orang yang tak terduga bisa memberi manfaat sangat besar

Kadang hidup kita berubah karena seseorang. Mungkin dia adalah kerabat jauh yang terlupakan. Atau kenalan lama yang sudah bertahun-tahun tak ditemui. Bisa juga teman dari internet. Siapapun bisa memberi manfaat besar pada hidup kita. Entah menolong saat kesulitan, menawarkan peluang, atau menjalin hubungan sampai pernikahan. Sebagian yang mengelilingi kita adalah orang-orang hebat. Barangkali belum tahu siapa saja. Yang penting adalah membuka diri agar berbagai kemungkinan bisa menghampiri. Saat tiba waktunya, Tuhan akan mendekatkan kita pada orang yang tepat.

Orang yang paling kita sayangi bisa menyakiti sangat dalam

Kasih sayang yang terlalu dalam bisa membuat kita terluka. Kadang kita lemah di depan orang tersebut. Saat dia menyakiti, mungkin kita membelanya dengan berbagai pembenaran. Atau pasrah saja dihantam sampai hati babak belur. Ada juga kemungkinan lain—saya mengingatnya dari novel Petir karya Dee Lestari. Pernahkah kita merasa rela mati demi seseorang? Entah keluarga, pasangan, atau sahabat? Coba pertimbangkan lagi. Sebab kalau ada apa-apa dengan mereka, kita akan merasakan dua kali lipatnya. Mereka bahagia, kita lebih bahagia. Mereka merana, kita menderita setengah mati. Itulah konsekuensi menyayangi orang.

Orang yang bertemu sekilas bisa meninggalkan banyak kesan

Kadang pertemuan berlangsung sangat cepat. Entah saat duduk bersebelahan di bus atau berpapasan di suatu acara. Namun kuantitas tak selalu menentukan kualitas. Orang yang hanya kita temui sekali bisa meninggalkan banyak kesan. Misalnya saja seseorang yang pernah dikenalkan pada saya. Sepanjang pembicaraan, dia selalu tersenyum dan menebar aura positif yang murni. Senyumnya melengkung alami mengikuti gestur tubuh—seolah bibirnya punya gravitasi sendiri. Sampai sekarang masih berkesan. Tiap kali susah senyum, saya akan membayangkan orang itu. Lantas bisa tersenyum lagi dengan energi yang baru.  

Orang yang selalu ada bisa pergi begitu saja

Perpisahan memang tak mudah. Walau tak disukai, hal itu tetap saja terjadi. Tak ada yang selamanya bisa bersama kita. Punya sahabat erat di sekolah? Setelah lulus, mungkin sulit untuk menemuinya lagi. Kesibukan memperlebar jarak. Sekalipun tinggal di kota yang sama—kalau tak benar-benar meluangkan waktu—kita tak akan bertemu. Apalagi kalau terpisah karena cinta berakhir. Seketika pacar bisa jadi mantan. Yang dulu selalu ada di samping kita, tahu-tahu jadi yang paling jauh. Yang paling dikenal mungkin jadi asing lagi. Yang begitu berharga bisa terlupakan oleh waktu. Hubungan antarmanusia itu rapuh. Supaya bisa bertahan, kita harus membangun hubungan yang erat dengan diri sendiri.

Orang yang tampaknya kekal, suatu saat pasti meninggal…

Jangan sampai menyesal. Temuilah seseorang sebelum terlambat. Lakukan sesuatu baginya sebelum dia meninggal. Kematian adalah hal yang pasti. Tak terlihat namun selalu mendekat. Selama saya hidup, ada sejumlah orang berharga yang telah meninggal. Padahal saya belum sempat bertemu untuk terakhir kalinya. Mengucap selamat tinggal pun tak bisa. Sekali mereka pergi, kita tak bisa menemuinya lagi. Namun tak perlu merasa kesepian. Ada jalan yang bisa menghubungkan dua alam, yaitu doa. Panjatkanlah doa untuk orang-orang yang meninggal lebih dulu.

Orang yang entah siapa, mungkin berharap bertemu dengan kita

Ada jutaan orang yang belum kita temui. Baik lelaki maupun perempuan, tua maupun muda. Saat ini, mungkin mereka berada di tempat yang jauh. Entah di kota lain atau negara yang berbeda. Namun suatu saat jarak itu akan terhapus. Atau mungkin, mereka sudah berada sangat dekat dengan kita. Barangkali hanya terpisah dua kompleks rumah. Atau sering berpapasan di suatu tempat, tapi belum waktunya berkenalan. Bagaimana dengan kita berdua? Apakah saya pernah bertemu denganmu? Atau kamu pernah bertemu dengan saya? Siapapun dirimu, saya harap kita bisa bertemu suatu saat. Mungkin ditemani dua cangkir teh. Mengobrol dan membahas banyak hal. Kalau Tuhan mengizinkan, kita akan mengubah hidup satu sama lain. Sampai jumpa.



Sumber ilustrasi: pinterest.com 

Di Balik Kerepotan Perempuan dan Makeup


Kenapa perempuan pakai makeup? Bukannya repot dan mahal? Jangan-jangan untuk menggaet lelaki ya? Kecentilan nih! Kenapa tak natural saja, kan lebih enak dilihat? Itulah berbagai celotehan yang kadang saya dengar. Tak semuanya betul. Malah cenderung meremehkan usaha perempuan untuk merias diri. Banyak anggapan simpang siur seputar makeup—terutama dari para lelaki yang tak pernah memakainya. Sebagai perempuan yang dandan tiap hari, saya ingin meluruskan anggapan tadi. Mari kita bahas bersama.

Kecantikan itu relatif. Dengan pakai makeup, bukan berarti saya setuju pada standar kecantikan di masyarakat

Ada standar kecantikan tertentu yang dibuat media massa. Entah sejak kapan, perempuan dianggap cantik kalau berkulit putih, bermata besar, dan punya bulu mata lentik. Betulkah begitu? Tidak. Saya percaya kalau semua perempuan itu cantik. Letak keindahannya saja yang beda-beda. Lantas kenapa pakai makeup? Karena riasan bisa memperjelas keindahan kita. Misalnya saya sendiri. Warna kulit saya adalah cokelat sawo matang. Saya menyukainya dan tak berniat mengubahnya jadi putih. Namun saya tetap pakai bedak. Itu bedak natural—tak ada warnanya sama sekali. Saat memakainya, wajah saya tetap cokelat, tapi tampak bersih dan bebas kilap. Kesimpulan: makeup bukanlah alat untuk mengubah yang jelek jadi cantik, tapi membuat yang cantik jadi makin cantik.

Menggaet lelaki dengan bekal kecantikan? Waduh, bukan itu tujuan saya berdandan

Wahai para lelaki, tak perlu GR kalau perempuan dandan sebelum bertemu denganmu. Ada banyak alasan kenapa kami melakukannya. Kalau buat saya, berdandan adalah cara untuk mencintai diri sendiri. Sebab tubuh adalah aset penting. Tak enak rasanya kalau menjalani hidup dengan tubuh yang tak terawat. Saat pakai makeup, saya merasa lebih segar dan cantik. Perasaan itu membuat hari berjalan lebih menyenangkan. Mungkin ini agak sulit dipahami lelaki—tapi perempuan memang mendapat kesenangan dari hal semacam itu. Bagi kami, seoles lipstik yang bagus bisa mendongkrak mood.

Siapa bilang makeup itu mahal dan tak terjangkau? Banyak makeup berkualitas yang dijual murah

Industri makeup di Indonesia makin berkembang. Banyak merk lokal yang menjual produk dengan harga murah. Lipstik dan bedak berkualitas bisa diperoleh seharga 20 ribuan. Masih merasa tak sanggup beli? Eits, coba cek pengeluaran kita. Siapa tahu ada yang boros dan bisa dihemat. Kalau betul-betul perlu makeup, kita pasti bisa membelinya. Seperti teman saya, Mbak Erny Kurnia—seorang lifestyle blogger. Dia masih kuliah sambil bekerja. Karena tak lagi bergantung pada orangtua, Mbak Erny harus membiayai semua kebutuhan dengan gajinya. Mulai dari bayar kuliah, sewa kos, makan sehari-hari, dan sebagainya. Sekaligus bisa menyisihkan uang untuk makeup. Hebat ya. Bagaimana kalau penghasilan kita belum cukup? Coba cari penghasilan tambahan. Tak hanya bisa beli alat rias, siapa tahu bisa membiayai yang lain.

Butuh banyak pengalaman supaya bisa merias wajah dengan baik. Jadi ini bukanlah keahlian yang remeh

Saya butuh usaha berkali-kali dalam berdandan. Awalnya tampak menor dan aneh. Bedak terlalu putih, alis ketebalan, dan warna lipstik tidak pas. Ternyata makeup yang cocok untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lainnya. Saya pun dibantu Nala, seorang teman yang suka merias wajah. Dia melihat banyak tutorial makeup di internet. Favoritnya adalah riasan yang natural dan elegan. Bersama Nala, saya mencoba berbagai produk sampai akhirnya menemukan yang tepat. Lalu belajar memakainya dengan benar. Kemampuan merias itu bukan sesuatu yang remeh lho. Buktinya, ada pekerjaan makeup artist yang dibayar tinggi.

Berdandan itu tidak lama. Kalau perlu, saya bisa merias wajah hanya dalam 5 menit

Saya pernah janjian mendadak dengan seorang teman lelaki. Kami hendak bertemu di kafe. Sebelum berangkat dia berpesan, “Buruan! Nggak usah dandan, nanti kelamaan.” Namun saya tetap berdandan. Tak butuh waktu lama kok. Biasanya, saya butuh 10-15 menit untuk memulas makeup. Tapi 5 menit juga bisa kalau terburu-buru. Satu menit untuk pakai BB cream. Satu menit untuk menyapukan bedak. Satu menit untuk pakai lip balm dan lipstik. Dua menit sisanya untuk menggambar alis. Selesai! Akhirnya, saya sampai di kafe itu lebih dulu daripada sang teman. Itulah bukti kalau perempuan bisa berias dengan cepat. Makin terbiasa dandan, makin sebentar pula waktu yang dibutuhkan.

Yang paling penting memang inner beauty. Tapi kalau bisa punya inner beauty sekaligus outer beauty, kenapa tidak?

Saya percaya kalau inner beauty sangatlah penting. Hati yang buruk tak bisa ditutupi riasan sebanyak apa pun. Sedangkan hati yang baik akan bersinar dan membuat kita cantik. Jangan lupa tersenyum—itu riasan terindah yang dimiliki perempuan. Tak masalah kalau tak pakai makeup. Tak ada yang melarang juga. Sebagian perempuan lebih nyaman membiarkan wajahnya polos. Bukan berarti tidak cantik. Sekali lagi, kecantikan itu relatif. Orang-orang memandang kecantikan dengan cara berbeda. Kalau menurut saya, makeup bisa memperjelas keindahan perempuan. Kalau bisa punya inner beauty sekaligus outer beauty, kenapa tidak?



Sumber ilustrasi: pinterest.com

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog