Tidak Punya Teman Dekat


Sebagian kenalan saya mengaku tak punya teman dekat. Padahal sehari-hari dikelilingi banyak orang. Namun sebagian besar hanya kenalan, rekan kerja, atau teman sekampus. Kalaupun ada yang diajak jalan bareng, frekuensinya tak sering. Lantas apakah mereka kesepian? Sedih karena tak punya teman dekat? Tidak. Ternyata buat sebagian orang, punya teman dekat atau tidak bukanlah masalah. Mereka tetap gembira. Nah, ada alasan menarik di balik itu.

Hidup ini sangat lucu. Kalau bersikap lebay, hubungan sehari-hari bisa jadi sinetron. Misalnya kita sedang marah pada A. Bukannya ngomong langsung, kita malah membicarakan A di belakang. Gosip pun muncul dan menyebar ke B, C, D. Problem yang harusnya milik pihak bersangkutan, malah melibatkan orang sekampung. Solusi pun tak kunjung diperoleh. Malas kan kalau mengalaminya? Karena itulah sebagian orang menghindari interaksi yang tak perlu. Mereka antigosip. Tak mau terlibat hal tak bermutu. Lebih fokus cari uang atau mewujudkan mimpi-mimpi. Buktinya, beberapa di antaranya memang sukses. Dilimpahi banyak pujian dan kekaguman, tapi memilih tak punya teman dekat.

Lantas apa yang mereka lakukan saat senggang? Masa menyendiri terus? Tidak juga. Ada yang hobi menimba ilmu. Saat punya waktu luang, mereka akan membaca buku. Melukis. Menonton film. Bisa juga belajar masak, olahraga, atau mencoba hal baru. Kadang semua dilakukan sendiri. Kadang dilakukan bersama orang lain. Sebab bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial—pasti butuh interaksi. Namun mereka lebih selektif. Biasanya lebih suka menghabiskan waktu bersama keluarga atau pasangan. Hidup pun tetap gembira dan bermakna.

Namun itu bersifat subjektif. Yang saya tulis tadi tak berlaku untuk semua orang. Tergantung pada kepribadian dan latar belakang masing-masing. Ada orang introvert yang jarang bergaul, tapi punya sejumlah teman dekat. Ada juga orang ekstrovert yang populer, tapi selalu membatasi diri saat berhubungan. Macam-macam pokoknya. Tak ada yang lebih baik atau lebih buruk, karena kebutuhan kita kan berbeda. Yang penting pas.

Saya sendiri adalah orang ambivert. Bergaul dan menyendiri sama pentingnya. Saya suka bertemu orang-orang dan menjalin hubungan. Bahkan, saya pasti kesepian kalau tak punya teman dekat. Sebab butuh kawan untuk berbagi cerita. Butuh partner untuk melakukan hal-hal seru. Karena itulah saya sering dikelilingi teman. Mulai dari teman sekolah, kampus, organisasi, kepanitiaan, tempat kerja, dan berbagai tempat tak terduga. Buat saya, berteman itu menyenangkan. Namun tak selalu mudah dilakukan.

Saat baru masuk SMP, saya hampir tak punya teman. Sebab tak ada orang lain yang berasal dari SD saya. Selama beberapa hari pertama, saya duduk sendirian. Bingung harus bicara dengan siapa. Sampai akhirnya dapat saran dari ayah saya. Kebetulan beliau adalah orang yang jago bergaul (tulisan tentang ayah saya bisa dibaca di sini). Sebelum saya berangkat sekolah, beliau berpesan agar saya mengajak ngobrol lima orang baru setiap harinya. Boleh siapa saja. Saya pun mematuhi saran itu. Pelan-pelan, saya berkenalan dengan banyak orang. Sampai akhirnya akrab dan tidak sendirian lagi.

Setelah itu, pergaulan saya berjalan lancar. Jumlah teman membengkak saat kuliah. Saya senang sekali karena bisa bertemu macam-macam orang. Sebagian memberi ilmu, pencerahan, dan banyak manfaat lainnya. Namun berteman tak selalu tentang manfaat. Buat saya, yang paling penting adalah rasa nyaman. Tak perlu memaksakan diri berteman dengan orang yang tak cocok, hanya karena dia kaya dan populer. Saya lebih suka bergaul dengan orang yang mengerti dan menerima saya apa adanya, walau mungkin dia biasa-biasa saja.

Apa saya pernah mengalami masalah saat berteman? Tentu saja pernah. Kadang marah atau bertengkar dengan kawan. Tapi biasanya selesai baik-baik. Persoalan justru muncul karena dulu saya tak menyeleksi teman dekat. Ada beberapa teman yang memberi pengaruh buruk. Entah melibatkan saya dalam masalah, membuat saya rendah diri, atau membuat saya selalu tak nyaman bersamanya. Namun karena tak enak, saya tetap berteman dekat dengan mereka. Bahkan sampai bertahun-tahun! Barulah belum lama ini, saya sadar dan menjauhi mereka. Hidup jadi lebih tenang dan damai. Berteman dengan siapa saja memang boleh, tapi berhati-hatilah memilih teman dekat. Sebab akan berpengaruh dalam hidup kita.

Walau suka bertemu orang, saya juga suka menyendiri. Misalnya tahun lalu saat sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata). Tujuh hari dalam seminggu, saya bertemu terus dengan teman-teman sekelompok. Bahkan tinggal berdesakan di rumah yang sempit. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, obrolan tak henti-henti. Kondisi itu membuat stres. Saya butuh waktu sendiri supaya bisa berpikir jernih. Jadi terkadang pergi sendirian dari pondok KKN. Naik motor berjam-jam mengelilingi desa. Berhenti di supermarket yang jauh, lalu beli camilan dan membaca buku. Sendirian. Momen sederhana itu sangat penting bagi saya. Memulihkan kedamaian dan energi yang terkuras.

Bagaimana denganmu? Lebih suka menyendiri atau berkumpul dengan teman? Yuk bagikan ceritamu di kolom komentar! :)



Sumber ilustrasi: pinterest.com

6 comments:

  1. Teman yg baik mau menerima akan kekurangan dan kelebihan, bisa jadi panutan, bahkan ia tau apa yg aku sembunyikan, tau kondisiku pertama kali meski jarak jauh tanpa ada pemberitahuan, bahkan ia selalu memberikan yg terbaik tanpa harap kembali.
    Anggapku ia lebih dari sekedar teman, sahabat karib, kekasih, saudara, guru, dosen killer, psikiater, dokter, bu warteg, bakul angkringan, president dsb.
    Lalu, siapakah gerangan??
    Jangan kemana-mana, kita tunggu setelah pesan-pesan berikut ini ( iklan )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaa jadi penasaran siapa orangnya 😄 Setuju Mas, teman yang baik memang kadang ngagetin. Kita nggak ngomong apa pun, dia bisa tahu yang kita rasakan. Cuma berdasarkan gestur dan perubahan suara kita. Saking pedulinya kali ya 😄

      Tapi dia juga pasti punya kekurangan. Entah terlalu cerewet, pelupa, atau lainnya. Di saat itulah kita yang perlu toleran 😉

      Makasih Mas udah baca dan komentar!

      Delete
  2. Tadi pagi Belum sempat jawab siapa yang aku maksud malah ada yg ketuk pintu, setelah aku buka ternyata ga ada pelakunya.
    Habis itu langsung tidur lagi dagh :D

    ReplyDelete
  3. Pas banget ini dg yg saya alami baru baru ini mbak. Biasa bersosialisasi dg banyak orang, trus tiba-tiba mood berubah dan pengen menyendiri. Alias baper. Hahahaa (*tepatnya sudah saatnya introspeksi sih, kayak orang jaman dulu ya, kudu bertapa beberapa bulan dulu baru turun gunung lagi 😂😅)

    Ngomong2 soal ekstro dan introvert,
    Saya orang yg cenderung extrovert, tapi bisa jadi introvert parah jika bla..bla..bla..

    Betul sekali mbak, punya teman dekat atau tidak, tergantung masing masing individu.
    Kalo bagi saya pribadi, saya mmg tidak punya teman dekat. Tapi orang2 disekitar saya, mereka punya 1 bahkan lebih teman dekat (itu mnrt saya ya) Meski mereka berjauhan, tapi komunikasi via sosmed dan berbagi cerita masih mereka lakukan.
    Nah masalahnya, terkadang saya berpikir..
    Kenapa saya tidak punya teman dekat? apa yg salah sama saya?
    Apa karena saya aneh, ga enak diajak berteman, ga enak diajak jalan? Atau karena apa..

    Setelah saya berpikir selama lebih dari 3 dekade, halah..
    Ternyata saya merasa lebih nyaman berteman dg banyak orang, mungkin itu yg membuat saya bingung, mana teman dekat mana yg biasa saja. Karena memang belum ada yg spesial, bisa saling menerima sy apa adanya dan saya menerima dia apa adanya. Selain suami saya tentunya ya.. hahaha...

    Terlebih apalagi dengan mobilitas pekerjaan mempengaruhi kehidupan kami yang berganti ganti teman. Jadi susah rasanya punya teman dekat.
    Hahahaha...

    ReplyDelete

  4. Great site you have here but I was wondering if you knew of any community forums that cover the same topics talked about here? I'd really like to be a part of group where I can get feedback from other experienced people that share the same interest. If you have any suggestions, please let me know. Thank you! gmail log in

    ReplyDelete
  5. Assalamualaikum. Menurut saya,teman mmg penting,tp yg lbh penting adalah komunitas dlm keluarga,tdk peduli itu keluarga kcl,keluarga besar atau dalam lingkungan sekitar tempat kita tinggal. Hanya tetap ada satu batasan dimn hanya point2 umum saja yg bs kita sampaikan dlm komunitas tsb,sisanya minimal 10% hrs kita simpan buat diri sendiri yg tentunya merupakan hal yg sangat pribadi. Saya pribadi srg kali mengalaminya,hanya kepada Sang Kholiq saya mengadukan mslh saya yg sebesar 10% tadi. Hidup adalah pilihan,ada kalanya kita memilih yg salah dan ada wktx pula kita memilih yg benar dlm tiap langkah yg kita jalani dlm menghadapi liku2 kehidupan msg2. Saya jg pernah punya banyak tmn dekat,tp semua berangsur2 hilang seiring dg berjalannya wkt. Satu demi satu tergerus oleh riak kehidupan msg2,tinggal kita sndiri yg hidup dg lingkungan keluarga kecil. Itulah teman yg perlu kita jaga sampai kelak kita tiada krn hanya mrk yg akan menguruskan jasad kita ketempat peristirahatan terakhir. Mhn maaf kalau ada kata yg saah. Wassalam

    ReplyDelete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog