3 Kejutan Selama Traveling Sendirian di Hong Kong


Saya suka traveling sendirian ke luar negeri. Banyak pengalaman seru yang diperoleh. Kalau pergi dengan orang lain, perjalanan memang lebih lancar. Namun saat pergi sendiri, kita lebih banyak belajar. Sebab harus melakukan segalanya sendirian. Mulai dari imigrasi, naik kendaraan ke penginapan, cari makan, ke tempat wisata, dan sebagainya. Kebingungan bisa berlipat ganda. Apalagi saya susah baca peta, jadi sering nyasar ke mana-mana. Tapi tak perlu khawatir. Yang penting tetap tenang dan berpikir jernih. Sejauh ini, saya sudah mengalami berbagai tantangan—mulai dari salah naik kereta, tersesat malam-malam di daerah sepi, sampai ketinggalan pesawat. Kalau dihadapi dengan baik, semua itu jadi pengalaman yang bermakna.

Tahun lalu saya traveling sendirian ke empat negara. Yang terakhir adalah Hong Kong. Sebelum berangkat, ada pengarahan dari kakak lelaki saya. Dia sempat tinggal lama di luar negeri dan suka traveling ke mana-mana. Jadi cocok untuk dimintai saran. Nah, tiap kali saya ke luar negeri, kami berdua membuat perjanjian. Pertama, saya tak boleh bawa koper. Selama apa pun perjalanannya, yang boleh dibawa hanya tas ransel supaya praktis. Kedua, tidak boleh bawa uang saku banyak-banyak. Secukupnya saja, jadi bisa latihan berhemat. Ketiga, harus bawa oleh-oleh dengan cara menawar serendah mungkin. Tujuannya untuk belajar komunikasi dengan orang asing. Kakak juga memberi penekanan, saya tak boleh hanya menjadi turis. Tapi harus membaur dengan penduduk setempat. Jadi sebisa mungkin tidak ikut tur wisata.

Sebelum berangkat, saya sudah membeli tiket pulang dan pergi. Juga memesan hostel untuk ditempati selama lima hari. Saat di Hong Kong, saya tak hanya jalan-jalan. Tapi juga survey ke berbagai galeri seni untuk memperkenalkan bisnis keluarga saya. Tak lupa mewawancarai mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana untuk dijadikan buku. Berbagai rencana sudah dibuat. Informasi pun dicari sebanyak mungkin. Namun saat sampai di Hong Kong, tak semua berjalan sesuai rencana. Ada berbagai kejadian tak terduga! Berikut ini adalah tiga kejutan selama saya traveling sendirian di Hong Kong.

1. Tak bisa masuk hostel saat hari pertama, padahal sudah tengah malam

Saya berangkat dari Yogyakarta ke Kuala Lumpur. Menginap sehari, lalu lanjut ke Hong Kong. Sampai di Bandara Internasional Hong Kong pada malam hari. Saya melihat-lihat dulu di bandara, mencoba naik MTR (Mass Transit Railway, kereta cepat di sana), lalu mengelilingi kota. Banyak sekali hal menarik yang bisa dilihat. Tak terasa baru sampai hostel saat tengah malam. Namun saya tak khawatir. Berdasarkan pengalaman, saya boleh masuk hostel selarut apa pun, bahkan bisa check in sendiri. Lagipula hostel tempat saya menginap—namanya Beepackers—sudah memberi petunjuk jelas lewat surel. Jadi saya tahu passcode untuk masuk. Yang perlu saya lakukan adalah menemukan gedungnya, naik ke lantai lima, lalu masuk ke Beepackers dengan passcode itu. Selanjutnya tinggal check in sendiri sesuai petunjuk yang tertera.

Dengan tenang, saya pun menyusuri daerah Tsim Sha Tsui. Hostel saya terletak di Carnarvon Road nomor 44-46. Tak terlalu sulit untuk menemukan gedungnya. Saat sampai sana, ternyata pintu utamanya terkunci! Tak bisa dibuka! Bahkan tak ada penjaganya. Dengan bingung, saya pun menggedor pintu itu. Tak ada yang terjadi. Hari makin larut dan saya sudah capek. Bagaimana cara masuk ke sana? Dalam surel yang dikirim Beepackers, ada nomor telepon mereka. Namun saya tak punya pulsa untuk menelepon. Kartu seluler yang dibeli hanya bisa untuk internetan. Duh, bagaimana ya? Saya pun bengong sambil berpikir mau tidur di mana. Tiba-tiba, sepasang suami istri datang. Tampaknya baru selesai belanja. Ternyata mereka adalah pemilik Beepackers! Kebetulan sekali. Mereka segera membuka pintu utama dengan kunci, lalu mengajak masuk.

Oleh sang pemilik, saya diajari untuk check in sendiri. Tak terlalu sulit. Begitu masuk ke Beepackers, alas kaki harus diganti dengan selop yang sudah disediakan. Lalu cari nama kita di deretan loker. Setelah ketemu, ambil serentengan kunci yang tersedia. Ada tiga kunci, masing-masing untuk loker, pintu kamar, dan pintu utama gedung. Jangan lupa ambil handuk dari hostel. Kemudian, masuklah ke kamar yang tertera di kunci. Satu kamar diisi tiga orang. Benar-benar sangat sempit. Ukurannya hanya sekitar 2,5 meter x 2,5 meter. Sudah termasuk kamar mandi seukuran 1,5 meter x 1 meter. Kamar itu dijejali tiga tempat tidur. Kebetulan saya dapat bagian di atas. Langit-langitnya sangat rendah, saya tak bisa duduk tegak di atas kasur. Ternyata standar hostel di Hong Kong memang begitu. Harga properti mahal, padahal penduduknya banyak. Jadi kebanyakan hunian memang sempit. Namun cukuplah bagi saya. Lagipula lebih banyak berada di luar hostel.

Beberapa hari kemudian, saya pulang sekitar pukul 19.00. Mau mampir mandi lalu pergi lagi. Ada yang bilang kalau makanan beku di Hong Kong enak-enak—jadi saya beli satu untuk dimakan di hostel. Kebetulan sedang sepi. Saya langsung makan tanpa ganti baju. Tiba-tiba ada seorang pengunjung baru yang datang. Wanita tua itu tampak bingung dan kelelahan. Ternyata, sebelumnya dia sudah datang ke Beepackers—tapi passcode yang dimasukkan salah. Jadi tak bisa masuk. Lalu dia keliling kota dulu, baru kembali lagi ke sini. Untung saya makan di ruang depan jadi bisa membukakan pintu. Karena saat itu tak ada pemilik, saya langsung memberitahunya untuk check in sendiri. Tak lupa menunjukkan caranya satu per satu. Saking ahlinya, saya dikira pemilik hostel oleh wanita itu. Sebab saya masih pakai blazer dan berdandan rapi. Lucu juga—di hari pertama saya hampir tak bisa masuk, tapi beberapa hari kemudian malah dikira pemilik!

2. Tersesat malam-malam bersama 10.000 patung Buddha yang menyeramkan

Selama traveling, saya mengunjungi berbagai tempat wisata. Ada Victoria Peak (puncak tertinggi Hong Kong), Nan Lian Garden (taman indah seluas 3,5 hektar), Ladies Market (tempat belanja murah meriah), dan lain-lain. Yang paling berkesan adalah Ten Thousand Buddhas Temple. Tadinya saya berencana ke sana saat hari terang. Namun, suatu hari agenda saya selesai lebih cepat. Saat itu baru sekitar pukul 19.00. Jadi saya memutuskan untuk ke Ten Thousand Buddhas Temple. Yang tak saya ketahui, ternyata tempat itu tutup saat malam. Padahal saya kira akan lebih indah dengan lampion, lilin, dan penerangan lainnya.

Saya pun naik MTR ke daerah Sha Tin. Dari sana berjalan cukup lama. Ternyata daerahnya sepi, tak seperti Tsim Sha Tsui yang ramai sampai tengah malam. Namun saya tetap berjalan. Sempat nyasar juga ke perumahan orang jompo. Setelah mencermati Google Maps lagi, saya berhasil masuk ke jalur menuju Ten Thousand Buddhas Temple. Jalur itu sepi dan gelap. Hampir tak ada penerangan. Hanya jalan setapak kecil yang dikelilingi pagar dan pepohonan besar. Tak ada orang sama sekali. Saya sendirian. Tadinya mau balik arah, tapi ada papan yang memberitahu kalau jaraknya tinggal beberapa ratus meter lagi. Namun suasana makin mencekam. Seolah bisa muncul hantu kapanpun. Mulai ada firasat kalau tempat itu tutup, tapi karena nanggung, ya sudah. Bagaimana kalau muncul hantu? Saya kurang percaya pada begituan, jadi tidak takut.

Saya pun berjalan terus. Saat berbelok di tikungan, betapa kagetnya saya! Ada puluhan patung Buddha yang menyambut. Berjajar-jajar. Hampir seukuran manusia asli. Ekspresinya macam-macam—ada yang marah, sedih, takut, dan sebagainya. Dengan minimnya cahaya saat itu, mereka kelihatan sangat seram. Seolah diawasi puluhan pasang mata. Setelah foto-foto sebentar, saya langsung ambil langkah seribu. Barulah beberapa bulan kemudian saya tahu kalau tempat itu angker. Di sana ada rumah penyimpanan abu jenazah. Biasa dipakai untuk ziarah orang yang sudah meninggal. Untung saya tak melihat yang macam-macam. Tapi, pengalaman ini jangan ditiru ya. Soalnya bahaya. Tak hanya hantu, bisa-bisa bertemu penjahat juga. Saya memang kelewat nekat. Syukurlah masih selamat.

3. Menemukan “rumah” citarasa Indonesia di Hong Kong

Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong sangat banyak. Ada sekitar 170.000 orang. Mereka bekerja pada majikan sebagai pembantu, pengasuh anak, atau lainnya. Dengar-dengar, gaji terendah mereka adalah 7 juta rupiah per bulan. Dengan gaji sebesar itu, sepertinya TKI di sana cukup sejahtera. Apalagi biaya hidup ditanggung majikan. Tak heran banyak yang betah di sana. Sejumlah TKI yang saya temui bahkan sudah bekerja selama 10-20 tahun. Mereka seolah sudah punya wilayah sendiri. Saat pergi ke daerah Causeway Bay, saya melihat banyak TKI. Sebagian memakai kerudung, jadi mudah dikenali. Dandanannya pun modis-modis. Mengenakan baju bergaya dengan make up lengkap. Cara jalannya juga cepat, mungkin karena sudah biasa berjalan di Hong Kong.

Ada alasan kenapa banyak TKI berkumpul di daerah Causeway Bay. Sebab di sana ada Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI). Salah satu tugasnya adalah mengelola kesejahteraan TKI. Saat saya ke kantornya, ada antrean panjang TKI yang hendak mengurus perizinan. Untung saya bisa langsung masuk untuk bertemu Mas Pangky, Konsul Muda Pensosbud. Beliau sangat luwes dan asyik. Menyambut dengan ramah, lalu mengajak saya memutari KJRI. Saya dikenalkan pada banyak orang. Di antaranya adalah komunitas tari yang beranggotakan TKI. Saat itu mereka sedang berlatih. Namun dengan baik hati, ketuanya menyempatkan diri untuk memberi penjelasan pada saya. Ternyata mereka sering pentas di acara-acara yang diadakan KJRI. Bagi saya ini mengagumkan—selain bekerja jadi TKI, mereka masih aktif berkarya.

Setelah itu, Mas Pangky mengenalkan saya pada istrinya, Mbak Ajeng. Beliau adalah wanita muda yang energik. Langsung gembira saat berkenalan dengan saya. Mbak Ajeng mengajak makan siang di restoran. Kami berdua makan rice noodle dan minum honey lemon yang segar. Lalu sempat belanja jajanan tradisional di pasar. Setelah itu, kami ke Victoria Park dan menikmati pemandangan Hong Kong dari puncak tertinggi. Baru pulang setelah agak malam. Mbak Ajeng dan Mas Pangky menawari untuk menginap di apartemen mereka. Dengan gembira saya pun menyanggupi. Di sana berkenalan dengan anak mereka yang lucu, juga pengurus rumah tangga yang baik. Malam itu saya tidur nyenyak. Paginya sarapan lalu berpamitan.

Dari apartemen mereka, saya pulang ke hostel. Lantas berkemas dan check out. Namun tas ransel masih dititipkan sana, karena saya harus ke sebuah mall untuk bertemu dengan mahasiswa asal Indonesia. Mereka tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hong Kong. Saya janjian dengan tiga di antaranya. Ada Are (ketua), Sena (wakil ketua), dan Melvina (anggota). Kami pun pindah ke Chinese University of Hong Kong yang terletak tak jauh dari sana. Lalu saya mewawancarai mereka tentang pendidikan di Hong Kong. Mulai dari biaya (ternyata memang tinggi, namun masih sesuai standar kuliah luar negeri), beasiswa (belum banyak, tapi KJRI berusaha menambah jumlahnya), dan berbagai kebiasaan kuliah di sana (boleh berpakaian bebas, pakai celana pendek juga oke). Semua bersikap ramah dan sangat membantu. Saya jadi dapat banyak informasi penting.

Setelah selesai wawancara, saya kembali ke hostel untuk mengambil ransel. Lantas pergi ke bandara. Untung masih banyak waktu, jadi tak terburu-buru. Bandara Internasional Hong Kong sangat luas. Ada dua terminal dengan ratusan gate. Saya pun menuju gate yang tertera di tiket. Di dekat sana disediakan banyak sofa, jadi saya duduk dan istirahat. Perlahan mengingat-ingat memori selama lima hari ini. Ada yang menyenangkan, tapi ada juga yang menyulitkan. Berkali-kali harus menghadapi tantangan tak terduga. Namun saya berhasil mengatasi semuanya. Saya pun merasa lebih kuat dan mantap. Itulah keuntungan dari traveling seorang diri. Bagaimana denganmu? Tertarik untuk melakukannya? Lakukan saja! Tak perlu banyak berpikir. Yang paling penting adalah tekad dan keberanian.



Sumber ilustrasi: pinterest.com 

6 comments:

  1. Pandan, kamu keren banget sih. Kalau suatu saat nanti impianku solo travelling tercapai, aku bakal tanya2 ke kamu dulu ya. Aku pengen banget soalnya pergi jauh sendirian :) Thanks for sharing!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak Erny. Siip, semoga segera tercapai. Mbak Erny juga keren, dulu pas ke Jepang banyak nulis di blog. Yang aku suka, tiap tulisannya selalu dilengkapi foto-foto yang kece. Bikin orang jadi makin happy ngebacanya. Aku juga pingin tanya-tanya ke Mbak tentang cara bikin foto yang bagus buat blog.
      Thank you for reading :)

      Delete
  2. keren, baik pengalaman maupun cara berceritanya. Semoga suatu saat bisa bertemu buat bertanya tentang solo travelling dan berbagi cerita terkait banyak hal.
    Btw kalo masih ingat, aku temennya venda anak antro,yg dulu pkm buat berencana buat proyek tentang bahasa bisindo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah ini Dion? Iya, aku masih inget. Dulu kita berempat mau bikin PKM kan, yang sama Astri juga. Udah lama banget ya. Jadi kangen :)
      Makasih banyak udah baca tulisanku. Sip, semoga kita bisa segera ketemu :D

      Delete
  3. sIP! Yang catatan mbolang dalam negeri ada ga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun Mas udah baca :D Yang dalam negeri juga ada, ini pengalaman-pengalaman saya selama KKN sekaligus mbolang di Bali:

      http://www.ratupandanwangi.com/2016/06/bali-dan-kehidupan-kkn.html
      http://www.ratupandanwangi.com/2016/06/perbedaan-bali-dan-jogja-dari-mata.html
      http://www.ratupandanwangi.com/2016/07/lebaran-dan-hidup-beda-agama.html
      http://www.ratupandanwangi.com/2016/07/4-hal-yang-kita-sadari-saat-tinggal.html
      http://www.ratupandanwangi.com/2016/08/3-pengalaman-tak-terduga-selama-saya.html

      Delete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog