Memahami Cinta Beda Agama


Setiap orang punya keunikan, bagai keping-keping puzzle yang menunggu disatukan. Bisa menemukan pasangan yang cocok adalah hal luar biasa. Untunglah cinta mampu menyatukan segala perbedaan. Termasuk perbedaan agama. Saya tak akan membahas apakah itu benar atau salah. Juga tak akan membandingkan cinta pada manusia dengan cinta pada Tuhan. Saya hanya ingin bercerita tentang cinta beda agama.

Kebanyakan teman saya menghindari hal itu. Sejak awal, mereka sengaja memilih pasangan yang satu iman. Tentu dengan banyak pertimbangan masuk akal. Jadi kenapa ada orang-orang yang menjalani hubungan beda agama? Apa alasannya, dan bagaimana cara mereka mempertahankan hubungan? Kali ini saya akan berbagi cerita tentang pasangan beda agama. Mereka adalah teman-teman saya dengan nama disamarkan.

Belum lama ini, saya mendapat kesempatan tinggal di Bali selama dua bulan. Banyak kebudayaan setempat yang bisa dipelajari. Salah satunya tentang memilih pasangan. Ternyata pernikahan di Bali cukup rumit. Mayoritas penduduk beragama Hindu dan mencari pasangan yang satu iman—dan kalau bisa, satu kasta. Ada empat kasta dalam agama Hindu: Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Tingkatan atas cenderung lebih dihormati dan punya kedudukan sosial yang tinggi. Meski sekarang sistemnya lebih terbuka, sebagian masyarakat tetap menghindari pernikahan beda kasta.

Kebetulan saya punya teman perempuan bernama Nyoman. Dia beragama Hindu dan menempati kasta tertinggi. Budaya di keluarganya masih kental, mereka sering mengadakan berbagai upacara adat. Nyoman diharapkan menikah dengan lelaki yang satu kasta. Sebab ada aturan: kalau perempuan menikah dengan lelaki yang berkasta lebih rendah, maka kasta perempuan itu akan turun mengikuti sang lelaki. Pokoknya kasta istri mengikuti suami. Karena itulah Nyoman berhati-hati memilih pasangan. Namun suatu hari, dia jatuh cinta pada Andre, teman saya yang lain. Andre beragama Kristen dan tak punya kasta. Walau begitu mereka berpacaran.

Sejauh pengamatan saya, hubungan mereka menarik. Nyoman dan Andre punya kepribadian yang bertolak belakang. Karena lebih muda dua tahun, Nyoman cenderung lebih kekanak-kanakan. Dia juga galak, jujur, dan apa adanya. Sedangkan Andre lebih lembut dan sabar. Dia sistematis dan teratur, tapi kaku. Perpaduan itulah yang membuat mereka cocok. Saat Nyoman marah, Andre bisa menenangkannya. Lalu saat Andre putus asa, Nyoman bisa memompa semangatnya. Membangun hubungan memang membuat kita dewasa. Namun dalam kasus mereka, Nyoman dan Andre mendapatkan sesuatu yang lebih.

Dalam keseharian, Nyoman taat menjalankan ibadahnya. Dia rajin ke pura dan melakukan berbagai ritual agama. Sedangkan Andre tidak terlalu. Setahu saya, dia jarang ke gereja. Mungkin dia punya cara lain untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Nah, mereka berdua sudah pacaran cukup lama dan mulai membicarakan pernikahan. Tentu terhalang perbedaan keyakinan. Namun Andre bersedia pindah ke Hindu. Nyoman senang mendengarnya, tapi dia tetap dibayangi keraguan. Sebagai orang berkasta tinggi, kalau menikah dengan orang yang aslinya non-Hindu, dia akan menerima sanksi sosial dari keluarga besarnya, seperti dikucilkan.

Andre pun menghadapi masalah. Walau sudah menyanggupi pindah agama, pada kenyataannya hal itu tak mudah dilakukan. Mungkin dia akan dihalangi oleh keluarganya. Atau mungkin sulit menyesuaikan diri dengan keyakinan baru. Namun setahu saya, Andre serius mempelajari agama Hindu. Dia berusaha belajar tentang sistem kasta, sejarah, nama-nama, sampai bahasa Bali. Kami pun pernah menemani Nyoman beribadah di pura. Saat itu saya hanya memakai kain bawahan seadanya, sedangkan Andre memakai atribut lengkap dari kepala sampai kaki.

Sebenarnya Nyoman pernah bercerita. Ada kemungkinan, suatu saat keluarganya akan menjodohkan dia dengan lelaki lain yang beragama Hindu dan sekasta. Tentu itu akan memudahkan segalanya. Dia tak perlu turun kasta dan tak perlu dikucilkan. Namun dari pengamatan saya, Nyoman masih ragu. Dia kelihatan sangat menyayangi Andre. Terlebih Andre mau berkorban untuknya—bahkan sampai menemui keluarganya dan melewatkan liburan bersama mereka.

Saat ini Nyoman dan Andre masih bersama. Dengan toleransi yang kuat, mereka bisa hidup berdampingan meski berbeda agama, suku, dan budaya. Saya sungguh salut pada mereka. Sebab menjalin hubungan beda agama tidaklah mudah. Dalam prosesnya, kita akan menghadapi berbagai tantangan. Kita akan ragu pada diri sendiri, keluarga, pasangan, dan mungkin pada agama juga. Rasanya campur aduk. Kadang menyenangkan, kadang menyakitkan. Satu hal yang pasti, hubungan beda agama akan mendewasakan kita.



Sumber ilustrasi: pinterest.com 

1 comment:

  1. Hanya satu pertanyaan, kenapa mereka bisa satu hati tapi tak bisa satu keyakinan? ��

    ReplyDelete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog