Memahami Cinta Beda Agama (2)


Akhir tahun lalu saya menulis tentang cinta beda agama (bisa dibaca di sini). Tak lama setelah merilisnya, seorang kawan menghubungi saya. Sebut saja Johan. Ternyata dia membaca tulisan itu. “Cinta beda agama memang mendewasakan kita,” katanya setuju. Namun ada secercah sedih yang melintas. Benar saja, Johan bercerita tentang pengalamannya sendiri. Ternyata beberapa hari sebelumnya, dia putus dengan sang pacar. Padahal sudah pacaran selama beberapa tahun. Bahkan sedang sayang-sayangnya. Lantas kenapa putus? Ternyata karena beda agama. Johan beragama Katolik, pacarnya Islam.

Cinta beda agama memang bikin bingung. Sebagian orang lebih suka menghindarinya. Sejak awal, mereka berusaha pacaran dengan orang yang seiman. Jadi tak perlu was-was bakal berpisah karena agama. Namun, kita tak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Sebab cinta terjadi begitu saja—cepat, mendadak, dan seringkali sulit dihentikan. Mungkin itulah yang terjadi pada Johan dan pacarnya. Mereka jatuh cinta dan menjalin hubungan. Seiring berjalannya waktu, muncul harapan ke jenjang selanjutnya: pernikahan. Namun terhalang perbedaan agama.

Pacar Johan, sebut saja Salma, berasal dari keluarga yang Islamnya kuat. Saya tak pernah bertemu dengannya. Namun dari sejumlah cerita, tampaknya Salma adalah perempuan yang baik. Berkerudung seperti muslimah pada umumnya. Sedangkan Johan lahir di keluarga Katolik. Pernah belajar di institusi Katolik selama bertahun-tahun. Saya tak tahu seperti apa mereka saat pacaran dulu. Dari cerita Johan, tampaknya bisa saling toleran. Menghormati agama dan keyakinan masing-masing. Saya salut sekali, sebab tak banyak orang bisa melakukannya.

Masalah terjadi saat wacana pernikahan muncul. Johan dan Salma memang sudah cukup umur untuk menikah. Kebetulan ajakan datang dari Salma. Dia sudah berdiskusi dengan keluarganya. Mereka setuju, asal Johan mau pindah agama jadi Islam. Waduh. Johan tak berkenan melakukannya. Tentu dia menyayangi Salma—tapi saat agama jadi pertaruhan, pasti berat sekali. Pada akhirnya mereka memilih untuk putus. Saling melepas, lantas melanjutkan hidup masing-masing. Barangkali dengan hati yang hancur.

“Rasanya memang sakit, tapi mau bagaimana lagi,” kata Johan suatu hari. Saya jadi ikut sedih. Sebenarnya, saya dan Johan mengalami hal yang mirip. Kami sama-sama putus karena beda keyakinan. Namun kasus saya lebih ringan, sebab hanya pacaran beberapa bulan. Bukan beberapa tahun seperti Johan. Tapi karena lebih muda dan labil, saya kebingungan. Dulu saya pikir cinta bisa menang di atas segalanya—mulai dari keluarga, jarak, usia, sampai perbedaan agama. Ternyata tidak. Ada hal-hal yang tak bisa diubah. Tak bisa dikalahkan. Cintalah yang harus mundur dan pergi.

Di saat seperti itu, kita tak perlu memaksakan diri. Berhentilah berjuang kalau hanya menoreh luka. Lebih baik belajar melepas. Belajar memaafkan. Belajar merelakan supaya perasaan jadi damai. Seperti kata Kahlil Gibran, “If you love somebody, let them go. If they return, they were always yours. And if they don't, they never were.”

Pacaran beda keyakinan memang berisiko. Namun saya tetap mau menjalaninya. Sebab di balik semua risiko itu, ada manfaat yang besar. Tentu ini beda-beda untuk setiap orang. Buat saya, perbedaan agama justru membuat hubungan lebih bermakna. Lebih luas dan warna-warni. Kalau Anda tak setuju ya tak mengapa—toh tiap orang punya keyakinan sendiri. Apa semua hubungan beda agama pasti berakhir gagal? Tidak. Kalau memang ditakdirkan, pasti akan bersama. Buktinya banyak pasangan beda agama yang menikah. Salah satunya adalah paman dan bibi saya. Mereka bisa membangun keluarga dengan bahagia dan baik-baik saja.

Bagaimana agar berhasil dalam hubungan beda agama? Menurut saya, yang penting adalah memilih pasangan dengan tepat. Some people will only love you as long as you fit in their box. Kalau mau hidup bersama, penyesuaian diri memang perlu. Tapi jangan melakukan perubahan yang membuat kita kehilangan diri sendiri. Pilihlah orang yang toleran. Yang mau menerima apa adanya. Yang menghormati walau beda keyakinan. Selamat berusaha!



Sumber ilustrasi: pinterest.com 

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog