Hanya Anak-anak yang Menghitung Domba


Saat masih kecil, tontonan favorit saya adalah Mr. Bean. Lelaki itu sangat unik, lucu, dan tak bisa ditebak. Menonton tingkahnya adalah hiburan saya sehari-hari. Dalam salah satu episode, diceritakan kalau Mr. Bean tidak bisa tidur. Hari sudah larut malam tapi dia malah insomnia. Supaya mengantuk, dia pun mengambil gambar sekumpulan domba, lantas menghitungnya satu per satu. Barangkali sejak itulah saya ikut-ikutan menghitung domba kalau sulit tidur.

Namun kebiasaan itu sudah lama terlupakan. Saat beranjak dewasa, saya lebih suka tidur ditemani buku, ponsel, atau laptop. Kadang malah hanya ditemani pikiran-pikiran sendiri. Yang jelas saya sudah berhenti menghitung domba. Tapi belum lama ini, saya teringat kembali setelah melihat ilustrasi buatan @fauzanrodhi. Dia menggambar dua ekor domba dan mencantumkan kata-kata Chris John: Only kids count sheep to fall asleep. Count your debts, your mistakes, your heartache and cry yourself to sleep like a grown up.

Kutipan itu membuat saya terhenyak. Rupanya usia telah mengubah kita. Mengubah pemikiran, kebiasaan, dan mimpi-mimpi. Dulu hidup kita sangat sederhana. Yang perlu dihitung hanyalah domba-domba menjelang tidur. Namun saat beranjak dewasa, begitu banyak yang harus kita hitung: tagihan, kesalahan yang kita perbuat, masalah yang memusingkan, dan sebagainya. Sampai tidur tak lagi mendamaikan. Kadang kita justru menangis dan tak bisa terlelap. Barangkali berharap waktu berjalan mundur, supaya masa kecil bisa kembali.

Kadang beranjak dewasa memang terasa menyeramkan. Sebab lebih banyak tanggung jawab. Lebih sedikit pemakluman. Mau tak mau kita harus keras pada diri sendiri. Berusaha melakukan yang penting, walau tidak ingin. Berhubungan dengan orang tertentu, walau tidak ingin. Meninggalkan kebiasaan, walau tidak ingin. Semua demi kehidupan yang lebih baik. Awalnya memang terasa berat. Namun seiring bertambahnya usia, kekuatan kita pun bertambah.

Saat ini, saya beruntung karena masih menyandang status aman: mahasiswa. Itu berarti saya bisa belajar dan berkarya tanpa terlalu memusingkan hal lain. Namun keadaan ini tak berlangsung selamanya. Tahun depan, saya berencana untuk lulus. Target saya adalah punya pekerjaan tetap sebelum wisuda. Saya juga ingin meraih kebebasan finansial secepat mungkin, supaya bisa hidup sendiri dan membiayai keluarga. Sepintas terlihat sederhana. Namun kalau dilakukan mungkin tidak sesimpel itu.

Saat membayangkan masa depan, ada kalanya kita takut bertumbuh. Takut mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Ngeri membayangkan tantangan yang makin sukar. Namun santai saja. Kalau terlalu tegang dan serius, kita malah jadi orang dewasa yang membosankan. Tak selamanya bertumbuh itu berat. Kalau disikapi dengan santai, kita bisa menikmati setiap langkahnya. Bisa mensyukuri semua yang ada dan terjadi.

Saya suka memerhatikan orang dewasa yang menikmati hidup. Salah satunya adalah dosen saya sendiri. Perempuan ini berusia sekitar 30 tahun. Belum punya pasangan dan sepertinya tak berniat cepat-cepat menikah. Beliau pernah berkata kalau ingin fokus ke pendidikan dulu. Dengan latar belakang S1 dan S2 yang keren, rupanya masih ingin lanjut ke S3. Namun yang paling saya sukai, beliau terlihat menikmati hidupnya. Sehari-hari bersikap ceria dan suka melucu. Dari obrolan dan foto-foto yang diunggahnya di Instagram, saya mendapat kesan kalau beliau mensyukuri berbagai hal seperti keluarga, makanan, olah raga, teman, dan sebagainya.

Menurut saya, seperti itulah orang dewasa yang keren. Punya mimpi-mimpi yang ingin dicapai. Berupaya untuk menuju ke sana. Serius tapi tetap santai. Bertumbuh tanpa melupakan akar. Ternyata, kita bisa menjadi dewasa tanpa melupakan sisi kanak-kanak. Terkadang justru sisi itulah yang membuat hidup lebih berwarna. Jadi kita bisa berusaha sepanjang hari dengan sekuat tenaga—lalu saat tiba waktunya tidur, tak ada salahnya menghitung domba.



Sumber ilustrasi: pinterest.com 

2 comments:

  1. Melepas status yang 4 tahun sudah nempel di diri kita memang nggak semudah melepas status 6 tahunny anak SD yah. Aku juga mengalami deg-deg an yang sama menjelang kelulusan ini. Ngomong-ngomong, waktu itu Mr. Bean ngitung dombanya curang, pakai kalkulator nggak sih? hehehehe. Baca tulisan ini bikin aku jadi ingat ada yang bilang, bekerjalah seperti orang dewasa, tertawa dan bersenang-senanglah seperti anak kecil :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya, soalnya kenangan di kampus lebih banyak dan berkesan. Kadang takut buat ninggalin itu semua, tapi masa depan pasti lebih indah. Semangat ngampus sampai akhir ya! 😄

      Wkwkw aku udah lupa malah. Betuul, biar hidupnya tetep seimbang. Bisa berprestasi & bahagia 😊 Makasih ya udah baca tulisan ini dan ngasih komentar~

      Delete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog