Ketika Lelaki Curhat tentang Cinta


Kadang teman-teman lelaki saya curhat tentang hubungan cinta. Bagi mereka, perempuan itu agak membingungkan. Suatu saat begitu manis dan perhatian. Namun tiba-tiba berubah sensitif dan mudah marah. Kadang mengejar, kadang ingin dikejar, kadang lenyap tanpa alasan. Banyak teman yang pusing menebak-nebak. Maka mereka curhat pada saya. Seperti apa sih lelaki saat curhat? Macam-macam. Ada yang bicara seadanya dan tepat sasaran. Ada yang bercerita lengkap mulai dari perkenalan, pendekatan, pacaran, putus, balikan, lalu putus lagi—panjang pokoknya. Bahkan ada yang memperlihatkan foto sang perempuan. Tak lupa media sosial dan screenshoot pembicaraan mereka di ponsel. Komplit! Ternyata, curhatan lelaki tak kalah dari perempuan.

Salah satu teman saya—sebut saja Latifcurhat saat mendekati seorang perempuan macho. Suara si perempuan memang agak berat. Sehari-hari terkesan kuat dan mandiri. Dia berbicara dengan tegas dan sepertinya tak segan-segan berkonfrontasi. Sedangkan teman saya kebalikannya: sensitif dan mudah galau. Sebenarnya fisiknya kuat, tapi entah kenapa auranya terkesan lemah. Nah, Latif takut kalah macho dari dari perempuan impiannya. Dia pun berusaha tampil lebih keren—memberat-beratkan suara, bersikap gentleman, dan berusaha sok kuat di segala situasi.

Saya agak khawatir dengan cara Latif melakukan pendekatan. Seolah dia memaksakan diri. Lantas saya berkata padanya, “Oke, kamu memang terlihat keren. Tapi yang kamu perlihatkan ke dia bukan dirimu yang sebenarnya. Bukan berarti kamu nggak keren, tapi kamu punya kelebihan lain yang bisa ditonjolkan. Kalau aku sih suka sama kelembutan hatimu. Kamu perhatian dan bisa membuat perempuan-perempuan merasa nyaman. Kenapa nggak manfaatkan itu buat mendekati dia?”

Di kesempatan lain, ada teman lagi yang meminta saran, sebut saja Dion. Dia mendekati seorang perempuan yang baik hati dan manis. Sayang banyak orang berpikiran sama. Perempuan ini sangat populer, bahkan didekati beberapa lelaki sekaligus. Namun tampaknya paling tertarik pada teman saya itu. Mereka pun jadian. Walau begitu, Dion tetap merasa tak aman. Dia takut kalau sang pacar membuka hatinya pada orang lain. Maka dia mengecek pesan-pesan yang masuk untuk pacarnya. Juga berusaha menunjukkan dominasinya di depan para lelaki. 

Saya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dion. Dengan prihatin saya berkata, “Kasihan tuh pacarmu. Kalau aku jadi dia, pasti rasanya sedih karena seolah nggak dipercaya sama kamu. Inti dari pacaran kan saling percaya. Kamu perlu memberi dia ruang gerak. Pasti dia juga nggak nyaman kalau dipantau terus-terusan. Memang sih kalian pacaran, tapi juga berhak menikmati hidup sendiri. Kalau dia beneran sayang—sebanyak apa pun lelaki yang mendekati—dia bakal tetap pilih kamu.”

Lain lagi dengan kisah Nino. Hubungan dengan pacarnya sudah di ujung tanduk. Dari luar, tampaknya mereka berdua baik-baik saja. Namun Nino punya banyak ganjalan. Walau pacarnya seumuran, ternyata sifatnya jauh lebih kekanak-kanakan. Cenderung manja dan tak peka. Padahal Nino adalah tipe orang yang gemar blusukan. Cerdas, kritis, dan suka tantangan. Dia merasa kalau pacarnya menghambat perkembangan. Nino ingin putus, tapi tak tega kalau melakukan begitu saja. Sebab sang pacar sangat bergantung padanya. Bisa hancur nanti kalau ditinggal.

Saya hanya menghela napas dalam. Dengan berat berkata, “Hubungan yang didasari rasa kasihan nggak akan bertahan lama. Sampai kapan mau begitu? Kamu hanya menyiksa diri sendiri. Nggak bagus juga buat pacarmu. Kalau memang harus, putuskan saja. Tapi dengan baik-baik. Perlahan. Mungkin kamu bisa melatih mentalnya dulu. Jadi saat ditinggal, dia nggak akan terpuruk. Perempuan itu kuat kok. Patah hati justru membuat kami lebih dewasa.”

Itulah sebagian curhat dari lelaki. Saat bercerita, mereka cenderung fokus pada solusi. Bagaimana kalau yang curhat perempuan? Dijamin lebih seru dan panjang. Kalau ada dua perempuan atau lebih curhat tentang cinta, dijamin bisa makan waktu berjam-jam. Dimulai dengan membahas perkembangan terakhir dengan si lelaki, respons yang dia berikan, penampilannya, kelebihannya, kekurangannya, keluarganya, cita-citanya, prospek masa depan, dan banyak lagi. Sebagian perempuan memang suka mengobrol tentang ini. Jadi, wahai para lelaki, berhatilah-hatilah saat mendekati seorang perempuan. Dijamin teman-teman terdekatnya tahu segala hal tentangmu. 



Sumber ilustrasi: pinterest.com 

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog