4 Filosofi Sederhana tentang Hidup Kita


Sebelum menulis di blog ini, saya mengisi beberapa blog lain. Salah satunya bernama Pleasure of Thinking. Wadah itu dibuat untuk menampung pemikiran saya yang membludak. Sebab, manusia berpikir rata-rata 70.000 pikiran per hari. Sayang kalau dilupakan begitu saja. Maka saya menuliskannya supaya abadi. Nah, berikut ini adalah empat tulisan singkat yang pernah saya buat di Pleasure of Thinking. Semua ditulis pada tahun 2012 – 2013. Berisi filosofi sederhana tentang keseharian kita. Selamat menikmati!

Kiat Konsisten Melaksanakan Resolusi Tahun Baru

Pada momen tahun baru ini, Anda tentu membuat target-target atau resolusi. Mungkin Anda bertekad meningkatkan kemampuan tertentu atau melakukan suatu hal. Untuk mewujudkannya, yang dibutuhkan adalah konsistensi. Sebab sikap konsisten dapat melancarkan langkah-langkah Anda. Sayang, biasanya konsistensi hanya bertahan di awal. Lantas bagaimana cara menjaga konsistensi? Pada kesempatan kali ini saya akan membahas satu kiat efektif.

Dalam situasi apakah Anda terus berlari? Saat dikejar anjing. Sebab tak ada pilihan kecuali berlari—kecuali Anda ingin digigit. Begitu pula dengan melaksanakan resolusi tahun baru. Supaya konsisten, Anda harus memposisikan diri sebagai pihak yang dikejar. Siapa pihak yang mengejar? Bisa siapa saja atau apa saja. Anda yang masih muda bisa membayangkan dikejar oleh waktu. Sebab untuk meraih kesuksesan sebanyak mungkin, Anda harus mulai sukses sedini mungkin. Sedangkan apabila ingin lebih dekat dengan Tuhan, bayangkanlah Anda dikejar oleh manusia. Sebab cara mendekatkan diri dengan diri dengan Tuhan adalah terlebih dahulu mendekatkan diri pada manusia.

Bayangkanlah dengan jelas tekanan saat Anda dikejar dan rasa takut apabila tertangkap. Ulanglah bayangan tersebut hingga Anda merasa tak ada pilihan kecuali tetap berlari—atau dalam kasus ini, tetap berusaha. Dijamin Anda akan konsisten dalam melaksanakan resolusi tahun baru. Cara ini memang agak memaksakan diri, tetapi apa lagi yang bisa dilakukan untuk menghapus rasa malas? Kalau menunggu sampai mood baik atau sampai kondisinya pas, Anda malah tak akan melakukan apa-apa. Sebab sesungguhnya tak ada waktu yang paling tepat untuk melaksanakan segala sesuatu. Maka bertindaklah. Sekarang!

Bahaya Perfeksionisme bagi Anak Muda

Perfeksionis—sifat yang menginginkan segalanya sempurna—merupakan poin penting untuk memaksimalkan kerja. Namun sifat tersebut cenderung berbahaya bagi anak muda. Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin selagi muda, begitu nasihat orang-orang tua. Anak muda memang memiliki energi yang sangat besar untuk belajar. Ingatan juga belum tumpul. Selain itu, mereka memiliki ketertarikan berlebih untuk mempelajari hal-hal baru. Maka tak berlebihan apabila saya katakan masa muda merupakan masa yang paling baik untuk belajar.

Dalam belajar dibutuhkan sifat-sifat yang memaksimalkan proses tersebut, seperti disiplin, konsisten, sabar, dan sebagainya. Bagaimana dengan perfeksionis? Saya tak menganjurkannya, sebab sifat tersebut justru menghambat pembelajaran. Akibat menginginkan segala sesuatunya sempurna, jumlah waktu belajar menurun. Padahal sebenarnya kemahiran timbul berkat kuantitas—bukan kualitas.

Contohnya adalah pelukis. Apabila seorang pelukis muda mempunyai sifat perfeksionis, dalam sebulan ia hanya hanya akan berkutat mengerjakan satu karya. Sedang pelukis muda yang tidak perfeksionis dapat menghasilkan tiga puluh karya dalam sebulan. Dengan banyaknya pengalaman, kemampuannya justru lebih cepat matang daripada pelukis yang perfeksionis. Jadi apabila Anda seorang anak muda, belajarlah sebanyak mungkin tanpa terlebih dahulu memperhatikan kualitas. Kualitas akan menyusul belakangan.

Pilih Jadi Ekor Naga atau Kepala Cacing?

Kadangkala dalam tes wawancara Anda menjumpai pertanyaan, “Pilih jadi ekor naga atau kepala cacing?” Anda tentu ingin memberikan jawaban terbaik, begitu pula saya.

Menjadi ekor naga, berarti Anda adalah orang yang dipimpin. Anda hanya bawahan, tetapi tak sekadar bawahan—Anda naga. Sebagai contoh, Anda adalah pegawai dengan posisi rendah di suatu perusahaan ternama. Posisi Anda memang rendah dan mungkin Anda tak “terlihat”. Namun Anda berada di perusahaan ternama; Anda bisa belajar banyak dan diuntungkan oleh segala fasilitas di sana.

Menjadi kepala cacing, berarti Anda adalah pemimpin. Namun Anda hanya cacing; tak banyak yang bisa diperbuat oleh cacing. Sebagai contoh, Anda adalah pimpinan sebuah perusahaan kecil. Anda tak memperoleh banyak fasilitas. Namun Anda bisa berbuat sekehendak hati; Anda bebas, tak ada yang memerintah.

Jadi, mana yang lebih baik? Menjadi ekor naga? Menjadi kepala cacing? Kesimpulan saya, tak ada yang lebih baik. Dua-duanya sama baik… tergantung pada letak kekuatan setiap orang.

Mewaspadai Pembohong dan Penipu

Di tengah tuntutan moral, ada saja orang-orang yang membelot. Pembohong dan penipu adalah contohnya. Keduanya berbahaya untuk Anda. Bagaimana cara mewaspadainya? Sebelumnya, saya akan memberikan penjelasan mengenai pembohong dan penipu.

Pembohong bagaikan singa. Ia berbahaya, tetapi cenderung bermain “kasar” sehingga mudah ditebak. Pembohong biasanya akan menempatkan Anda pada situasi yang tidak nyaman supaya Anda tidak sempat berpikir logis. Pembohong hanya ingin mendapat keuntungan instan sehingga biasanya ia tidak menjaga perasaan Anda.

Penipu bagaikan ular. Ia lebih berbahaya daripada pembohong karena cenderung bermain “halus” sehingga kewaspadaan korban berkurang, tahu-tahu saja ia sudah diserang. Menipu adalah pekerjaan jangka panjang. Seorang penipu mau repot-repot mengakrabkan diri dengan korbannya supaya ia mendapat kepercayaan. Itulah gawatnya—kalau korban sudah percaya pada penipu, ia tak akan sadar pada identitas asli si penipu walaupun sudah ditipu berkali-kali.

Nah, bagaimana cara mewaspadainya?

Menghadapi pembohong, Anda hanya perlu berpikir logis dan jangan terbawa situasi. Karena biasanya tidak direncanakan dengan baik, kebohongan memiliki banyak celah—kata-kata yang tidak logis, kurangnya kelengkapan pendukung kebohongan, dan sikap si pembohong yang janggal. Favorit saya adalah yang terakhir. Manusia memiliki beberapa kebiasaan saat berbohong: mata melihat ke kanan atas, memegang wajah, bernapas lebih cepat, mengetuk-ngetukkan kaki dan sebagainya. Anda tinggal mengeceknya.

Sedangkan cara untuk mewaspadai penipu… dengarkan kata-kata orang di sekitar Anda! Penipu biasanya sangat lihai berpura-pura menjadi teman Anda sehingga Anda tidak merasakan ancaman apa pun. Anda akan dibuatnya terlena. Oleh karena itu, apabila ada orang—terutama yang dekat dengan Anda—memberi peringatan mengenai seseorang yang Anda rasa sangatlah-bukan-penipu, jangan langsung mengabaikannya. Coba cek kebenarannya terlebih dulu.

Hidup ini tak seaman yang Anda kira. Terhadap siapapun yang Anda hadapi, sebaiknya pasanglah mata, telinga, dan perhatikan insting Anda.



Sumber ilustrasi: pinterest.com 

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog