Horor Itu Bernama Matematika


Dulu sekali saya pernah suka Matematika. Saat masih SD dan SMP, materinya memang mudah. Namun bagaimana setelah SMA? Matematika terasa seperti horor. Terutama saat kelas 3 SMA. Saat itu saya dan teman-teman dikuasai semangat yang berkobar. Mimpi-mimpi mulai jelas terbentuk dan kami tak sabar untuk menyongsong. Ada yang ingin jadi duta besar, akuntan, dokter, guru dan sebagainya. Sedangkan saya ingin menyelam makin dalam ke dunia seni. Namun sebelum bisa mewujudkan mimpi-mimpi itu, kami harus melewati tantangan yang mahadahsyat: Ujian Nasional (UN) dan seleksi masuk perguruan tinggi.

Khusus siswa kelas 3 di sekolah saya, tiap hari kegiatan belajar mulai pukul 06.30. Sebab ada Pemantapan Mental dan Ketrampilan Teknis (PMKT), yaitu latihan tes masuk perguruan tinggi. Kami diberi soal-soal yang sungguh mengerikan tingkat kesulitannya. Seringkali saya hanya melongo membaca kertas soal, tak tahu jawabannya sama sekali, padahal sudah belajar. Apalagi saat Matematika. Materi yang dipelajari dan yang keluar di soal jauh berbeda. Menjawab asal pun sungkan. Sebab tiap kali salah, nilai dikurangi 1 poin. Saya pernah nekat menjawab asal-asalan—hasilnya nilai saya minus. Jadi kalau pikiran sudah blank, saya hanya menulis nama dan nomor absen di kertas jawaban. Masih lebih baik dapat nilai nol...

Setelah selesai sekolah, saya beristirahat sebentar lalu pergi les. Sepulang les belajar lagi di rumah. Rasanya saat itu kegiatan saya hanya belajar, belajar dan belajar sampai muak. Dari tempat les, saya mendapat beberapa buku berukuran bantal yang kalau ditumpuk tingginya mencapai setengah meter. Dari sekolah pun saya mendapat entah berapa ratus lembar kertas soal. Semua berusaha saya khatamkan. Teman-teman juga berusaha keras, jadi saya tak mau kalah. Nilai-nilai pun membaik. Saya makin menguasai Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Sejarah, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Namun saya tetap sangat kesusahan dalam Matematika.

Matematika adalah pelajaran yang menyeramkan bagi kebanyakan pelajar, tak terkecuali saya. Terutama kalau yang mengajar Bu Murni, guru jenius yang biasanya mengajar kelas akselerasi. Beliau mengajar dengan kecepatan super. Saya harus benar-benar memerhatikan penjelasannya—lengah sedikit saja, pasti ketinggalan. Masalahnya kecepatan pemahaman saya agak kalah dibanding teman-teman. Misalnya saat mengerjakan soal. Saat teman-teman sudah sampai soal nomor 5, saya masih berkutat di nomor 1... dan Bu Murni sudah menyuruh saya maju mengerjakan nomor 7. Hidup ini kadang-kadang memang menyeramkan.

Namun saya menolak pasrah. Kalau tidak bisa Matematika, saya harus belajar sampai bisa! Maka saya berusaha menerjemahkan Matematika ke bahasa yang mampu dipahami. Deretan angka yang tak manusiawi diubah jadi kalimat-kalimat singkat. Rumus yang banyak dan rumit pun disederhanakan. Buku catatan juga dicorat-coret dengan beragam warna. Dengan adanya berbagai warna dan bentuk, Matematika lebih mudah masuk ke otak saya. Ternyata kecerdasan tiap orang memang berbeda. Supaya lancar menghitung, otak kanan saya perlu diaktifkan juga. Untung sadar. Dengan strategi itu, saya makin semangat melahap buku kumpulan soal. Semua dibabat habis dan diulang terus sampai hafal.

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Akhirnya UN pun berlangsung. Saat mengerjakan Matematika, saya sempat grogi dan tak percaya diri. Namun perasaan itu segera ditepis. Saya ingat-ingat saja perjuangan selama ini. Kerja keras tak akan mengkhianati hasil. Dengan keyakinan itu, ujian pun selesai dengan lancar. Saatnya menunggu hasil. Beberapa bulan kemudian, hasil secara umumnya keluar. Sekolah saya—SMAN 1 Teladan Yogyakarta—mendapat nilai rata-rata keseluruhan tertinggi se-DIY, baik jurusan IPA maupun IPS. Semua lulus dengan standar yang tinggi. Horeee!!! Angkatan kami langsung bersorak sorai dan sujud syukur.

Namun itu barulah hasil awal. Masih ada hasil individu yang akan diumumkan. Saat waktunya tiba, perut saya mulas. Jantung berdebar tak karuan. Bagaimana kalau nilai-nilai saya jelek? Bagaimana kalau paling rendah seangkatan? Bagaimana kalau…? Dengan berbagai pertanyaan di kepala, saya pun membuka amplop pengumuman. Menarik kertas di dalamnya. Satu demi satu nilai ujian saya terlampir, tapi lewati saja… langsung cari Matematika. Ya, itu dia. Setelah belajar keras berbulan-bulan… nilai Matematika saya adalah… SEPULUH. Sempurna! Meledaklah kegembiraan saya.



Sumber ilustrasi: pinterest.com 

2 comments:

  1. Keren pandan! Aku belum berhasil menaklukkan matematika. Padahal rasanya hidupku kelas SMA isinya belajar matematika. Mulai dari les di sekolah, les sama guru matematika di rumah, les di bimbel. tapi nggak masalah, mungkin kurang giat! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wooow keren usahanya Mbak, sampai les di rumah juga. Nggak papa kalau belum berhasil. Tiap orang punya kecerdasan yang beda. Dibanding hitung-hitungan, mungkin Mbak Erny lebih menonjol di bidang lain. Tetap semangat & tekuni apa yang penting buat kita :)

      Anyway, makasih udah ngikutin tulisanku dan sering ngasih komentar. Itu bikin makin semangat nulis :D

      Delete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog