Ada 1001 Cara Bertemu dan Tuhan Tahu Waktu yang Tepat


Pertemuan itu misterius. Seringkali tak terduga. Ada yang berkenalan dengan kita lalu pergi begitu saja. Ada yang tetap tinggal. Ada yang memberi manfaat besar, ada yang hanya lewat. Tak sedikit pula yang menoreh luka. Sebetulnya, kenapa kita bertemu seseorang? Pasti ada alasannya. Ada pula momentumnya. Tuhan tahu waktu yang tepat untuk mempertemukan manusia. Selama ini banyak orang yang sudah dimunculkan dalam hidup kita. Kelak lebih banyak lagi yang menyusul. Berikut ini adalah berbagai jenis orang dan alasan kehadirannya…

Orang yang tak terduga bisa memberi manfaat sangat besar

Kadang hidup kita berubah karena seseorang. Mungkin dia adalah kerabat jauh yang terlupakan. Atau kenalan lama yang sudah bertahun-tahun tak ditemui. Bisa juga teman dari internet. Siapapun bisa memberi manfaat besar pada hidup kita. Entah menolong saat kesulitan, menawarkan peluang, atau menjalin hubungan sampai pernikahan. Sebagian yang mengelilingi kita adalah orang-orang hebat. Barangkali belum tahu siapa saja. Yang penting adalah membuka diri agar berbagai kemungkinan bisa menghampiri. Saat tiba waktunya, Tuhan akan mendekatkan kita pada orang yang tepat.

Orang yang paling kita sayangi bisa menyakiti sangat dalam

Kasih sayang yang terlalu dalam bisa membuat kita terluka. Kadang kita lemah di depan orang tersebut. Saat dia menyakiti, mungkin kita membelanya dengan berbagai pembenaran. Atau pasrah saja dihantam sampai hati babak belur. Ada juga kemungkinan lain—saya mengingatnya dari novel Petir karya Dee Lestari. Pernahkah kita merasa rela mati demi seseorang? Entah keluarga, pasangan, atau sahabat? Coba pertimbangkan lagi. Sebab kalau ada apa-apa dengan mereka, kita akan merasakan dua kali lipatnya. Mereka bahagia, kita lebih bahagia. Mereka merana, kita menderita setengah mati. Itulah konsekuensi menyayangi orang.

Orang yang bertemu sekilas bisa meninggalkan banyak kesan

Kadang pertemuan berlangsung sangat cepat. Entah saat duduk bersebelahan di bus atau berpapasan di suatu acara. Namun kuantitas tak selalu menentukan kualitas. Orang yang hanya kita temui sekali bisa meninggalkan banyak kesan. Misalnya saja seseorang yang pernah dikenalkan pada saya. Sepanjang pembicaraan, dia selalu tersenyum dan menebar aura positif yang murni. Senyumnya melengkung alami mengikuti gestur tubuh—seolah bibirnya punya gravitasi sendiri. Sampai sekarang masih berkesan. Tiap kali susah senyum, saya akan membayangkan orang itu. Lantas bisa tersenyum lagi dengan energi yang baru.  

Orang yang selalu ada bisa pergi begitu saja

Perpisahan memang tak mudah. Walau tak disukai, hal itu tetap saja terjadi. Tak ada yang selamanya bisa bersama kita. Punya sahabat erat di sekolah? Setelah lulus, mungkin sulit untuk menemuinya lagi. Kesibukan memperlebar jarak. Sekalipun tinggal di kota yang sama—kalau tak benar-benar meluangkan waktu—kita tak akan bertemu. Apalagi kalau terpisah karena cinta berakhir. Seketika pacar bisa jadi mantan. Yang dulu selalu ada di samping kita, tahu-tahu jadi yang paling jauh. Yang paling dikenal mungkin jadi asing lagi. Yang begitu berharga bisa terlupakan oleh waktu. Hubungan antarmanusia itu rapuh. Supaya bisa bertahan, kita harus membangun hubungan yang erat dengan diri sendiri.

Orang yang tampaknya kekal, suatu saat pasti meninggal…

Jangan sampai menyesal. Temuilah seseorang sebelum terlambat. Lakukan sesuatu baginya sebelum dia meninggal. Kematian adalah hal yang pasti. Tak terlihat namun selalu mendekat. Selama saya hidup, ada sejumlah orang berharga yang telah meninggal. Padahal saya belum sempat bertemu untuk terakhir kalinya. Mengucap selamat tinggal pun tak bisa. Sekali mereka pergi, kita tak bisa menemuinya lagi. Namun tak perlu merasa kesepian. Ada jalan yang bisa menghubungkan dua alam, yaitu doa. Panjatkanlah doa untuk orang-orang yang meninggal lebih dulu.

Orang yang entah siapa, mungkin berharap bertemu dengan kita

Ada jutaan orang yang belum kita temui. Baik lelaki maupun perempuan, tua maupun muda. Saat ini, mungkin mereka berada di tempat yang jauh. Entah di kota lain atau negara yang berbeda. Namun suatu saat jarak itu akan terhapus. Atau mungkin, mereka sudah berada sangat dekat dengan kita. Barangkali hanya terpisah dua kompleks rumah. Atau sering berpapasan di suatu tempat, tapi belum waktunya berkenalan. Bagaimana dengan kita berdua? Apakah saya pernah bertemu denganmu? Atau kamu pernah bertemu dengan saya? Siapapun dirimu, saya harap kita bisa bertemu suatu saat. Mungkin ditemani dua cangkir teh. Mengobrol dan membahas banyak hal. Kalau Tuhan mengizinkan, kita akan mengubah hidup satu sama lain. Sampai jumpa.



Sumber ilustrasi: pinterest.com 

2 comments:

  1. Tuhan tahu waktu yang tepat untuk mempertemukan manusia.

    #Gleges

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Kalau bukan sekarang, mungkin besok. Bisa juga bulan depan, tahun depan, atau entah kapan. Tiap pertemuan punya waktunya sendiri :)
      Saya tak tahu siapa kamu, tapi terima kasih sudah baca dan komentar :)

      Delete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog