Sekarung Kentang Busuk yang Kita Seret ke Mana-mana


Sebelum keluar rumah, setiap hari saya bercermin. Menatap bayangan diri sendiri. Lantas tersenyum lebar dan gembira. Kebiasaan ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menjadikan saya orang yang murah senyum. Banyak orang heran karena saya selalu tampak ramah dan tenang. Banyak pula yang penasaran, apakah saya pernah meledak marah? Pernah sedih sampai menangis? Pernah kesulitan dan depresi? Tentu pernah. Namun saya berusaha mengelola emosi negatif itu supaya tak berlarut-larut.

Ada satu cerita yang menginspirasi saya sampai sekarang. Tentang kebencian dan sekarung kentang busuk. Suatu hari, ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa sekarung kentang. Setiap kentang mewakili orang yang pernah menyakiti hati mereka dan belum dimaafkan. Lantas, karung itu harus dibawa ke mana-mana. Kalau belum memaafkan orang yang bersangkutan, mereka tak boleh membuang kentangnya.

Hari demi hari pun berlalu. Para murid mengeluh karena keberatan membawa karung. Apalagi, kentang-kentang itu mulai busuk dan berbau tak enak. Sungguh tak nyaman untuk menyeretnya ke mana-mana. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuang semua kentang. Dengan catatan, harus memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti hati mereka. Setelah itu kehidupan jadi lebih nyaman. Tak ada lagi kentang busuk dan beban kebencian.

Dari kisah itu, kita belajar tentang pentingnya memaafkan. Memang bukan hal yang mudah. Saat disakiti orang lain, kita cenderung mengingat-ingat perbuatan mereka. Lantas memori itu berubah menjadi rasa tak suka, benci, atau bahkan dendam. Padahal hanya merugikan. Kebencian dalam diri kita akan mengurangi kualitas hidup. Sebenarnya kita bisa bahagia dan bebas, tapi karena menyimpan emosi negatif, pikiran jadi terkurung.

Tak hanya kebencian yang membebani kita. Banyak emosi lain seperti kesedihan, ketakutan, keraguan, dan sebagainya. Tanpa sadar kita membawanya ke mana-mana. Beraktivitas dibayangi mereka. Setelah beban itu menjadi sangat busuk, kita dihadapkan pada dua pilihan: membuangnya atau membusuk bersamanya.

Saya pun pernah mengalami hal itu. Selama beberapa bulan terakhir, saya menyeret sekarung kentang busuk yang bernama penyesalan. Penyebabnya adalah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Saking berharganya, saya kesulitan untuk melepas dan merelakan. Perasaan itu pun membayang-bayangi setiap hari. Padahal saya sudah berusaha sesibuk mungkin. Berkenalan dengan orang-orang baru. Melakukan perjalanan jauh. Namun tanpa sadar, saya terus menyeret-nyeret sekarung kentang busuk. Baunya sudah tak tertahankan. Begitu pula beratnya, tangan saya sudah lecet karena terlalu lama membawanya.

Sudah lama saya ingin membuang kentang busuk itu. Namun entah kenapa tak bisa. Rupanya, karung tadi telah menjadi parasit dan menempel pada pikiran saya, mencegah untuk dilepas. Sampai akhirnya saya berusaha melepas paksa. Rasanya sudah cukup. Sudah saatnya bebas dari penyesalan, lalu hidup dengan sepenuh-penuhnya. Saya pun membuang kentang itu satu demi satu. Mengamati setiap butirnya yang menghitam. Membiarkannya jatuh dari tangan saya, lantas menggelinding ke tempat yang jauh dan gelap. Betapa leganya perasaan saya sekarang.

Kini saya mengajakmu untuk melakukan hal yang sama. Barangkali ada sesuatu yang membebanimu selama ini. Entah kesedihan, kemarahan, atau rasa yang tak tersampaikan. Jangan biarkan mereka menyedot energimu. Jangan biarkan mereka menghalangi hidupmu. Lepaskan saja. Kau akan merasa lega dan bahagia.


Sumber ilustrasi: pinterest.com

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog