Jangan Membuat Skripsi Seperti Membuat Frankenstein


Apa tantangan terbesar untuk lulus? Mungkin skripsi. Sebagian mahasiswa lambat menyelesaikannya, kadang sampai bertahun-tahun, bahkan keburu di-DO. Ada beberapa alasan kenapa mahasiswa seperti itu. Pertama, kebanyakan kegiatan. Entah mengurus acara, bekerja, bisnis, atau lainnya. Kedua, mengembara mencari kitab suci—alias menghilang. Tahu-tahu bepergian ke banyak tempat dan tak kunjung balik. Ketiga, skripsinya terlalu susah. Mungkin kesulitan mengumpulkan data, dapat Dosen Pembimbing Skripsi (DPS) yang tidak cocok, dan sebagainya. Keempat, mahasiswa yang bersangkutan malas dan mager. Kebanyakan menunda sampai kehabisan semangat. Sebenarnya masih ada alasan kelima, keenam, dan seterusnya. Semua tergantung pada kondisi orang yang bersangkutan.

Nah, kebetulan saat ini saya sedang mengerjakan skripsi. Sekarang memasuki semester 8 di Jurusan Sastra Prancis. Semester lalu, saya ikut mata kuliah Seminar Proposal. Di sana kami diajari untuk membuat proposal skripsi dan mempresentasikannya. Penelitian dilakukan dengan sudut pandang sastra atau linguistik. Ada yang meneliti novel, film, puisi, sampai komik. Proposalnya pakai bahasa Indonesia. Lalu dipresentasikan dalam bahasa Prancis. Begitu juga saat menjawab pertanyaan dari dosen dan teman sekelas. Susah? Iya. Untungnya, kami cukup sering melakukan itu di semester-semester lalu. Jadi sudah tak terlalu bingung. Kelak saat pendadaran pun harus berbahasa Prancis dari awal sampai akhir. Dari sekarang perlu rajin berlatih.

Selama kuliah Seminar Proposal, kami didampingi oleh sejumlah dosen. Yang utama adalah Mbak Sandy dan Mbak Arum. Keduanya energik dan masih muda. Kami bahkan tak memanggil mereka Madame, melainkan Mbak. Di jurusan saya, kebanyakan dosen lain sudah tua dan menikah. Biasanya yang wanita dipanggil Madame dan yang lelaki dipanggil Monsieur. Kalau dosen bule dipanggil langsung namanya. Nah, Mbak Sandy dan Mbak Arum ini bergantian mengajar kelas Seminar Proposal. Kadang-kadang berbarengan juga. Tak hanya teori, mereka memberi sejumlah nasihat bijak tentang skripsi.

“Jangan membuat skripsi seperti membuat Frankenstein,” kata Mbak Arum suatu hari. Beliau menjelaskan, Frankenstein adalah makhluk yang diciptakan oleh seorang ilmuwan. Terbuat dari potongan mayat yang dijahit supaya menyatu. Lalu dihidupkan dengan cara disetrum listrik dan petir. Pada akhirnya, dia memang hidup. Tapi jadi ciptaaan yang lepas kendali dan berbahaya. Begitu juga dengan skripsi. Kalau kita hanya menyatukan kumpulan data dengan asal tanpa memahami korelasinya, skripsi tak akan utuh. Terasa tidak sinkron. Pertama, kita perlu memahami konsep penelitian dulu. Lalu membaca banyak referensi dan mengumpulkan data. Barulah kemudian menuliskannya menjadi kesatuan. Niscaya akan lebih baik.

Di kesempatan lain, Mbak Sandy bercerita tentang suka duka mengerjakan skripsi. "Cepat atau lambat, kalian akan menghadapi sesuatu yang bisa menghambat penelitian. Entah masalah keluarga, putus cinta, bermasalah dengan DPS, dan sebagainya," kata beliau. Kebetulan Mbak Sandy adalah DPS saya. Selama bimbingan, yang dibahas tak hanya data, revisi, dan hal teoretis lainnya. Mbak Sandy menyempatkan diri untuk mendengar curhatan saya dan memberi saran macam-macam. Beliau tahu kalau saya punya blog yang aktif. Lantas beliau menyarankan untuk menggarap skripsi seolah-olah sedang menulis blog. Jadi terasa lebih mudah dan seru. Sejak itu, saya pun membuat blog khusus untuk perkembangan skripsi (diprivat supaya hanya saya yang bisa membukanya).

Masih ada nasihat lain yang tak kalah penting. Suatu hari Mbak Arum bertanya pada anak sekelas, seperti apa skripsi yang paling baik? Apakah yang tebal dan superlengkap? Atau yang diterbitkan jadi buku? Atau lainnya? Kami pun melontarkan sejumlah jawaban. Namun tak ada yang tepat. Lantas Mbak Arum dan Mbak Sandy menjelaskan, "Skripsi yang paling baik adalah skripsi yang selesai. Tak perlu membuatnya sempurna. Yang penting adalah mengerjakannya. Pelan-pelan juga tak apa, asal ada langkah nyata yang konsisten. Pokoknya terus berkembang sampai akhirnya selesai."



Sumber ilustrasi: pinterest.com

2 comments:

  1. Ya, skripsi yang bagus adalah yang selesai hehe. Dan punyaku belum selesai juga, tapi sebentar lagi semoga. Sukses ya Pandan utkmu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yupss, nggak perlu membuatnya sempurna. Semangat juga ya Mbak Erny. Yuk kita selesaikan skripsi ini. Tinggal selangkah lagi terus lulus! 😆👍

      Delete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog