Mereka yang Gaduh dalam Sunyi


Kadang saya bertanya-tanya, bagaimana rasanya menjadi tunarungu. Tak bisa mendengar apa pun. Hidup dalam dunia yang gegap gempita, tapi terkurung dalam sepi. Namun saya percaya, mereka juga menjalani hidup yang indah. Sebab mereka bisa menciptakan suara dari dalam hati.

Seperti hari itu. Saya melihat dua orang yang gaduh dalam kesunyian.

Malam itu saya pulang naik bus. Duduk di bangku belakang, tempat yang cocok untuk memerhatikan para penumpang. Ada ibu-ibu yang memangku anaknya. Ada lelaki berkacamata dengan tas ransel besar. Ada juga dua pelajar yang masih mengenakan seragam, mungkin baru selesai berkegiatan di sekolah. Saat itu bus cukup penuh. Semua tempat duduk sudah terisi, beberapa orang harus berdiri sambil berpegangan. Sepanjang perjalanan, kami diiringi oleh lagu-lagu yang diputar dalam bus.

Tak lama kemudian bus dimasuki oleh sepasang remaja. Yang perempuan memakai baju merah jambu dengan kerudung serasi. Yang laki-laki mengenakan kaos dan celana pendek. Mereka tampak semangat, ceria, dan saling memandang dengan tatapan jatuh cinta. Si gadis duduk di kursi yang kebetulan kosong. Si pemuda berdiri di dekatnya dengan gestur melindungi.

Kedua orang itu bercakap-cakap dengan gembira. Namun tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir. Mereka hanya menggerak-gerakkan tangan. Membentuk berbagai isyarat dengan kombinasi jemari.

Rupanya, mereka tunarungu.

Si gadis tampak sangat cerewet. Dia menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat. Tegas. Ekspresi wajahnya berubah-ubah mengikuti isyarat. Si pemuda membalas isyaratnya dengan antusiasme yang sama. Tangan mereka bergerak tak henti-henti. Entah apa yang dibicarakan. Sepertinya sangat menarik.

Saking asyiknya bertukar isyarat, mereka berdua tak menyadari kalau seisi bus memerhatikan. Mengikuti tiap gerakan yang dilakukan. Termasuk saya.

Alunan lagu dari speaker bus masih mengiringi perjalanan kami. Tiba-tiba, ritme yang semula cepat berubah menjadi lambat. Rupanya lagu telah berganti. Memperdengarkan suara lembut seorang wanita. Dengan bait demi bait lirik yang memesona. Lagu cinta.

Gadis dan pemuda itu memang tak bisa mendengar alunan lagu. Namun saya rasa, mereka telah menciptakan keindahan lain. Sesuatu yang mengalun langsung ke dalam jiwa.

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog