Titik Balik


Kita semua mungkin pernah mengalami titik balik. Biasanya, titik balik terjadi setelah kita mengalami hal yang sangat buruk. Bisa berupa kegagalan, penolakan, atau kehilangan. Untuk sesaat kita memang kehilangan arah. Bingung, sedih, meratap. Rasanya lebih mudah untuk bergelung di bawah selimut tiap hari, daripada bangkit dan menjalani hidup seperti biasa. Namun pada akhirnya akan tiba suatu fase. Kesempatan yang mendorong kita untuk berubah. Itulah titik balik.

Saya pernah mengalami beberapa kali titik balik. Yang terakhir sedang terjadi. Tepat saat saya membuat tulisan ini. Ya, saya memutuskan untuk melakukan titik balik, sekarang juga.

Beberapa minggu belakangan ini saya tak bisa mengenali diri sendiri. Saya tak tahu kalau bisa selemah ini, baik secara fisik maupun mental. Saya mengalami dua kali sakit yang cukup parah. Badan saya menolak makanan, dan berat badan pun turun berkilo-kilogram. Mental saya lebih sakit lagi. Saya kesulitan untuk berpikir jernih, dan hanya ada satu emosi yang saya rasakan secara konstan: sedih. Orang-orang mulai bertanya mengapa saya jadi kurus. Atau, mengapa mata saya sering terlihat sembab.

Alasannya hanya satu: saya baru saja kehilangan. Saya kehilangan sesuatu yang sangat berharga—sesuatu yang saya kira tak akan pernah hilang, apalagi secepat ini. Barangkali saya terlampau naif. Mestinya saya tahu bahwa tak ada yang abadi. Apa pun. Namun, dulu saya dibutakan oleh kebahagiaan. Saya berhenti berpikir logis. Saya memaksakan hal-hal yang sebenarnya tak sesuai, hanya untuk memperpanjang kebahagiaan itu. Saya bahkan berpikir untuk melepas hal-hal yang sangat penting bagi saya.

Namun Tuhan memang Mahabaik. Ia membuka paksa mata saya. Demi kebaikan, Tuhan merenggut kebahagiaan yang saya miliki. Ia menghindarkan saya dari sesuatu yang salah.

Pada awalnya memang sangat sulit untuk ikhlas. Namun saya memutuskan untuk merelakan. Karena kalau tidak, apa lagi yang bisa dilakukan? Masa saya harus bersedih selama sisa hidup ini? Sungguh merugi. Lebih baik saya segera bangkit dan melanjutkan hidup. Titik balik saya sudah dimulai. Barangkali memang tidak mudah untuk dijalani, tapi saya akan berusaha.

Berikut ini adalah tips untuk menghadapi fase titik balik:

Pastikan kita sudah ikhlas

Ikhlas berarti merelakan. Kedengarannya memang sepele, tapi ikhlas adalah sesuatu yang dahsyat. Butuh waktu dan usaha yang tak sedikit untuk melakukannya. Tanpa rasa ikhlas, susah untuk melangkah maju. Lantas bagaimana caranya? Kita perlu berdialog dengan diri sendiri. Yakinkan diri kita bahwa hal buruk yang terjadi memang harus terjadi. Kita tak bisa membatalkannya. Kita tak bisa mengubahnya. Satu hal yang bisa dilakukan hanyalah merelakan.

Minta saran dan bantuan dari orang-orang terdekat

Saat mengalami hal buruk, terkadang kita merasa takut dan sendirian. Padahal banyak orang-orang yang masih peduli. Entah keluarga, sahabat, teman, dosen, siapa saja. Berceritalah pada mereka. Orang yang menyayangimu pasti akan mendengarkan dan memberi saran. Kamu tak perlu merasa malu. Mintalah bantuan mereka untuk menemanimu dalam keadaan sulit ini.

Menyederhanakan hidup

Sudah saatnya hidup dengan normal. Mungkin awalnya sulit, karena itulah kita perlu menyederhanakan hidup. Buat aturan yang sesimpel mungkin. Kalau kita melakukan sesuatu yang baik, pasti hasilnya juga baik. Begitu pula sebaiknya. Mari mengisi hidup dengan sebanyak mungkin kebaikan. Tak perlu berprasangka yang macam-macam. Lebih baik hidup dengan sederhana, nyaman, dan gembira.

Temukan dan tekuni passion-mu

Passion adalah sesuatu yang membuat kita semangat. Setelah mengalami fase hidup yang buruk, kita perlu bersemangat lagi. Caranya adalah dengan menekuni passion. Coba lakukan hobi kita yang selama ini terlupakan. Misalnya saja menulis, memasak, jalan-jalan, dan sebagainya. Lebih bagus lagi kalau kegiatan itu bisa bermanfaat untuk orang lain.

Hiduplah dengan “penuh”

Terakhir, mari kita berusaha untuk hidup dengan maksimal. Manfaatkan waktu yang kita miliki. Lakukan hal-hal yang kita sukai. Sayangilah orang-orang yang berarti. Pastikan kita sibuk melakukan kebaikan. Dengan begitu, hal-hal baik akan terjadi dalam hidup kita.

Selamat berjuang di titik balik!


Sumber ilustrasi: studentshow.com

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog