Pasar, Toko Swalayan, dan Camilan yang Kehilangan Rasa

Monday, July 18, 2016


Terkadang saya diajak Ibu ke pasar saat masih kecil. Menemaninya beli bahan makanan, kue-kue basah, dan kebutuhan lain. Sembari mengikuti Ibu ke sana kemari, saya kerap memerhatikan suasana pasar. Tampak orang-orang ramai menjajakan dagangan. Ada bermacam sayuran segar, tempe, tahu, dan bumbu dapur. Ada juga daging ayam dan ikan yang berbau amis.

Photo by The Ian on Unsplash
Menginjak dewasa, saya makin jarang pergi ke pasar. Paling-paling hanya untuk beli kebutuhan acara kampus. Seperti tahun lalu. Saya berbelanja ke pasar dengan seorang teman. Kami berangkat ke sana sekitar pukul tujuh pagi. Udara masih segar dan lalu lintas belum macet, tetapi suasana pasar sudah ramai.

Kebutuhan pertama yang kami cari adalah jagung. Tak jauh dari pintu masuk pasar, ada beberapa kios yang menjualnya. Kami menghampiri kios yang dijaga seorang ibu tua. Dengan lihai, kawan saya langsung membuka percakapan dengannya. Mereka bercakap-cakap dengan bahasa Jawa yang luwes. Akhirnya disepakati, kami akan membeli 10 kilogram jagung manis dengan harga 50 ribu. Namun jagungnya belum tersedia. Jadi baru akan diambil besok pagi, beberapa saat sebelum keberangkatan acara.

Setelah itu kami mencari makanan ringan atau disebut juga snack angin. Ada sebuah kios yang menjual berbagai macam camilan. Sebagian sudah dibungkus dalam kemasan kecil, lainnya masih disimpan dalam kantong plastik besar. Banyak sekali camilan di sana. Ada yang manis, asin, gurih, pedas, sampai asam. Semuanya tampak lezat. Akhirnya kami memilih dua macam camilan. Yang satu berbentuk korek api dan pedas, satunya lagi manis dan berwarna hijau. Kami membeli satu kilogram dengan harga murah.

Lalu kami membeli sebungkus besar arang, tentunya untuk membakar jagung manis. Setelah itu kami beranjak pulang. Saat berjalan kembali ke pintu masuk, saya memerhatikan berbagai macam kios yang dilewati. Ada kios bumbu-bumbu dapur yang aromanya sangat sedap. Ada kios yang menjual sepatu dan sandal, semua digelar di lantai pasar. Ada juga ibu-ibu yang menjual berbagai jenis kue pasar: arem-arem, lemper, tiwul, bakpao, dan sebagainya. Mereka menjajajakan dagangan dengan semangat. Para pembeli berkerumun dan menawar. Orang-orang berlalu lalang. Sebagian membawa belanjaan dalam kantong plastik, lainnya membawa karung dan kardus. Pasar itu ramai oleh berbagai macam suara. Aroma busuk dan manis bercampur jadi satu.

Beberapa jam setelah meninggalkan pasar, saya dan sang kawan berbelanja lagi. Kali ini kami pergi ke toko swalayan besar. Kondisinya sangat berbeda dengan pasar. Ada pendingin ruangan yang membuat udara jadi sejuk. Semua dagangan tertata rapi di rak-rak. Sudah ada label harganya, jadi tak bisa ditawar. Kami berkeliling di lantai 1 dengan membawa keranjang belanjaan. Melihat-lihat berbagai barang yang menarik. Membeli roti tawar, kopi, gula, mentega, dan sebagainya.

Ada juga beberapa rak yang menampung berbagai jenis camilan. Sama seperti yang kami lihat di pasar tadi. Namun harganya tentu lebih mahal. Anehnya, camilan di toko ini terlihat kalah enak dibandingkan yang di pasar. Mungkin karena di sini hampir tak ada interaksi antara penjual dan pembeli. Hanya sekadar basa-basi menanyakan lokasi barang. Mengucapkan terima kasih seadanya di tempat kasir. Begitu juga di antara pembeli, hampir tak ada interaksi. Paling-paling hanya mengucapkan permisi saat orang lain menghalangi jalan. Saling menghindari tatapan mata. Tak ada yang melempar senyum atau sekadar menganggukkan kepala.

Saat itulah saya sadar. Pasar dan toko swalayan memang dua tempat yang berbeda, dengan dua budaya yang berlainan.

You Might Also Like

0 comments