4 Hal yang Kita Sadari Saat Tinggal Jauh dari Rumah


Kata orang, merantaulah agar kita tahu rasanya pulang. Sebab ada hal-hal yang baru kita sadari saat jarak membentang. Akan ada yang dirindukan. Makin banyak pula yang disyukuri. Karena itulah saya ingin merantau. Namun sayangnya belum ada kesempatan untuk itu. Selama lebih dari 20 tahun, saya menetap di Yogyakarta—kota yang damai dan menawarkan banyak acara seni gratis. Hingga akhirnya sebuah kesempatan datang: KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Berkat KKN, saya bisa merasakan pengalaman tinggal jauh dari rumah. Kelompok saya ditempatkan di Gianyar, Bali. Untuk pertama kalinya, saya menetap lama di daerah yang benar-benar berbeda. Begitu banyak hal baru. Saya harus beradaptasi dengan budaya dan kebiasaan setempat. Selain itu, saya belajar untuk hidup mandiri. Tinggal di sebuah pondok kecil yang dihuni 16 orang adalah kesempatan untuk berkembang. Langsung saja, inilah empat hal yang saya pelajari selama sebulan terakhir.

1. Uang tidak tumbuh di pohon. Kalau mau bertahan hidup, kita harus belajar hemat—bahkan untuk hal remeh sekalipun

Mengelola uang adalah tantangan. Selama KKN, saya tidak bekerja sebagai freelance supaya bisa fokus. Jadi hanya mengandalkan uang yang dikirim orang tua. Nah, uang itu harus dikelola baik-baik supaya saya bisa bertahan hidup. Godaan terbesar adalah makan. Setiap orang memang dijatah 20 ribu per hari untuk mengisi perut. Namun seringnya tak mencukupi karena harga-harga di Bali lebih mahal. Apalagi saat awal kedatangan, kami belum tahu mana tempat yang murah. Jadi harus bayar banyak karena kurang jeli.

Untungnya, lama-kelamaan saya tahu berbagai tempat makan murah. Misalnya saja warung di desa sebelah yang menjual nasi campur seharga delapan ribu—porsinya banyak, lauknya bervariasi dan enak. Ada juga restoran ayam krispi yang menjual paket seharga sebelas ribu. Di sana juga ada berbagai es krim enak yang dijual murah. Pokoknya sebisa mungkin saya membeli makanan di desa, sebab harga di kota lebih mahal. Apalagi di objek-objek wisata seperti pantai. Hindari tempat yang ramai turis karena makanannya lebih mahal.

Selain untuk makanan, biasanya saya mengeluarkan uang untuk laundry, bensin, dan belanja kebutuhan sehari-hari. Untungnya saya menemukan laundry yang cepat dan murah (satu hari jadi, biayanya empat ribu per kilogram). Sedangkan bensin selalu saya beli di pom resmi karena harganya lebih murah dari eceran. Nah, kadang yang agak boros adalah belanja kebutuhan sehari-hari seperti sabun, sampo, dan berbagai camilan. Hindari beli di Indomaret, Alfamart, atau Circle K karena harganya lebih mahal. Bisa selisih sampai tiga ribu per barang. Jadi saya memilih belanja di toko atau warung seputar desa.

2. Jangan manja dengan fasilitas. Gunakan yang tersedia di sekitar kita

Banyak fasilitas yang tak tersedia di desa saya. Sekalipun pergi ke kota terdekat, beberapa fasilitas tetap minim. Misalnya saja koneksi internet. Di pondok saya tidak ada wifi, jadi kami hanya mengandalkan paket internet di ponsel. Untung lancar sinyal. Namun sampai sekarang saya tak menemukan warnet di desa maupun kota. Jadi kalau butuh internetan banyak, harus pergi ke gerai wifi.id setempat. Membawa laptop dan membeli paket di sana. Dengan lima ribu, kami bisa internetan selama 12 jam. Lebih murah lagi kalau beli paket sebulan.

Saya juga harus jeli memanfaatkan fasilitas pondok. Hanya ada satu kamar mandi—digunakan untuk mandi, cuci piring, dan cuci baju. Padahal program KKN kami dimulai pagi hari. Jadi enam belas orang harus bergantian mandi di sana. Sebetulnya ada pilihan lain, yaitu kamar mandi TK yang kotor atau kamar mandi puskesmas yang angker, tapi saya enggan menggunakannya. Jadi saya harus bangun sepagi mungkin untuk mandi. Lebih baik mandi duluan lalu tidur lagi, daripada mengantre lama lalu telat datang program.

3. Waktu untuk sendirian itu penting. Kita perlu istirahat dari orang-orang dan keramaian

Karena ada banyak orang, seringkali pondok saya ramai dan sesak. Memang menyenangkan untuk ngobrol dengan teman. Bahkan saya tetap bisa tidur walaupun kondisi tidak mendukung. Namun terkadang, saya butuh waktu untuk menyepi. Menenangkan diri dan mengistirahatkan batin. Lantas saya dan beberapa teman pergi ke pantai terdekat. Menikmati angin yang sepoi-sepoi. Memandang langit dan lautan yang mahaluas. Ada kalanya juga saya butuh waktu sendirian. Kalau sudah begitu, saya akan naik motor lalu jalan-jalan di sekitar desa dan kota. Momen tersebut membuat saya tetap tenang dan waras.

4. Awalnya, tinggal jauh dari kampung halaman membuat kita rindu dan kesepian. Namun lama-lama kita betah juga. Rasanya seperti menemukan rumah baru

Terkadang hidup ratusan kilometer dari rumah membuat saya rindu. Rasanya ingin bertemu keluarga dan teman-teman di kampung halaman. Namun untungnya, situasi itu tidak berlangsung lama. Saya mulai menyesuaikan diri. Membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. Berkenalan dengan berbagai orang dan melewatkan waktu dengan mereka. Saya akan selalu punya kampung halaman. Namun tempat tinggal yang sekarang pun sudah menjadi rumah. Itulah kenapa saya suka merantau.


Sumber ilustrasi: pinterest.com

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog