Pengalaman Traveling ke Singapura: Singkat, Murah, dan Berkesan!


Akhir Maret lalu, saya mendapat kesempatan untuk traveling singkat ke tiga negara. Perjalanan ini spesial karena saya melakukannya sendirian. Yang pertama saya kunjungi adalah Singapura. Saya berangkat dari Bandara Adisujipto Yogyakarta. Penerbangan internasional di sana terbatas hanya untuk Singapura dan Malaysia. Kebetulan saya dapat penerbangan pagi, sekitar pukul setengah delapan. Tentu saja saya datang lebih awal supaya tidak ketinggalan pesawat. Untungnya saya sudah melakukan web check in dan tidak membawa bagasi, jadi ketika sampai di bandara, tinggal melewati imigrasi.

Apa saja yang harus dilakukan di imigrasi?

Kita hanya perlu menyerahkan paspor dan tiket pesawat, lalu menjawab beberapa pertanyaan. Misalnya saja mau ke mana, sudah pernah ke luar negeri atau belum. Tak perlu tegang. Selain itu, ada aturan imigrasi yang harus dipatuhi. Misalnya saja tidak boleh membawa botol minuman yang sudah dibuka karena bisa menyebar virus. Kita juga tidak boleh membawa wadah berisi cairan (bisa pembersih wajah, sampo, odol, dan sebagainya) yang lebih dari 100 ml. Berdasarkan pengalaman saya dengan imigrasi di 4 negara, petugas hanya mengecek perihal botol minuman. Mereka tidak sampai mengecek ketentuan 100 ml. Tapi lebih baik patuh aturan saja.

Setelah sukses melewati imigrasi, saya masuk ke dalam pesawat. Kebetulan dapat tempat duduk di samping jendela. Itu berarti saya bisa melihat kondisi luar saat pesawat lepas landas dan mendarat. Menjelang pendaratan, pesawat terbang rendah di atas laut. Saya melihat banyak sekali kapal yang sedang berlayar dan membentuk pola indah. Tak lama kemudian, daratan Singapura mulai terlihat. Tampak taman-taman hijau yang rapi dan jalanan yang teratur. Singapura memang negara maju, saya sudah mulai merasakan pesona dan gairahnya.

Setelah mendarat di Bandara Changi Singapura, apa yang harus dilakukan?

Karena tidak membawa bagasi, saya langsung menuju bagian imigrasi. Lalu mengambil kartu kedatangan (departure card) yang disediakan di rak. Kita harus mengisi informasi umum seputar nama, negara asal, nomor paspor, dan menjawab apakah selama sebulan terakhir kita mengunjungi Afrika (mungkin karena di sana banyak penyakit menular dan berbahaya). Setelah itu, saya mengantre untuk diwawancara petugas imigrasi. Prosesnya simpel saja. Kartu kedatangan yang saya bawa disobek dan diambil oleh petugas, sedangkan sisanya dikembalikan pada saya. Ingat, kartu kedatangan ini harus disimpan!

Misi saya selanjutnya adalah pergi ke penginapan. Untuk ke sana, saya ingin naik MRT (Mass Rapid Transit), kereta cepat di Singapura. Untungnya di Bandara Changi ada stasiun MRT, tapi hanya di Terminal 2 dan 3 (bandara ini punya 3 terminal). Kebetulan saya mendarat di Terminal 1. Jadi saya pergi ke Terminal 2 dengan sky train, yaitu kereta mini dengan dua gerbong yang menghubungkan terminal di bandara. Transportasi ini gratis!

Oh ya, sebelum beranjak dari bandara, ada baiknya melakukan dua hal ini: 1) menukar uang rupiah dengan dolar singapura (kebetulan saya sudah menukarnya di Indonesia), dan 2) membeli kartu seluler setempat (saya beli kartu SingTel. Harganya memang lebih mahal kalau beli di bandara, tapi lebih baik daripada repot cari di tempat lain). Dua benda ini sangat penting. Dengan dolar singapura, saya bisa membeli makanan dan karcis transportasi. Lalu dengan kartu seluler, saya bisa internetan dan memakai Google Maps.

Cara pergi ke penginapan naik MRT

Setelah sampai di Terminal 2 bandara, ikuti saja petunjuk Train to City. Kita akan menemukan stasiun MRT di bawah tanah. Tiket bisa dibeli langsung di mesin. Layar akan menampilkan peta dan rute MRT. Tinggal menentukan tujuan. Dulu saya memilih tujuan Chinatown karena penginapan saya berada di sana. Selanjutnya muncul jumlah yang harus dibayar tergantung pada jarak tempuh. Masukkan uang ke mesin, barulah kemudian tiketnya keluar. Perhatian: uang tidak bisa dimasukkan sekaligus, harus satu per satu. Yang bisa diterima juga hanya pecahan kecil seperti 1, 2, atau 5 dolar singapura.  Saat itu harga tiket saya sekitar 2 dolar.

Setelah mendapat tiket, saya pergi ke pintu gerbang stasiun MRT. Lalu menyentuhkan kartu di mesin sampai terdengar bunyi beep dan pintunya terbuka. Kemudian cari jalur keretamu. Ada yang hijau, kuning, merah, biru, cokelat, dan ungu. Setelah menemukan jalur tujuan, carilah pintu masuk yang benar. Lalu tunggu saja dengan sabar sampai kereta datang. Jangan antre di depan pintu, tapi antrelah di samping kiri dan kanannya.

Nah, ada pengalaman unik selama saya di stasiun MRT. Ternyata cukup membingungkan untuk mencari jalur kereta yang benar. Jadi saya bertanya pada seorang warga lokal. Dia tampak seumuran dengan saya dan memakai hijab. Namanya Nadya. Dengan baik hati dia menunjukkan jalan yang benar—ternyata jauh juga, bahkan harus naik-turun eskalator. Selama perjalanan, kami pun mengobrol. Dia kaget saat mendengar rencana traveling saya. "But it's a little bit scary, right?" komentar Nadya, "is it scary to travel abroad for the first time, alone?"

Saya hanya tertawa mendengarnya. Sejujurnya, pengalaman ini memang cukup menakutkan. Tapi saya harus melakukannya. Sebab saya yakin, setelah berhasil melampaui berbagai ketakutan, kita akan semakin kaya akan pengalaman. Hehehe. Singkat kata, berkat bantuan Nadya, saya berhasil naik ke kereta yang benar. Cukup banyak stasiun yang harus dilalui sebelum sampai di Chinatown. Tapi jangan khawatir bakal terlewat. Setiap akan berhenti di suatu stasiun, ada pengumuman melalui pengeras suara. Kalau masih belum yakin, cek saja Google Maps. Aplikasi itu bisa menunjukkan rute MRT yang kita lalui.

Setelah sekitar satu jam naik MRT, saya pun sampai ke Stasiun Chinatown. Harusnya penginapan saya tidak jauh dari sini, tinggal jalan kaki saja. Tapi saya tersasar cukup lama. Berputar-putar di areal pertokoan dan akhirnya malah kembali lagi ke Chinatown. Karena capek, saya pun memutuskan untuk berhenti dan makan siang. Saya memesan bakpau dan soft drink di kedai dim sum terdekat. Setelah kenyang, saya pun melanjutkan perjalanan. Melihat peta kota. Bertanya pada beberapa orang. Akhirnya penginapan ketemu juga!

Tentang menginap murah di Singapura

Kalau ingin menginap dengan murah, carilah hostel. Bukan hotel. Perbedaan namanya memang hanya satu huruf, tapi perbedaan fasilitasnya banyak. Misalnya saja hostel lebih kecil. Satu kamar ditinggali banyak orang, biasanya sesama turis. Nah, lebih baik lakukan pemesanan hostel sejak di negara asal. Ada banyak website yang menyediakan layanan itu, kita tinggal memilih yang sesuai. Lantas lakukan pembayaran secara online. Jangan lupa cetak bukti pemesanannya. Jadi ketika di imigrasi, kita bisa mempermudah proses pemeriksaan karena punya bukti akan menginap di mana. Selain itu, kita pun tak perlu repot lagi di negara tujuan.

Lantas apa yang harus dilakukan setelah sampai di hostel? Carilah pemiliknya. Dia akan menggiring kita ke meja resepsionis, lalu mengecek data yang dibutuhkan. Kita hanya perlu menunjukkan dua dokumen: 1) paspor sebagai tanda pengenal internasional, dan 2) bukti pemesanan hostel. Di Singapura, pihak hostel akan mengembalikan paspor setelah mengeceknya. Sebab saat berjalan-jalan di luar, ada kalanya petugas keamanan akan meminta kita untuk menunjukkan paspor. Jadi bawalah selalu paspor ke manapun pergi. Hal ini berbeda dengan pihak hostel di negara lain, Vietnam misalnya. Mereka justru menahan paspor kita di hostel demi alasan keamanan. Sebab di sana lebih rawan kriminalitas. Jadi pastikan kita tahu kebiasaan di negara setempat dan patuhilah aturannya.

Saat itu saya mendapat kamar yang isinya enam kamar tidur. Namun yang terisi baru tiga termasuk saya. Oh ya, semuanya perempuan. Ada kamar lain yang khusus untuk turis laki-laki. Nah, setelah menaruh barang-barang (yang hanya berupa satu tas ransel dan satu tas selempang kecil), saya pun beristirahat dan mandi. Lantas bersiap untuk jalan-jalan. Saat keluar hostel, kebetulan saya bertemu dengan seorang teman sekamar. Dia adalah wanita paruh baya bernama Jean, asalnya dari Filipina. Kami mengobrol selama beberapa saat. Ternyata Jean sangat suka traveling, dan dia menyarankan saya untuk traveling sebanyak mungkin selagi bisa.

Rupanya Jean datang ke Singapura bersama seorang keponakannya. Mereka sudah beberapa kali ke Singapura, dan telah menginap lebih dulu di hostel ini. Dengan baik hati Jane mengajak saya untuk jalan-jalan bersama. Dia mengenalkan keponakannya, Mark, yang bertubuh gempal dan mirip panda. Singkat kata kami pun berangkat bertiga.

Tempat apa saja yang bisa dikunjungi di Singapura?

Sebelum berangkat, saya sudah membuat target akan ke mana saja. Namun karena singkatnya waktu dan dana, akhirnya saya harus memilih dengan selektif. Berikut ini adalah tempat-tempat yang saya kunjungi di Singapura selama satu hari (berdasarkan urutan):

  1. Chinatown. Ini adalah pusatnya barang-barang murah. Dengan jarak sangat dekat dari penginapan, saya bisa mencapainya dengan mudah. Chinatown menjual berbagai macam oleh-oleh seperti kaos, tas, gantungan kunci, patung kecil, berbagai aksesoris, dan lain-lain. Untuk menghemat tempat, saya hanya membeli beberapa gantungan kunci dari kayu (harganya 1 dolar per gantungan) dan dua tas kain berukuran sedang (harganya 6 dolar per tas).
  2. Merlion Park yang terletak di Marina Bay. Ini merupakan salah satu tempat yang “Singapura banget”. Kalau ke Singapura, kita harus menyempatkan diri untuk mampir ke sini dan berfoto dengan patung singanya. Oh ya, tempat ini bisa ditempuh berjalan kaki dari Chinatown. Sepanjang perjalanan, saya melihat berbagai kafe, mall, serta berbagai dekorasi kota seperti patung. Oh ya, di Marina Bay kita juga bisa melihat atraksi malam secara gratis. Pertunjukan itu berupa semacam permainan cahaya di air dan udara. Pokoknya bagus! Saya menontonnya sambil makan cheese french fries yang ditraktir oleh Mark.
  3. Silver Garden. Dari Merlion Park, kami pun lanjut jalan-jalan secara random. Tak sengaja malah ke Silver Garden, yaitu taman yang dihiasi oleh pohon-pohon tinggi bercahaya, namanya light trees. Bagus sekali. Selain itu ada berbagai tumbuhan yang ditata dengan apik. Di Silver Garden terdapat stasiun MRT, jadi setelah itu kami bisa langsung pulang.

Sayang sekali waktu saya di Singapura hanya satu hari. Saya hanya sempat berkunjung ke tiga tempat itu, mulai dari sore hingga malam hari. Sebab keesokan paginya saya sudah pergi ke negara lain. Sebenarnya masih banyak tempat yang ingin saya kunjungi. Mulai dari Orchard Road, Universal Studio, sampai Sentosa Island. Mungkin saya bisa mengunjunginya di lain waktu.

Satu catatan penting: sebelum traveling ke Singapura, usahakan untuk mempersiapkan fisik. Sebab kita akan banyak berjalan kaki. Memang ada fasilitas MRT dan bus. Tapi kalau mau berpetualang dengan maksimal, lebih baik jalan kaki saja. Saya pun berjalan kaki ke mana-mana, dari satu tempat ke tempat lainnya. Rasanya kaki sampai hampir putus. Akali kondisi ini dengan minum yang banyak dan mengonsumsi vitamin.

Sebelum saya berangkat ke Singapura, kakak saya berpesan: jangan hanya jadi turis di negara orang. Cobalah untuk menjadi warga lokal. Bersikap seperti mereka, makan seperti mereka, dan melihat Singapura dengan cara pandang mereka juga. Jangan lupa cari tema sebanyak-banyaknya. Dengan begitu kita akan mendapat pengalaman yang berbeda.

Bagaimana cara mencari teman selama traveling?

Kalau belum punya teman di negara tujuan, menginaplah di hostel. Dijamin mau tak mau kita akan mendapat teman baru. Sebab kita harus menempati satu kamar dengan beberapa orang dari berbagai negara. Selama di Singapura, untungnya saya sekamar dengan Jean, wanita paruh baya yang sudah diceritakan tadi. Dia banyak membagi pengalaman traveling-nya pada saya. Ternyata, dulu Jean bekerja selama 11 tahun di Makau. Lantas belum lama ini dia pensiun dan memutuskan untuk traveling sepuasnya. Sayang karena keterbatasan fisik, dia tidak bisa menemani saya lama-lama. Jadi saya lebih banyak melewatkan waktu dengan Mark.

Seperti bibinya, Mark adalah orang yang suka traveling. Dia juga ramah pada turis-turis yang baru dikenalnya. Beberapa hari sebelum saya datang, ternyata dia menemani sebuah komunitas asing yang hendak tampil di Singapura. Mark juga banyak bercerita tentang dirinya, terutama pacarnya yang sudah 6 tahun jadian. Si pacar ini suka sekali panda. Jadi sepanjang perjalanan kami, Mark memfoto benda-benda berbentuk panda untuk dikirim ke pacarnya. So sweet. Oh ya, sampai sekarang saya masih berhubungan dengan Mark di sosial media. Dia sudah pindah dari Filipina dan menetap di Perancis bersama ibunya.

Setelah seharian di Singapura, saatnya beranjak pergi…

Saya berusaha memanfaatkan waktu istirahat dengan maksimal. Sebab keesokan paginya, saya sudah harus berangkat ke bandara. Lakukan packing dengan baik. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Saat hendak check out, ternyata tidak ada orang di resepsionis. Jadi saya pun langsung pergi. Berputar-putar sejenak di kota, lalu sampai di stasiun MRT. Dari sana langsung membeli tiket ke Bandara Changi.

Sesampainya di bandara, saya pun mengeluarkan tiga dokumen: 1) tiket pesawat, 2) paspor, dan 3) sobekan departure card yang diperoleh saat kedatangan di Singapura. Usahakan untuk sampai di bandara sedini mungkin. Karena ini penerbangan internasional dan saya sendirian, jadi saya datang sekitar tiga jam sebelum pesawat berangkat. Kelamaan? Tak apa-apa, daripada ketinggalan pesawat. Kita bisa mengisi waktu dengan sarapan dan jalan-jalan di sekitar bandara.

Banyaknya waktu yang tersisa juga akan membuat kita lebih tenang. Tidak terburu-buru. Kalau tiba di lokasi yang salah pun, kita masih punya waktu untuk pergi ke lokasi yang benar. Ingat! Apa pun bisa terjadi di bandara. Bisa saja kita salah gerbang keberangkatan. Atau mungkin salah terminal (jangan lupa, di Singapura ada 3 terminal. Butuh waktu agak lama untuk berpindah terminal dengan naik sky train). Lebih parah lagi, bisa saja kita salah bandara. Misalnya saja kalau ke Kuala Lumpur. Di sana ada dua bandara yang jaraknya cukup jauh. Untungnya, Singapura hanya mempunyai satu bandara. Tapi kita tetap harus sehati-hati mungkin.

Selama menunggu beberapa lama, waktu keberangkatan pun tiba juga. Kali ini saya naik pesawat Tiger Air. Setelah serangkaian pemeriksaan, akhirnya saya bisa naik ke dalam pesawat. Lantas pergi meninggalkan Singapura… menuju ke negara lain: Vietnam. Tunggu cerita selanjutnya!

2 comments:

  1. hahaha asyik tulisannya mbak Pandan. aku beli singtel di changi harganya paling murah 38$.

    dan setuju banget, kalau mau dapet teman baru itu nginepnya di hostel, saya tiap nginep pasti dapet temen jalan ke sana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi makasih Mas Rizqi :) Iya, saya juga beli dengan harga sekitar segitu. Mahal tapi memang berguna buat ngapa-ngapain~

      Sip sip. Kadang jalan sendirian memang asyik, tapi kalau ada temen jalan (terutama yang paham lokasi) jadi lebih asyik lagi.

      Btw, Mas Rizqi habis ke Mesir ya? Mau dong baca tulisan tentang itu :D

      Delete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog