I Wish I Could Reverse The Time but I Couldn’t so I just Pray for You


Kali ini saya akan bercerita tentang kisah cinta selama KKN. Kata orang, KKN memang tak lengkap tanpa cinta-cintaan. Banyak yang berniat mencari jodoh—baik dengan rekan satu tim maupun warga lokal. Bagaimana dengan tim saya sendiri? Selama 47 hari, kami tinggal dalam dua pondok. Satu pondok berisi 16 orang, sedangkan yang satu lagi berisi 15 orang. Perempuan dan lelaki dicampur. Kami makan bersama, tidur bersama, pokoknya melakukan berbagai aktivitas bersama. Wajar kalau perlahan muncul ketertarikan,

Namun lucunya, kisah cinta di tim kami tak sebanyak yang saya kira. Memang ada dua pasangan yang ke mana-mana selalu bareng. Juga ada beberapa teman yang ditaksir warga lokal. Plus, ada satu pasangan yang sejak awal sudah pacaran. Namun di luar itu, tak ada kisah cinta yang mencolok. Kenapa ya? Barangkali karena sebagian sudah punya pacar. Sebagian belum tertarik cari pasangan. Sedangkan sebagian lagi… baru putus.

Aneh memang, ada lima orang di tim saya yang putus menjelang KKN. Ada juga beberapa orang yang sudah putus lama tapi masih susah move on. Nah, cerita itulah yang akan saya angkat. Sesuai dengan judul tulisan ini: I Wish I Could Reverse The Time but I Couldn’t so I just Pray for You. Saya meminjamnya dari lagu ciptaan komposer favorit saya, Gardika Gigih Pradipta. Menurut Mas Gigih, lagu ini berkisah tentang pertemuan dan perpisahan. Seindah apa pun suatu pertemuan, pada akhirnya perpisahan akan terjadi. Berikut ini adalah kisah tiga teman KKN saya (nama disamarkan) dalam menghadapi perpisahan:

Kisah pertama: Keke, perempuan yang diputuskan pacar tanpa tahu apa kesalahannya

Keke adalah teman saya yang hobi berdandan. Dia selalu memakai make up, lengkap dengan lipstik merahnya. Nah, Keke putus dengan pacarnya sekitar dua bulan sebelum KKN. Dia sama sekali tak menduga bakal diputuskan secara sepihak. Siapapun yang pernah diputuskan pacar, pasti sepakat kalau rasanya sangat tak enak. Kita akan merasa tak berharga. Tak cukup pantas untuk dicintai. Barangkali itu pula yang dirasakan Keke. Terlebih, dia tak paham di mana letak kesalahannya dalam hubungan. Selama ini dia selalu berusaha mandiri dan tak merepotkan sang pacar. Namun entah mengapa, rupanya itu semua tak cukup. Hubungan mereka harus berakhir.

Saya sempat mengobrol dengan Keke beberapa hari setelah mereka putus. Dia terlihat kacau. Namun waktu terus berjalan, tak peduli dia sedang patah hati atau tidak. KKN pun dimulai. Dia disibukkan oleh program-programnya. Untungnya dia sudah tampak kuat lagi. Saya sempat salut, kelihatannya dia hanya butuh waktu singkat untuk sembuh. Namun kenyataannya tidak. Keke sempat mengaku, dia pun mengalami masa-masa sulit selama KKN. Terkadang dia bahkan menangis saat malam hari.  

Walaupun tampaknya masih menyimpan rasa, Keke tak mau balikan dengan mantannya. Sudah cukup, katanya. Dia sudah mengalami masa yang sulit selama beberapa bulan terakhir. Untuk sampai di titik ini, dibutuhkan perjuangan besar. Jadi dia tak ingin kembali lagi ke titik awal patah hati. Lebih baik mengikuti berlalunya waktu. “Ini pelajaran buatku,” kata Keke, “di masa depan, aku harus mencari pasangan yang lebih baik dari dia.”

Kisah kedua: Putri, perempuan yang hubungannya kandas saat dia hendak serius

Putri adalah teman saya yang cukup melankolis. Dia menyukai bacaan-bacaan sastra. Sejauh ini, Putri sudah pacaran sekitar lima kali. Empat yang pertama belum serius. Saat itu dia hanya menganggap pacaran sebagai status. Namun pada hubungan kelima, mulai ada keinginan untuk melangkah lebih jauh. Namun sayangnya hubungan mereka kandas setahun lalu. Walau begitu, Putri masih belum bisa move on dari mantan. Masih sering bercerita betapa menyesal dirinya, dan betapa inginnya mengulang masa lalu.

Suatu malam, saya berjalan-jalan ke pantai dengan Putri dan seorang teman. Suasana pantai yang sepi dan dingin membuat Putri galau. Lantas mulai bercerita lagi tentang sang mantan. Bahkan menunjukkan foto mereka berdua yang masih disimpan di dompetnya! Ternyata ini gagal move on tingkat parah. Setelah itu, Putri meminjam pulpen dan kertas pada saya. Dia menulis sesuatu di kertas itu—barangkali kesan pesannya pada mantan pacar. Lalu kertas itu diremasnya menjadi gumpalan kecil. Dengan sekuat tenaga, Putri pun melemparnya ke laut. Barangkali itu adalah simbol dari tekadnya melupakan sang mantan. Galau abis.

Dulu Putri berdoa agar dia dan mantannya kembali menjadi jodoh. Namun seiring berjalannya waktu, dia hanya berdoa semoga sang mantan mendapat jodoh yang terbaik. Rupanya dia sudah mulai ikhlas. Bagi orang yang benar-benar mencintai, kepemilikan memang bukan hal penting. Yang paling penting adalah melihat orang kesayangan kita sehat, sukses, dan bahagia.

Kisah ketiga: Ando, lelaki yang ingin balikan dengan mantan terindahnya

Kalau dua teman saya tadi perempuan, sekarang laki-laki. Ando adalah orang yang terkesan pintar dan nyentrik, bahkan agak gila. Namun entah kenapa mantannya cantik-cantik. Selama ini dia sudah pacaran beberapa kali. Namun ada satu mantan yang tak bisa dilupakan, yaitu mantannya saat SMA. Mereka sudah putus tiga tahun lalu. Tapi Ando masih merindukannya sampai sekarang.

Apa yang membuat gadis itu spesial di antara mantan-mantan lainnya? Menurut Ando, ada sesuatu dalam gadis itu yang tak bisa ditemukannya pada orang lain. Singkat kata, dia adalah mantan terindah. Wajahnya memang cantik dan suaranya merdu. Menurut Ando, dia semakin bersinar sejak mereka putus. Ando telah beberapa kali mengajaknya balikan—tapi dia tak mau. Gadis itu takut kalau Ando akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu.

Namun Ando belum menyerah juga. Selama KKN, dia tetap berupaya mendekati gadis itu. Untung komunikasi masih berjalan lancar. Mereka beberapa kali chatting dan saling telepon. Ando tampak sangat bahagia setiap habis melakukannya. Namun pada satu titik, dia berhenti. Tak lagi berhubungan. Tak lagi penasaran. Tak lagi menginginkan gadis itu. “Sudah cukup,” kata Ando, “rasanya kisah kami cukup sampai di sini saja.”

Karena pada akhirnya, doa adalah satu-satunya penghubung…

Itu tadi kisah Keke, Putri, dan Ando. Mereka mencerminkan betapa sulitnya bangkit dari masa lalu. Setelah hubungan berakhir, awalnya memang sulit menerima. Kehilangan seseorang yang dicintai memang tak mudah. Benak kita menolak untuk melupakannya. Kita pun mengulang-ulang kenangan masa lalu. Mengulang rasa sakit. Mengulang rindu. Lantas pada akhirnya sadar, kita tak bisa memutar balik waktu. Yang sudah berlalu tak bisa kembali lagi. Sekarang kita hanya bisa mendoakan. Sebab pada suatu titik, doa adalah satu-satunya penghubung.


Sumber ilustrasi: pinterest.com

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog