Menjalani Kehidupan yang Tak Dimengerti


Mungkin sebagian dari kita hidup untuk menyenangkan orang lain. Berlaku baik supaya mendapat teman. Berpenampilan mewah supaya dianggap setara. Tak melakukan hal-hal yang kita sukai, hanya karena tak ingin dijauhi orang lain. Entah sejak kapan pendapat mereka jadi sangat penting bagi hidup kita. Dalam porsi yang tepat, tentu saja tak mengapa. Namun jangan sampai hidup kita dikendalikan opini dari luar. Tak perlu membunuh karaktermu—atau mimpi-mimpimu—hanya untuk menyenangkan semua orang.

Tahukah kamu? Sebenarnya hanya ada dua orang yang perlu kita senangkan. Yang pertama adalah diri kita di masa lalu, saat berumur sepuluh tahun. Masih ingat seperti apa? Kalau saya, di usia sepuluh tahun, adalah anak kelas 5 SD yang canggung. Saya bertumbuh tinggi terlalu cepat. Sudah memakai kacamata. Rambut pendek dan mengikal di bawah, membingkai wajah bundar yang kekanak-kanakan. Tak pernah jago olahraga. Sangat gugup kalau harus pidato atau menyanyi di depan kelas. Namun di balik itu, saya punya tekad yang kuat. Dulu saya selalu bermimpi untuk menciptakan karya yang luar biasa. Entah tulisan, gambar, atau lainnya. Karya itu harus memberi pengaruh pada orang-orang yang menikmatinya.

Kalau kamu, apa impianmu saat kecil? Mungkin kamu pernah bercita-cita untuk keliling dunia. Melihat banyak negara dan berteman dengan orang asing. Atau mungkin, dulu kamu selalu jatuh iba kalau melihat pengemis di jalan. Lalu bermimpi untuk memberi pekerjaan pada semua orang, supaya tak ada lagi yang kelaparan dan meminta-minta. Bisa juga yang lain. Setiap orang pasti punya mimpi semasa kecil. Namun tak semua bisa meyakininya sampai sekarang.

Tahun demi tahun memang telah berlalu. Kita bertumbuh dan makin dewasa. Tuntutan dari luar bertambah banyak. Setelah lulus SMA, kita akan selalu ditanya, mau kuliah di mana? Beruntung sekali orang yang bisa mengambil jurusan sesuai minatnya dan direstui orangtua. Beberapa teman saya ada yang kuliah untuk menyenangkan orangtua, dan berkutat bertahun-tahun dalam jurusan yang tak membuat mereka bergairah. Bahkan ada yang tak tahu tujuannya sama sekali, lantas memilih jurusan secara acak. Lambat laun mereka menyadari kalau salah jurusan. Segala hal bisa terjadi. Sebenarnya, kuliah di mana pun tak masalah—asalkan bisa memaksimalkan kemampuan kita. Kalau tidak di ruang kelas, barangkali di luar.

Saya punya seorang teman yang sangat menurut pada orangtua. Sebut saja Rima. Sebenarnya Rima ingin kuliah di jurusan A, tapi karena tak disetujui orangtua, dia pun terdampar di jurusan B. Setiap hari kuliah tanpa semangat. Namun hebatnya, dia hampir tak pernah bolos. Katanya tak tega pada orangtua yang sudah susah-payah membayar kuliah. Dalam kehidupan sehari-hari, dia juga sangat menurut. Bayangkan saja, jam malam yang diberikan orangtuanya hanya sampai pukul enam sore! Di luar itu, dia tak boleh ke mana-mana kecuali bersama keluarga atau untuk acara yang sangat penting. Padahal kan ada berbagai kegiatan asyik di malam hari. Sayang kalau dilewatkan. Tapi Rima menurut saja. Justru saya yang geregetan.

Belum lama ini, saya dan Rima mengobrol tentang rencana kami selepas kuliah. Rima bercerita kalau orangtuanya menyuruh dia melanjutkan S-2 di luar negeri. Saya tidak heran. Ayahnya memang lulusan universitas top di Prancis. Kakaknya pun sekarang menempuh studi di Jerman. Kalau mau kuliah di luar negeri, jalan Rima sudah terbuka lebar. Saya kira dia akan setuju pada orangtuanya seperti biasa. Tapi ternyata… tidak. Rima menolak. “Aku ingin tetap di Indonesia, ikut LSM, dan mengajar anak-anak yang tinggal di pelosok,” kata Rima.

Dengan sedih Rima bercerita, keluarganya tak menyetujui rencana itu. Mereka takut dia tak bisa memperoleh uang dari pekerjaannya. Mereka pun tetap mendorong dia untuk menekuni karier yang lebih prestisius. Namun dengan ketegasan yang tak terduga, Rima berpegang pada keputusannya. Dia memilih untuk mengejar mimpi dan panggilan jiwa, sekalipun jalannya akan lebih sulit dan berkelok. Semoga usahanya mendapat hasil yang setimpal.

Masih ingat kata-kata saya di awal tulisan? Sebenarnya, hanya ada dua orang yang perlu kita senangkan. Yang pertama adalah diri kita sendiri saat berusia sepuluh tahun. Sebab, dia membentuk mimpi-mimpi kita yang paling polos dan jujur. Dialah diri kita yang asli sebelum diubah oleh berbagai tuntutan. Lantas siapa orang yang kedua? Dia adalah diri kita di masa depan, saat berusia tujuh puluh tahun. Sudah pensiun dan lebih banyak istirahat. Bayangkan betapa senangnya dia, kalau mengenang masa muda yang dijalani sesuai mimpinya! 



Sumber ilustrasi: pinterest.com

6 comments:

  1. Pandan, aku suka banget sama tulisanmu ini. Aku jadi mengecek ulang apakah hidupku sekarang terbawa arus utk menyenangkan semua orang atau mewujudkan mimpiku saat umut 10 tahun lalu. Dan ternyata aku sdg mewujudkan mimpiku krn aku menyukainya bukan melakukan hal yang tak kusukai untuk menyenangkan orang lain. �� thanks ya krn baca ini aku jadi punya 1 lg alasan untuk bersyukur krn aku beruntung. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mbak Erny, makasih udah baca dan komentar. Kadang kita memang perlu berhenti sejenak dari kehidupan yang serba cepet. Terus berpikir ulang tentang hal-hal yang udah dilalui selama ini, biar ke depannya nggak salah jalan. Anyway, semoga Mbak Erny makin semangat buat mewujudkan mimpi! :)

      Delete
  2. pandan, jujur banget nih. tulisan mu keren banget yang ini. alurnya bagus banget! aku jadi intropeksi diri juga apakah aku sudah membahagiakan diriku sendiri ? sukses buatmu ya dek, aku yakin kamu adalah penulis yang hebat nantinya di masa depan sesuai dengn cita-citamu di umur 10 tahun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih buat pujian dan doanya, Mbak Corry. Semoga Mbak Corry juga makin sukses di masa depan. Jangan lupa bahagia, karena kita juga pantas buat merasakannya. Mulai aja dari melakukan hal-hal kecil yang disukai :)

      Delete
  3. Mba, aku jadi memikirkan kembali mimpiku saat berusia 10 tahun. Waktu itu, ambisiku adalah bisa menghafal nama ibu kota semua negara di dunia.Hehehh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkw ambisimu unik banget ya Rahma. Sekarang udah tercapai belum? Bagus kalau masih inget mimpimu di masa kecil, karena terkadang, menengok ke belakang itu perlu :)

      Delete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog