Makanan Terakhir Sebelum Dihukum Mati


Kemarin saya membaca tentang orang-orang yang dihukum mati. Sebelum dieksekusi, mereka boleh meminta makanan apa pun untuk disantap terakhir kalinya. Makanan itu bermacam-macam. Ada yang hanya minta dua sendok es krim. Ada juga yang minta makanan mewah berupa lobster, steak, dan kue pie sebagai pencuci mulut. Saya tak tahu apa yang mereka pikirkan saat memilihnya. Apa sengaja memilih makanan mahal? Atau makanan yang belum pernah dicoba? Entah bagaimana perasaan mereka saat menyantapnya.

Seandainya saya yang dihukum mati, saya tahu apa yang harus dipilih. Tentu saja makanan yang berkesan dalam hidup saya… yaitu masakan Ibu. Sebenarnya ibu saya jarang memasak. Kami lebih sering beli lauk-pauk di luar. Dengan fisik yang agak lemah, Ibu memfokuskan tenaga untuk pekerjaan rumah tangga lain. Beliau juga masih harus melukis. Tak seperti yang dikira, melukis itu tak mudah—butuh banyak waktu, tenaga, dan konsentrasi yang kuat. Sehari-hari Ibu menggarap kanvas kecil sampai raksasa. Beliau banyak mengangkat tema budaya Tionghoa, Jawa, dan berbagai isu tentang perempuan. Kalau ingin tahu lebih lanjut, silakan kunjungi website beliau: WaraAnindyah.com.

Dengan tenaga dan waktu yang terbatas, Ibu cenderung memasak sesuatu yang simpel. Misalnya nasi goreng. Telur dadar. Sup sayuran. Bisa juga bakpau atau kue bolu. Semua dibuat dengan bumbu yang minimalis. Di keluarga kami ada yang kena penyakit tertentu, jadi harus mengurangi gula, garam, apalagi micin. Karena itulah masakan Ibu terasa agak hambar. Namun karena sudah terbiasa sejak kecil, bagi saya enak-enak saja. Ada kemewahan di balik rasa sederhana itu.

Ibu selalu mengajari saya untuk merasakan. Misalnya saat mencicipi sepotong kue yang polos. Tanpa krim, cokelat, atau manisan buah sama sekali. Benar-benar hanya kue biasa. Namun, Ibu akan berkata kalau kue itu sangat enak. Kuning telurnya terasa. Menteganya harum. Teksturnya lembut dan leleh di lidah. Pada awalnya saya bingung karena tak bisa merasakan hal yang sama. Tapi berkat arahan Ibu, lama-lama lidah saya terlatih. Saya bisa menyadari berbagai rasa yang tersembunyi. Seperti rasa tepung, rasa gula jawa, dan berbagai rasa lainnya. Begitu juga saat minum air mineral botol. Sebenarnya tiap merk berbeda—ada yang agak manis, pahit, dan berbau seperti bahan kimia. Yang paling saya suka adalah Aqua karena ada rasa kelapanya.

Saat beranjak dewasa, saya sadar kalau ajaran Ibu tak berhenti pada makanan. Saya belajar untuk melihat keistimewaan dalam berbagai hal sederhana. Misalnya saja kecantikan. Menurut saya, tiap perempuan punya kecantikan yang berbeda. Ada yang terlihat jelas seperti mentari di siang bolong. Ada juga yang baru tersingkap pada momen tertentu—entah saat tersenyum, memejamkan mata, atau membenarkan rambutnya. Begitu pula saat menulis. Saya sering dapat inspirasi dari berbagai hal sehari-hari. Sepintas tampak remeh, tapi kalau direnungkan dan dimaknai, setiap hal bisa memberi kita pelajaran yang berharga.

Itulah ajaran yang disampaikan Ibu pada saya. Sampai kapanpun bakal saya ingat. Begitu juga dengan masakan beliau. Saat ini, kami berdua masih tinggal serumah. Setiap hari bisa mengobrol, berbagi cerita, dan saling menyemangati. Namun waktu terus berlalu. Akan tiba saatnya saya tinggal sendiri. Mungkin kami jadi jarang bertemu. Kelak kalau saya merindukan Ibu… saya akan memasak sesuatu yang agak hambar.



Sumber ilustrasi: pinterest.com

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog