Boneka Kesayangan


Saya suka bermain boneka saat masih kecil. Kesukaan ini ditularkan oleh Ibu yang hobi mengoleksi boneka beruang. Beliau mempunyai boneka yang mirip dengan teddy bear milik Mr. Bean. Ada juga boneka beruang antik, boneka beruang lucu berwarna cokelat cerah, dan sebagainya. Ibu menamai mereka satu per satu. Namun seingat saya, yang menjadi kesayangan beliau bukanlah boneka beruang, melainkan boneka anak anjing yang memakai piyama merah jambu. Namanya Elizabeth. Dia mempunyai dua telinga yang terkulai dan sepasang mata bundar yang tampak sedih. Usianya bahkan lebih tua dari saya. Semasa kecil, saya suka iseng memainkan Elizabeth.

Tak hanya boneka-boneka Ibu yang meramaikan masa kecil saya. Dulu banyak kerabat yang menghadiahi saya boneka. Ada boneka Digimon, Dipsy, dan boneka beruang yang memakai gaun. Beberapa kerabat lebih suka memberi uang untuk membeli boneka sendiri. Yang pertama saya beli adalah boneka gajah besar berwarna biru. Saya membelinya di Sekaten dan merasa bangga sekali. Beberapa waktu kemudian, saya membeli boneka beruang berwarna oranye cerah. Lalu boneka anak anjing kecil yang diberi nama Mila.

Ada masanya ketika saya lebih suka memainkan boneka kecil. Ukurannya hanya 10-20 sentimer, begitu lucu dan mudah dibawa. Beberapa di antaranya adalah boneka rajut, boneka beruang mini, dan boneka malaikat bundar yang berwarna kuning. Mereka begitu mungil sehingga bisa dibawa ke mana-mana. Seringkali saya tidur sambil menggenggam mereka.

Tahun demi tahun berlalu. Masa kejayaan boneka kapuk mulai tergantikan oleh barbie. Semasa kecil saya mengoleksi banyak barbie dan segala pernak-perniknya. Sebagian besar yang saya beli adalah barbie murah, jadi gampang rusak dan peyot. Hanya sesekali saja saya membeli barbie yang bagus. Satu buah berharga 50 ribu rupiah dan cukup mahal untuk saat itu, terutama bagi anak SD. Saya pun membelinya dengan uang tabungan. Sesekali Ibu membelikan saya, tapi dengan syarat ranking di sekolah harus bagus.

Saya selalu ingin mempunyai rumah barbie. Kelihatannya bagus sekali dalam buku dan majalah. Ukurannya besar dan dibagi menjadi beberapa ruangan. Ada ruang keluarga lengkap dengan sofa dan televisi, dapur yang dipenuhi peralatan masak mini, sampai ruang tidur dengan kasurnya yang empuk. Namun harganya mahal sekali. Dulu saya dan Ibu pernah membuat perjanjian: kalau saya meraih rangking satu di sekolah, beliau akan membelikan rumah boneka. Saya pun jadi semangat belajar. Selama SD, entah sudah berapa kali saya meraih rangking satu. Namun Ibu tak pernah membelikan rumah boneka. Saya duga, ini ada hubungannya dengan kenyataan bahwa saya hidup bersama empat saudara. Mereka juga butuh dibelikan mainan dan dibiayai macam-macam. Saya pun bersabar saja.

Sebagai gantinya, Ibu membuatkan saya rumah boneka dari lemari bekas obat. Tingginya sekitar 70 sentimeter. Ada sebuah ruangan besar yang lantainya dicat serupa kayu. Saya menggunakannya untuk ruang tamu. Bahkan Ibu membuat perapian dari kertas dan menggunting gambar buku serta hiasan untuk ditaruh di atasnya. Selain itu, ada dua ruangan kecil untuk kamar mandi dan dapur. Ada juga loteng untuk kamar tidur. Tembok luar rumah boneka itu dicat dan dilukisi oleh Ibu. Tak lupa beliau memasang cerobong asap supaya tampak lebih nyata. Hasilnya sangat keren! Saya suka sekali.

Saya bermain dengan rumah boneka itu sampai kelas 4 SD. Kemudian saya mulai mengenal komputer dan tergila-gila pada game The Sims. Game itu mirip dengan permainan rumah boneka, tapi lebih canggih dan menarik. Saya juga mulai memainkan game peternakan Harvest Moon. Gara-gara itu, saya jadi melupakan boneka-boneka yang menemani selama ini. Mereka teronggok begitu saja di kardus mainan. Sebagian dilungsurkan ke adik-adik saya, tapi tidak bertahan lama. Bahkan rumah boneka yang indah itu pun perlahan tersingkir ke pojok ruangan.

Selama SMP dan SMA, saya hampir tak pernah memainkan boneka. Namun saya suka melihat-lihat konter boneka setiap kali pergi ke toko atau mall. Saya akan memilih boneka yang paling besar dan empuk, lalu memeluknya. Kebiasaan itu masih ada sampai sekarang. Saya memang masih menyukai boneka dan segala kelucuannya. Mereka terlalu empuk dan lembut untuk ditolak.

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog