Membaca Manusia dan Hasratnya


Ada masanya ketika saya sangat suka membaca. Berbagai bacaan saya lahap tanpa pilih-pilih. Mulai dari komik, novel remaja, novel sastra, koran, majalah, hingga beraneka fiksi di internet. Saat itu membaca jadi kegiatan yang hampir sama rutinnya seperti bernapas. Bahkan saat makan pun saya harus membaca, kalau tidak aneh rasanya.

Namun masa telah berganti. Sekarang saya masih suka membaca, tapi tidak melakukannya sesering dulu. Sebagian yang saya baca adalah buku-buku sastra untuk menunjang kuliah. Sebagian lagi, bacaan jurnalistik dan beraneka artikel dari internet. Namun ada jenis bacaan baru yang tak bosan-bosannya saya lahap. Apakah itu?

Saya suka membaca manusia.

Dengan karakter dan kepribadiannya yang kompleks, manusia menjadi bacaan yang sangat menarik bagi saya. Mereka tak secara blak-blakan bercerita seperti buku. Namun melalui ekspresi dan gestur, tak terlalu sukar untuk membaca isi hati mereka.

Seperti halnya buku, manusia pun terbagi menjadi beberapa tipe:

Manusia yang bagaikan ensiklopedi

Orang bertipe ini tahu banyak hal karena mengikuti perkembangan berita dan menguasai berbagai jenis ilmu. Biasanya dia asyik diajak mengobrol. Dalam kehidupan sosial, dia termasuk golongan abu-abu. Bukan hitam ataupun putih, tapi golongan di antara keduanya yang bisa membaur dengan siapa saja. Tak heran punya teman banyak. Dengan keluwesannya, dia bisa menggali cerita dari seseorang. Lantas informasi itu dipergunakannya untuk barter cerita dengan orang lain lagi. Maka informasinya makin lama makin banyak.

Saya punya beberapa teman bertipe ini. Entah kebetulan atau tidak, mereka semua adalah pemimpin di tempat masing-masing. Keabu-abuan mereka berguna untuk mengumpulkan informasi dari berbagai orang. Kemudian, informasi itu bisa digunakan untuk mengatur orang di sekeliling mereka dan meraih posisi yang lebih tinggi.

Ada satu hal dari orang bertipe ini yang membuat saya sebal. Saya bisa mengobrol berjam-jam dengannya tanpa merasa bosan, bahkan tanpa kehabisan topik pembicaraan. Rasanya kami telah berbagi banyak hal. Namun suatu saat saya tersadar, saya hampir tak tahu apa pun tentangnya. Sebab yang dia bicarakan hanya cerita tentang orang lain, tentang saya, tentang siapapun kecuali dia sendiri. Mungkin tak ada maksud untuk menutup-nutupi, sifat dasarnya memang seperti itu. Namun toh saya kesal juga. Barulah saat saya utarakan kekesalan itu, mereka sadar dan perlahan mulai membuka diri.

Manusia yang bagaikan buku teka-teki silang (TTS)

Kepribadian yang unik biasanya dimiliki oleh tipe ini. Mungkin cara berpikirnya lain daripada yang lain, emosinya naik-turun, atau dia sangat pendiam. Saya harus memutar otak agar bisa memahami mereka. Persis seperti saat mengerjakan TTS.

Jangan mengharapkan hubungan yang stabil bersamanya. Suatu hari mungkin dia sangat baik hati dan kooperatif, tapi di harinya lainnya dia cuek dan menghilang begitu saja. Susah ditebak. Namun justru itulah keasyikan dalam berhubungan dengannya. Tak ada rutinitas yang membosankan. Setiap momen terasa baru dan mendebarkan.

Namun TTS dibuat untuk mengisi waktu luang, begitu juga dengan orang bertipe ini. Kesenangan muncul saat bermain-main dengannya. Namun saat saya berusaha serius, kesenangan itu hilang. Sebab terlalu sukar untuk menggenggam orang ini. Dia bagaikan air yang selalu menetes-netes jatuh setiap kali hendak saya raih. Lagipula untuk apa meraih air? Pada akhirnya, saya menemukan cara yang tepat untuk bermain dengannya.

Manusia yang bagaikan buku kuno

Seringkali saya tertarik pada buku tua. Lembaran kertasnya yang telah menguning dan berbau apak membuat saya bertanya-tanya, apa saja yang sudah dialami buku ini? Dari mana dia berasal, dan berapa orang yang membaca serta memperoleh ilmu darinya?

Tipe ini adalah orang-orang yang berusia lanjut. Mereka sudah mengalami berbagai hal selama hidupnya. Kebahagiaan dan kesedihan mengikis kemudaan mereka, tapi menebalkan kebajikan. Tak heran begitu banyak cerita yang bisa mereka bagikan. Cerita-cerita itu sudah kuno, tak sesuai dengan masa kini, tapi tetap menarik untuk didengarkan. Sebab masa kini dan masa lalu mempunyai ikatan yang kuat.

Terkadang saya diajak mengobrol begitu saja oleh orang paruh baya. Pada awalnya membicarakan hal sepele, tapi lama-lama menyerempet kisah hidupnya. Mulai dari masa kecil, masa muda, membangun keluarga, hingga beliau saat ini. Seringkali mereka lupa waktu saat bercerita. Akibatnya terkadang saya jadi bosan. Namun dalam obrolan itu, terkadang saya memperoleh asupan baru.


Manusia yang bagaikan buku bergambar


Tipe ini adalah orang yang ekspresif. Dia tak perlu repot-repot mengutarakan sesuatu karena hal tersebut sudah bisa ditebak. Entah dari ekspresinya, gestur tubuh, hingga intonasi suara. Sebenarnya sinyal-sinyal itu tidak terlalu jelas. Namun bagi orang yang sensitif atau mempelajari ilmu psikologi, tak susah untuk mendeteksinya.

Setiap orang punya reaksi naluriah yang muncul begitu saja. Saya bisa melihat itu pada orang-orang di sekitar saya. Ada yang menggigiti kuku atau memainkan rambut saat gelisah. Ada yang mendadak diam saat marah. Saat berbohong, ada yang mengalihkan pandangannya matanya dari saya. Namun ada juga yang bisa menatap mata saya tepat di tengah, meski garis bibirnya terlihat tidak seyakin itu.

Sungguh menarik untuk mengamati orang. Dari gerakan-gerakan kecil, kita bisa mengartikan banyak hal. Terutama jika dia ekspresif. Seperti halnya buku bergambar, kita jauh lebih mudah memahaminya.

Manusia yang bagaikan death note

Sebuah komik Jepang terkenal bercerita tentang death note dan kesaktiannya. Jika seseorang memilikinya, dia bisa membunuh orang kapan saja, siapapun dan di manapun. Caranya simpel: tulis nama lengkap orang itu di death note, maka beberapa detik kemudian dia akan meninggal karena serangan jantung.

Seperti halnya death note, ada orang-orang yang terasa mengancam bagi saya. Mungkin karena tatapan matanya yang setajam pisau. Sekilas melihatnya saja, saya langsung memutuskan agar tidak macam-macam dengannya. Mungkin juga karena kata-katanya yang selalu kasar dan kecenderungannya untuk bermain fisik. Namun seperti halnya koin, manusia pun terdiri dari dua sisi. Satu sisi baik dan satu sisi buruk. Yin dan yang. Jika hanya melihat buruknya saja, kita akan rugi.

Ingin tahu apa yang terjadi pada pemilik death note? Dia menggunakannya untuk membunuh para penjahat. Rupanya dia ingin menciptakan dunia yang lebih baik.

2 comments:

  1. Kalau Aku termasuk buku apa, Ndan?
    Nafi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buku apa ya Mas? Hehehe, kayaknya nggak ada dalam kriteria yang kutulis :D

      Delete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog