Hantu yang Tak Menyeramkan


Dalam buku On Murder, Mourning and Melancholia, Sigmund Freud menulis tentang ketakutan manusia pada hantu. Menurut Freud, keberadaan hantu diciptakan sendiri oleh manusia. Memori tentang orang yang sudah meninggal membuat kita membayangkan kehidupan setelah mati. Dari sanalah muncul halusinasi yang kita sebut dengan hantu.

Selain teori tersebut, masih banyak teori lain tentang hantu. Ada yang percaya bahwa mereka adalah iblis yang menyamar untuk menggoda manusia. Atau jin yang selama ini mengikuti setiap orang dan menghafal gerakannya. Setelah kita mati, jin itu akan menampakkan diri dan berlaku seperti kita. Bagaimana menurutmu? Kalau menurut saya, hantu adalah makhluk biasa. Mereka sudah tak bernyawa, itu saja.

Saya sendiri bukan orang yang peka akan keberadaan hantu. Tak punya indra keenam, hanya sesekali menjumpai pengalaman mistis. Yang pertama terjadi saat saya masih kecil. Ketika sedang duduk sendirian di ruang tengah rumah, mendadak dua sosok melintas. Mereka berbentuk seperti manusia, tapi tak punya wajah. Seluruh permukaan kulitnya licin dan berwarna perak. Daripada hantu, mereka lebih tampak seperti spirit. Jiwa-jiwa yang melintasi ruang dan waktu yang salah.

Pengalaman kedua terjadi jauh setelahnya. Saya sudah jadi mahasiswa, saat itu baru saja selesai mengikuti kegiatan kampus. Malam sudah sangat larut. Jarum jam menunjukkan pukul 2 pagi. Saya diantar pulang oleh seorang kawan. Motor yang kami naiki melintasi masjid kampus. Dari kejauhan, saya melihat sosok putih di halaman masjid. Bentuknya mirip sekali dengan pocong. Tak bergerak. Saya mengedip-ngedipkan mata, tapi sosok itu masih ada. Rupanya saya tak salah lihat. Itu pocong! Dengar-dengar, masjid tersebut memang angker.

Mungkin yang paling seram adalah pengalaman ketiga. Malam itu saya pulang dari kampus dengan berjalan kaki. Sendirian melewati jalan yang sepi dan gelap. Tiba-tiba, di pertigaan jalan terdengar suara wanita yang meminta tolong. Dengan bingung saya mencari sumber suara. Tampaknya berasal dari halaman sebuah rumah yang tak terawat. Namun di sana tak ada gerakan sama sekali. Suara wanita itu masih saja terdengar, lemah tapi melengking tinggi. Saya bingung sejenak. Pertigaan itu benar-benar sepi, tak ada orang lain atau kendaraan yang lewat. Karena tak kunjung menemukan sumber suara, akhirnya saya berlalu.

Esok harinya saya ceritakan pengalaman itu pada orang yang sudah sering menjumpai hantu. Menurutnya, daerah itu memang angker. Dan saya beruntung karena tak menemukan sumber suara. Kalau ketemu, bisa-bisa saya ditarik ke alam lain. Begitu katanya.

Namun saya tak takut saat mengalami ketiga kejadian itu. Biasa-biasa saja. Mungkin karena yakin hantu tak akan mengganggu saya. Sebab, saya juga tak menganggu hantu. Hanya kebetulan lewat dan menjumpai mereka. Saya percaya kalau hantu dan manusia bisa hidup berdampingan dengan tenang. Mereka punya dunia sendiri, begitu pula kita. Tak perlu saling ganggu. Sekadar penasaran sih boleh.

Dibandingkan hantu, saya justru lebih takut pada manusia. Sebab manusia masih hidup dan bernyawa. Bisa melakukan apa pun sesuai keinginannya. Entah melukai, memperkosa, bahkan membunuh. Namun kita tak bisa begitu saja mengenali  orang yang baik maupun yang buruk. Sebab manusia pandai menyembunyikan identitas aslinya. Kadangkala, orang yang terlihat paling baik justru ternyata paling berbahaya. Begitu pula sebaliknya.

Kemungkinan itu tak lantas membuat kita berhenti percaya pada orang lain. Yang diperlukan hanya kewaspadaan. Membuka mata, telinga, dan hati lebar-lebar. Menangkap sinyal tersembunyi yang disampaikan orang lain.

2 comments:

  1. Kalau mengikuti teori Sigmund Freud, jangan jangan hantu tanpa wajah, pocong dan jeritan wanita adalah leluhurmu sowan menemuimu Pandan. :)
    Apakah hantu itu asalnya orang hidup?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi. Menurut saya, nggak semua hantu asalnya dari orang hidup. Ada hantu yang asalnya dari ketiadaan, awalnya nggak ada, tapi diciptakan oleh ketakutan kita :)

      Delete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog