Sepotong Sore di Akhir September


Ini makan siang yang sangat terlambat. Kita duduk bersebelahan, menyantap sandwich besar dengan isian sayur dan daging. Di luar langit mulai gelap. Puluhan pepohonan tinggi berjajar di depan kedai. Sudah lama saya ingin ke tempat ini—sebuah kedai tersembunyi, menjual hidangan organik yang menggoda. Sore itu hanya ada sedikit pengunjung. Kita berdua makan dengan tenang, sesekali mengobrol, dan menunggu percakapan sebenarnya dimulai. Sudah saatnya saya memberi jawaban.

Kau menatap saya dengan cemas. Seketika itu, semua jawaban yang sudah disusun menjadi berantakan. Lidah saya kelu. Perlahan saya memindai sosokmu—lelaki yang rapi seperti biasa, dengan kemeja dan sepatu, juga kacamata bergagang hitam. Kau memang selalu memerhatikan penampilan. Bahkan kau memerhatikan berbagai detail kecil: bagaimana caramu bicara, apa jam tangan yang kaupakai, dan memastikan setumpuk agendamu terlaksana dengan baik. Entah bagaimana… kau selalu bisa menyelipkan saya di tengah kesibukanmu.

Saya menghela napas. Kembali mengingat perkenalan kita. Seandainya tak mengurus acara yang sama, mungkin kita tak akan bertemu. Namun kini justru saling kenal dengan baik. Sanggup mengobrol tentang apa saja. Berbalas pesan singkat. Menelepon lama-lama. Kita mulai menghabiskan waktu berdua, makan dan menonton bioskop. Waktu pun melesat cepat. Saat terasa makin nyaman, kau pun mengaku: kau telah jatuh cinta pada saya.

Momen itu terjadi seminggu lalu. Sekarang kita berada di kedai ini. Sudah selesai menyantap sandwich dan masing-masing menyesap segelas minuman. Kau kembali menatap saya. Menunggu jawaban. Dengan gugup, saya pun mulai bicara. Tentang perasaan padamu. Tentang semua yang telah kita lalui. Tentang sekelebat masa depan. Tentang saya. Tentang kamu. Tentang kita berdua. Setelah menyampaikan semuanya, saya berhenti sejenak. Lalu dengan takut-takut mengamati wajahmu.

Kau hanya terdiam. Merenungi gelas di depanmu. Membiarkan detik demi detik bergulir lambat. Lalu kau mengalihkan pandangan pada saya, dan sambil tersenyum berkata, “Kok kamu kelihatan sedih? Kan aku yang ditolak. Jangan ambil jatah sedihku dong!”

Saya balas tersenyum dengan bibir gemetar. Penolakan sungguh tak mudah diucapkan. Tak mudah pula untuk didengar. Sekeras apa pun menutupinya, perasaan tak bisa disembunyikan. Kesedihan terpeta jelas di wajahmu. Namun dengan tenang, kau berkata bahwa semua baik-baik saja. Kita tetap bisa berteman. Tetap bisa jalan-jalan dan makan berdua. Saya jadi ingin menangis. Seandainya bisa, saya ingin membalas perasaanmu, tepat dengan cara yang kau inginkan. Namun… saya tak mampu. Jauh di lubuk hati, saya tahu bahwa bukan kau orang yang saya cari.

Sore pun beranjak malam. Makanan telah lama habis. Kita bersiap pulang. Saya memberimu pelukan terakhir sebelum berpisah. Motor saya membelah angin malam. Kau dan motormu berada tepat di belakang. Tadinya saya mengira akan pulang bersama seperti biasa—sebab tempat tinggal kita berdekatan. Namun saat saya menoleh ke belakang, ternyata kau sudah tak ada.


Sumber ilustrasi: pinterest.com

2 comments:

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog