Menjalani Hari-hari yang Biasa Saja
Sunday, April 26, 2026Belakangan ini aku baru sadar kalau tombol klakson motorku rusak karena hampir tak pernah kupakai. Sehari-hari aku mengendarai motor dengan kecepatan yang biasa saja, di jalanan Jogja yang relatif tenang, dan tak banyak pengendara lain yang menyebalkan (kecuali saat musim liburan dan mendadak banyak turis).
Di beberapa kesempatan langka saat motorku hampir terserempet motor pengendara lain, aku hanya sempat berteriak, "WAAHHH!!" Dan sebelum jempol kiriku bisa menemukan tombol klakson, momennya sudah keburu lewat, lalu aku tak jadi mengklakson. Ya sudah.
Dari belasan tahun pengalamanku naik motor, sepertinya kejadian paling berkesan adalah waktu aku kecelakaan saat sedang KKN di pedesaan Bali. Motorku tergelincir di area berpasir, dalam kondisi aku tak pakai helm, dan kepalaku terbentur di aspal sampai dahi kananku robek dan mengucurkan darah segar. Aku pun dibawa ke rumah sakit dan dahiku dijahit. Untungnya aku tidak meninggal (soalnya kadang-kadang ada berita mahasiswa meninggal saat KKN).
Ngomong-ngomong tentang Bali, aku kangen pergi ke sana. Bukan ke kotanya, tapi ke pedesaannya. Aku kangen naik motor mengelilingi area sawah yang seolah tak ada habisnya. Lalu sore-sore pergi ke pantai yang jaraknya hanya selemparan batu dari pondok KKN kami. Aku juga kangen makan nasi campur bali yang hanya 10 ribu tapi porsinya banyak sekali dengan lauk entah apa saja (aku pernah tak sengaja makan lawar yang dicampur darah, rasanya seperti masakan sayuran biasa).
Sebagai orang asli Jogja, sebetulnya aku lebih suka makanan yang cenderung manis. Soalnya makanan di Jogja memang manis-manis, bahkan lauk-pauk yang biasanya asin pun jadi agak legit di sini. Misalnya ayam bakar madu yang mungkin terasa seperti dessert bagi pendatang dari luar Jogja. Ah jadi ingat, dulu saat tinggal di Jakarta, aku kecewa tiap kali memesan ayam bakar madu karena hanya luarnya saja yang kelihatan manis, tapi rasanya asin. Pelanggaran!!
Namun belakangan ini, aku lebih sering menyantap masakan asin daripada manis. Karena sehari-hari aku membeli makan siang di warung sunda yang berseberangan dengan kantorku. Sebetulnya ada beberapa tempat lain, tapi warung itulah yang paling dekat dan paling murah dengan porsi banyak. Lauknya pun beragam; ada ayam, ikan, telur, jeroan, berbagai macam sayur, gorengan, dan lain-lain. Semua lauknya terasa asin dan hampir tak ada sedikit pun rasa manis. Awalnya aku merasa aneh, tapi akhirnya terbiasa juga. Lauk favoritku saat ini adalah ikan gorengnya yang gurih dan sangat krispi.
Yah, mungkin pada akhirnya kita akan terbiasa pada hal-hal tertentu. Seperti aku yang mulai terbiasa datang ke kantor yang penuh dengan berbagai macam komponen PC. Lalu melihat teman-teman sekantorku merakit dan membongkar PC, membuat berbagai konten tentang PC, dan mengurus event yang berhubungan dengan PC. Lalu terlibat dalam berbagai obrolan tentang PC. Sejujurnya aku belum terlalu paham, tapi orang-orang lain kelihatan antusias sekali, jadi entah kenapa aku juga senang.
Namun terkadang ada hari-hari yang memusingkan, jadi aku menghibur diriku dengan cara berenang. Rasanya rileks dan nyaman saat menceburkan diriku ke dalam air yang tenang. Lalu membiarkan badanku terombang-ambing di permukaan. Wajah dan telingaku pun terendam dalam air, membuat duniaku seketika jadi biru dan tanpa suara. Lalu aku akan mengayuh dengan tanganku satu per satu, bergantian dengan tempo yang teratur, dan kedua kakiku bergerak mengikuti.
Ketenangan itu bisa kuperoleh asal kolam renangnya tak terlalu ramai. Hari Minggu ini, aku pergi kolam renang pagi-pagi, dan ternyata sudah penuh anak kecil yang belajar renang dengan pelatih masing-masing. Ada anak yang berteriak-teriak penuh semangat, ada yang menangis karena takut, dan entah ada berapa anak yang sudah bertabrakan denganku di dalam kolam karena mereka tidak lihat-lihat saat berenang.
Gara-gara itu, sirna sudah rutinitas berenangku yang tenang dan menyenangkan. Tapi aku tetap memaksakan diri untuk berenang sesuai target. Ngomong-ngomong, targetku tahun ini adalah bisa berenang sejauh 2 kilometer dalam 1 sesi, seperti standar atlet renang pada umumnya (aku tidak berniat jadi atlet dan hanya butuh tantangan). Sekarang kemampuanku masih jauh dari target, jadi aku berusaha meningkatkannya sedikit demi sedikit.
Setiap kali aku merasa sudah capek berenang dan napas sudah ngos-ngosan, aku akan berenang satu putaran lagi sebelum mengakhiri sesi renangku. Itu karena pesan dari kakak laki-lakiku yang sangat suka olahraga. Dia adalah orang yang dulu mengajariku berenang sampai bisa. Dia berpesan, dalam olahraga dan dalam hidup, cobalah berusaha sedikit lagi saat kita merasa sudah mencapai batas, karena saat itulah batas kita akan bertambah. Hehehe.
.png)
1 comments
Semangat Mbak! Pasti bisa capai target sebelum akhir Mei wkwk
ReplyDelete