Melompat dari Dimensi Khayal

Friday, April 08, 2016


Saya sudah bertemu berbagai macam orang. Namun ada orang-orang tertentu yang menjadi tokoh favorit saya. Mereka mempunyai karakteristik yang unik dan langka. Saking uniknya, seolah-olah mereka bukan manusia---melainkan tokoh fiktif dalam buku, yang melompat keluar dan hidup di dunia nyata.

Photo by Annie Spratt on Unsplash
Orang yang rapuh seperti lilin

Tokoh pertama yang menjadi favorit saya adalah lelaki yang saya kenal di kampus. Umurnya sekitar 30 tahun, kurus dan sangat tinggi. Rambutnya pendek dan agak keriwil. Beliau biasa berpenampilan rapi, lengkap dengan kacamata bertengger di hidung. Suaranya lirih. Gerakan tubuhnya sedikit dan gesturnya terbatas. Secara keseluruhan, penampilannya terkesan rapuh. Terkadang saya ingin meniup tubuhnya dari jauh, seperti meniup lilin, dan melihat apakah beliau bakal roboh.

Lelaki ini mengingatkan saya pada Stephen Hawking. Sekilas tampak lemah namun pintar luar biasa. Beliau bisa membahas sastra dengan fasih, walau temanya sangat absurd dan kadang tak bisa saya pahami. Ekspresinya pun terlihat sangat senang. Seperti orang yang bicara tentang cinta pertama atau hal-hal membahagiakan lainnya. Saat membahas sastra, beliau tampak seperti lilin: menyala dengan mantap dan membagi pendarnya pada orang lain.

Saya membayangkan beliau sebagai tokoh dalam buku berlatarkan Eropa satu-dua abad lalu. Mungkin Perancis, dengan aksen bicara yang halus. Beliau memakai setelan jas antik dan kacamata berlensa tunggal. Bepergian dengan kereta kuda, dan terlibat dalam perkembangan seni pada masa itu. Mungkin profesinya adalah kurator seni atau jurnalis yang mengisi kolom sastra.

Orang yang terlampau detail

Tokoh selanjutnya adalah senior saya di kampus. Tahun lalu dia lulus setelah menempuh kuliah sekitar tujuh tahun (atau delapan tahun, saya lupa). Dia adalah tipikal lelaki jawa dengan kulit kuning kecokelatan. Posturnya sedang, garis-garis wajahnya biasa. Dia bukan tipe orang yang menonjol. Justru bisa terlewat begitu saja oleh mata, melebur dengan latar belakang. Lantas apa yang membuatnya jadi salah satu tokoh favorit saya?

Ternyata dia adalah pengamat yang sangat andal. Dia gemar mengamati orang-orang, lingkungan sekitar, pokoknya apa saja---untuk kemudian dianalisis. Lalu dia menceritakan analisisnya pada kami. Bisa tentang apa saja. Mungkin tentang cara memilih dompet, cara memotong kuku kaki, atau cara mengulang mata kuliah tanpa kelihatan seperti mahasiswa tua. Semua itu diceritakan dengan sangat detail. Seolah dia sudah menghabiskan banyak waktu untuk mengamati, berpikir, dan menyimpulkan sesuatu yang mungkin kurang penting bagi kebanyakan orang. Namun saya tertarik mendengar penjelasannya. Saya menyimak ceritanya dengan terheran-heran, seperti pembaca yang menemukan buku langka.

Seandainya menjadi tokoh fiktif, dia adalah pemeran utama dalam buku bertema misteri yang dibumbui komedi. Dia akan menjadi detektif yang ceroboh. Pandai mengamati dan menganalisis, tapi kurang baik dalam eksekusi, sehingga menimbulkan kekacauan dan kekonyolan.

Bagaimana denganmu? Apa kamu pernah menjumpai orang-orang unik seperti mereka? Atau justru kamulah sosok langka itu? Manusia memang makhluk yang menarik. Kadang saya tak tahu mana yang lebih dulu terjadi: manusia yang menginspirasi karya, atau karya yang menginspirasi manusia. Seperti lingkaran yang tak mempunyai ujung.

You Might Also Like

0 comments