Mendatangi Rumah Hantu


Saya suka menonton film horor. Namun bukan film yang lebih banyak adegan seksnya daripada adegan seramnya. Bukan pula film yang hanya mengandalkan kemunculan mendadak para hantu dibarengi backsound mengagetkan. Bukan itu. Saya menyukai film horor yang halus dan indah, yang alur ceritanya dibangun dengan cermat untuk meneror penonton dari awal. Pemeran hantunya tak perlu didandani berlebihan. Apalagi dengan darah palsu yang tampak seperti cat merah. Selain itu, latar tempatnya harus dipilih dan ditata dengan apik.

Cukup banyak film horor yang sudah saya tonton. Ada pola cerita yang sama dalam beberapa film itu. Biasanya ada sebuah tempat yang dikabarkan berhantu; bisa rumah, sekolah, kuburan, atau yang lainnya. Sejumlah orang pergi ke sana karena penasaran atau ingin menguji nyali. Lalu hantunya muncul! Orang-orang tadi dibunuh oleh sang hantu, lalu mereka menjadi "penghuni" tempat itu juga.

Rasa takut saya datang dan pergi tergantung mood. Terkadang saya sangat penakut. Namun terkadang saya cuek bebek, dengan santainya melenggang di tempat angker dan sepi. Yang jelas rasa penasaran saya sangat besar. Terkadang saya sengaja menelusuri daerah angker bersama seorang teman. Kami berjalan kaki malam-malam sambil bertukar cerita hantu, tapi yang bersangkutan tidak muncul (atau tak bisa dilihat oleh kami). Saya juga pernah sengaja mendatangi rumah yang katanya berhantu.

Pengalaman itu terjadi sekitar setahun lalu. Saya hendak mengikuti acara menginap bersama serombongan teman. Dalam perjalanan ke sana, kami melewati berbagai bangunan tua. Salah satunya adalah rumah besar yang kuno dan indah. Kata beberapa orang, rumah itu berhantu. Bahkan, seorang senior saya yang "peka" mengaku telah melihat sejumlah roh halus di sana. Ia berniat menyelidiki tempat itu lebih jauh. Saat teman-teman lain sedang bersantai di tempat menginap, ia mengajak kami untuk ke sana. Saya dan dua orang lainnya menyanggupi. Kami berempat pun berangkat, semuanya perempuan.

Hari sudah sore dan udara mulai dingin. Rumah kuno itu terletak tak jauh dari tempat kami menginap. Kami pergi dengan mengendarai motor. Saat sampai, ternyata sudah ada beberapa orang di dekat sana. Mereka memandangi rumah itu sambil sesekali memotret. Barangkali mereka juga mendengar rumor tentang hantu, atau hanya tertarik pada keindahan bangunan kuno.

Rumah itu terletak di tanah yang tinggi dan agak melengkung seperti bukit. Bangunannya besar dan halamannya luas. Kami berniat masuk ke sana. Namun, pintu gerbang satu-satunya tak bisa dibuka. Di sekelilingnya ada selokan yang sudah kering. Senior saya memutuskan untuk melompati selokan itu, lantas memanjat sedikit untuk masuk ke halaman. Saya dan seorang teman mengikutinya. Sedangkan teman yang satu lagi mengurungkan niat, lalu menunggu di luar bersama motor-motor.

Saya, sang senior, dan seorang teman berhasil masuk ke halaman. Tempat itu tak terurus. Rumput liar tumbuh tinggi di mana-mana. Kami melewati sebuah lokasi yang tampak seperti panggung pertunjukan. Menurut senior saya, tempat itu ramai oleh "sesuatu". Katanya ia mampu merasakan dan melihat makhluk halus di sana. Lalu kami berjalan mendekati rumah. Saat kami mengintip ke dalamnya, senior saya tersentak dan menyebut nama Allah berkali-kali. Entah apa yang dilihatnya. Kami tak berniat masuk rumah, jadi hanya berjalan mengelilingi bangunan itu dengan hati-hati.

Apakah ada penampakan yang saya lihat? Tidak. Saya memang kurang peka pada makhluk halus. Begitu juga dengan teman saya yang satu lagi. Yang peka hanya senior kami. Dengan wajah tegang, ia mengatakan hal-hal yang dilihatnya. Tapi susah untuk percaya padanya, sebab saya tak merasakan hal aneh apa pun. Apalagi melihat penampakan. Namun, memang ada sesuatu di sana yang membuat saya heran... yaitu kursi. Ada sejumlah kursi yang ditaruh secara acak mengelilingi rumah itu. Letaknya saling berjauhan. Meski sudah tua, kursi-kursi itu tampak kokoh. Menurut senior saya, ada "penjaga" yang duduk di setiap kursi.

Selain penjaga-penjaga itu, katanya ada satu "pemimpin" yang duduk di balkon. Kekuatannya sangat besar dan tampaknya ia tak suka diganggu. Maka kami bertiga bergegas kembali ke pintu gerbang. Keluar dengan melompat, lalu mengendarai motor ke tempat menginap. Syukurlah setelah itu tak terjadi hal aneh. Tak ada yang kesurupan atau apa pun. Tapi saya tak menjamin kalau sekarang kita bebas dari hantu. Terutama kamu. Siapa tahu ada hantu yang menemani kamu membaca dari tadi :)


Sumber ilustrasi: pinterest.com

0 comments:

Post a Comment

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog