Buat Kamu yang Ingin Traveling ke Luar Negeri, Hindari 7 Anggapan Keliru Ini!


Banyak orang ingin traveling ke luar negeri. Termasuk saya dan mungkin juga kamu. Sejak kecil saya berharap bisa menjelajahi negara yang jauh. Melihat pemandangan baru, bertemu orang asing, dan mengalami kejadian seru. Pokoknya saya mau berpetualang!

Akhirnya sebuah kesempatan pun datang. Akhir Maret lalu, saya melakukan perjalanan pertama ke luar negeri. Singkat saja, hanya lima hari. Namun saya berhasil mengunjungi tiga negara sekaligus: Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Perjalanan ini sangat berkesan karena saya melakukannya sendirian. Saya bahkan tak punya kenalan di negara tujuan. Menyeramkan? Pada awalnya memang terasa begitu. Namun setelah dijalani, ternyata sangat seru. Saya juga memperoleh banyak pelajaran.

Setelah melakukan perjalanan itu, saya menyadari sesuatu yang penting. Ternyata ada sejumlah anggapan yang menghambat kita untuk traveling ke luar negeri. Inilah anggapan-anggapan tersebut:

Anggapan #1: ke luar negeri itu mahal, cuma orang kaya yang mampu

Siapapun bisa traveling ke luar negeri. Sekarang makin banyak maskapai penerbangan yang menawarkan tiket murah. Dulu saya hanya perlu sekitar 1,3 juta rupiah untuk 4 kali penerbangan: YOG-SIN, SIN-SGN, SGN-KUL, KUL-YOG. Kita bandingkan saja dengan tiket ke Medan. Untuk pulang pergi ke sana dari Yogyakarta, dulu saya butuh hampir 2 juta rupiah. Nah ini 1,3 juta sudah dapat tiga negara. Murah banget kan? Iya, karena ada promo. Bagaimana cara mengikutinya? Coba saja subscribe ke situs penerbangan, misalnya Air Asia seperti yang saya gunakan. Kalau mereka mengadakan promo, kita akan dikabari lewat surel. 

Bagaimana dengan penginapan? Untuk mendapat harga murah, lebih baik menginap di hostel. Biayanya hanya sekitar 150 ribu rupiah per malam. Untuk menginap di tiga negara, saya menghabiskan total sekitar 470 ribu rupiah. Bagaimana dengan uang saku? Untuk membeli makanan, minuman, kartu ponsel, tiket transportasi umum, oleh-oleh dan sebagainya, saya membawa 200 dolar singapura (sekitar 2,6 juta rupiah). Jadi kalau ditotal (tiket pesawat + penginapan + uang saku), semua berjumlah sekitar 4,4 juta rupiah. Ingat, jumlah itu sudah mencakup SEMUA kebutuhan di tiga negara. Tiga. Kalau pergi ke negara lain yang lebih jauh, jumlah itu hanya cukup untuk transportasi saja.

Bagaimana cara mengumpulkan uangnya? Ada tiga pilihan: mencari bantuan dana, menabung, atau memperbesar penghasilan. Dulu saya mendapat bantuan dari kakak saya. Dia mau membayari tiket pesawat dan penginapan. Sedangkan untuk uang sakunya, saya harus punya sendiri. Maka saya pun bekerja proyekan. Seluruh gajinya langsung ditukar ke dolar singapura.

Anggapan #2: kita cuma bisa ke luar negeri lewat beasiswa atau jalur prestasi lainnya

Kalau mau semua kebutuhan dibayari, kita bisa memilih ikut beasiswa atau jalur prestasi lainnya. Jadi kita bisa jalan-jalan sekaligus tetap berprestasi. Tapi masalahnya, tak semua orang berhasil memanfaatkan kesempatan ini. Mungkin kita sudah mencoba beberapa lowongan, tapi tak juga diterima. Atau mungkin kita hanya berharap dapat beasiswa tanpa benar-benar mencarinya. Namun di satu sisi, kita berkeras ingin ke luar negeri lewat jalur prestasi. Ya, susah dong. Sebaiknya hindari mindset ini. Sah-sah saja kalau mau ke luar negeri hanya untuk traveling. Dalam perjalanan, kita akan belajar banyak sekali hal baru. Jadi tak sia-sia menyisihkan uang dan waktu.

Anggapan #3: traveling itu harus jauh. Aku cuma mau ke Eropa, Amerika, atau negara di luar Asia

Anggapan ini bisa membuatmu tak kunjung pergi ke luar negeri. Traveling itu bisa ke mana saja, tak harus jauh. Negara-negara di Asia Tenggara pun sangat menarik untuk dikunjungi. Bahkan di negara yang dekat dengan Indonesia, Malaysia misalnya, sudah ada banyak sekali perbedaan. Kita bisa mempelajari budaya, bahasa, seni, dan berbagai hal baru lainnya. Jadi tak harus pergi jauh. Mulai saja dari negara-negara terdekat. Harga tiket pesawatnya bisa jauh lebih murah daripada kalau ke Eropa atau Amerika. Selain itu, kita juga tak membutuhkan visa. Kalau sudah berhasil traveling ke negara yang dekat, selanjutnya kita bisa pergi ke negara yang jauh. Jadi sudah lebih berpengalaman.

Kenapa dulu saya memilih Singapura, Malaysia, dan Vietnam untuk dikunjungi? Kenapa tidak memilih negara lain yang lebih eksotis? Kenapa malah memilih negara yang sudah maju seperti Singapura? Sebab, saya ingin tahu seperti apa negara yang sudah maju. Saya tak sekadar ingin bertamasya. Saya ingin merasakan bagaimana menjadi salah satu penduduknya, bagaimana fasilitas umumnya, dan bagaimana kulturnya. Ternyata memang sangat berbeda. Dulu saya kaget saat pergi ke Singapura. Betapa enaknya fasilitas di sana. Dari situlah saya sadar, ternyata zona nyaman saya selama ini belumlah cukup. Apalagi dengan adanya MEA, saingan kerja saya sekarang orang-orang luar negeri. Saya perlu tahu seperti apa mereka, dan perlu belajar untuk menjadi sejajar atau bahkan lebih baik.

Anggapan #4: traveling ke luar negeri itu ribet. Malas ah!

Kata siapa? Sekarang teknologi makin maju, semua bisa dilakukan secara online. Membuat paspor pun tak harus secara manual. Kita bisa mendaftar lewat situs KBRI, jadi prosesnya lebih mudah dan cepat. Begitu juga dengan memesan tiket pesawat dan penginapan. Dengan adanya internet banking, kita bisa membayar tanpa perlu beranjak dari laptop. Selain itu, ada yang namanya web check-in. Jadi kita tak perlu check-in lagi di bandara dan bisa menghindari panjangnya antrean. Namun syaratnya, kita tak bisa membawa bagasi (karena kalau bawa, berarti harus ditimbang di konter check-in).

Selama perjalanan lima hari, dulu saya hanya membawa satu tas ransel dan satu tas selempang kecil. Tadinya saya mau membawa koper, tapi ternyata tas ransel saja sudah cukup. Jadi saya tak perlu mengantre di konter check-in dan bisa langsung melenggang ke imigrasi. Selain itu, tas ransel sangat praktis untuk dibawa. Terkadang saya tak bisa langsung ke penginapan dari bandara. Jadi saat di objek wisata, saya tetap membawa tas. Oh ya, jangan lupa membawa tas selempang kecil. Isinya paspor, dompet, tiket pesawat, bukti booking penginapan, dan barang penting lainnya. Pastikan tas ini jangan sampai hilang. Bawa saja terus. 

Anggapan #5: aku nggak lancar bahasa asing nih. Nanti nggak bisa bertahan dong di luar negeri?

Tak perlu minder dengan kemampuan bahasa asing kita. Yang penting bisa berkomunikasi. Bahasa Inggris saya tidak bagus-bagus amat, tapi toh saya bisa menggunakannya selama di Singapura. Kalau di Vietnam, saya menggunakan bahasa isyarat ke warga lokal. Bahasa Inggris hanya digunakan ke sesama turis dan pengurus hostel. Sedangkan saat di Malaysia, saya bahkan bisa bicara bahasa Indonesia, karena bahasanya tidak berbeda jauh. Pokoknya tak perlu takut untuk berbicara! Kamu juga bisa membawa kamus saku atau mengunduh aplikasi penerjemah di ponsel.

Anggapan #6: nggak ada yang bisa nemenin aku ke luar negeri. Kan nggak enak kalau pergi sendiri

Siapa bilang ke luar negeri harus ditemani? Kamu bisa pergi sendirian, bahkan kalau kamu perempuan. Dulu keluarga sempat khawatir karena saya pergi sendirian, apalagi ini pengalaman pertama saya ke luar negeri. Bagaimana kalau saya diculik, dicopet, atau mengalami kejadian buruk lainnya? Namun tak perlu ragu dan takut. Pastikan persiapan kita matang. Cari tahu sebanyak mungkin informasi dari negara asal, termasuk titik-titik rawannya. Kita juga harus tahu kapan jam terakhir transportasi umum dan apakah penginapan punya jam malam.

Yang paling penting, kita harus punya peta. Bisa berupa apa pun. Kalau dulu saya menggunakan aplikasi Google Maps. Selain menunjukkan peta, aplikasi ini juga menunjukkan pilihan jalur transportasi. Enak sekali digunakan saat berada di Singapura dan Malaysia karena ada fasilitas kereta cepat. Selain aplikasi ponsel, kita juga bisa menggunakan peta cetak. Peta itu bisa dibeli atau dicetak di tanah air. Atau kalau tidak sempat, minta saja di bandara negara tujuan.

Anggapan #7: jalan-jalan ke luar negeri itu harus lama. Sekarang masih sibuk, jadi nanti aja ya…

Ini juga anggapan yang kurang tepat. Mungkin masih ada orang yang berpikir kalau traveling itu harus lama, paling tidak satu atau dua minggu. Padahal beberapa hari saja sudah cukup. Jadi kita tak perlu menunggu libur panjang. Kita juga bisa menghemat biaya hidup di sana. Dalam perjalanan yang lalu, saya hanya memerlukan lima hari. Satu hari di Singapura, tiga hari di Vietnam, dan satu hari di Malaysia. Memangnya cukup traveling cuma satu hari? Cukup-cukup saja tuh. Selama satu hari saja, saya sudah bisa pergi ke beberapa objek wisata, belanja oleh-oleh, main dengan sesama turis, mencicipi makanan lokal, mengambil banyak foto, dan berbagai kegiatan lainnya. Satu hari di satu negara? Itu cukup memadai, asalkan kita pandai mengatur waktu.

Jadi bagaimana? Sudah siap traveling ke luar negeri?

Pada akhirnya, ini kembali lagi padamu. Apa kamu benar-benar ingin traveling ke luar negeri? Kalau iya, kamu akan menemukan caranya. Mungkin sekarang kamu belum punya uang, waktu, atau kesempatan. Tapi jangan menyerah! Traveling ke luar negeri tidak sesulit yang diduga. Siapapun bisa melakukannya, termasuk kamu. Jadi tunggu apa lagi? Lakukan langkah nyata sekarang juga. Kamu bisa mulai mencari uang, menabung, atau mencari informasi tentang promo tiket pesawat. Tetapkan target. Kapan kamu akan traveling ke luar negeri? Siapa tahu, tahun ini kamu sudah bisa mewujudkannya!

4 comments:

  1. Nice post laaah! (y)
    Jangan lupa mampir ke blog-ku haidarrahmat.com yaa :D
    *Maaf kelihatan lama banget nggak diopeni hahaha :P*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah baca dan berkunjung ke sini, Haidar! Sering-sering mampir ya. Aku juga udah mampir ke blog-mu, tulisannya asik-asik :D

      Delete
  2. Pandaaaan tulisanmu enak banget dibaca. Aku baca hampir semua postmu. Keep writing!!!
    Ini wina temen SMAmu wkwk
    Jadi pengen travel sendirian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo Wina, makasih ya udah mampir. Wah baca hampir semua post-ku? Uuu semoga bermanfaat ya :)
      Boleh banget tuh kalau mau traveling sendirian. Apalagi kan kamu orangnya strong, dijamin lebih lancar ;)

      Delete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog