Mencintai Secukupnya Saja


Cinta menyimpan energi yang sangat besar. Kekuatan itu bisa membangun atau menghancurkan, tergantung cara mengendalikannya. Kita perlu hati-hati dalam menghadapi cinta. Cobalah mencintai secukupnya saja. Kenapa hanya secukupnya? Bukankah cinta harus dalam, serius, dan luar biasa? Untuk beberapa hal memang begitu. Misalnya saja pekerjaan. Makin besar cinta kita pada pekerjaan, hasil yang diperoleh pun makin mantap. Begitu juga dengan keluarga. Kalau mencintai keluarga sepenuh hati, banyak hal bisa diraih bersama. Jadi siapa yang perlu kita cintai secukupnya saja? Lawan jenis. Seseorang yang membuat kita terpesona dan jatuh cinta.

Tulisan ini saya tujukan pada siapapun yang belum menikah, belum bertunangan, maupun belum berencana ke arah sana. Kondisi itulah yang paling rawan. Karena tak ada ikatan resmi, cinta yang tumbuh bisa mendadak hancur. Entah karena putus, ditolak, terhalang jarak, dan sebagainya. Padahal patah hati sangat tak enak. Apalagi kalau cinta kita teramat dalam, sakitnya pasti tak tertahankan. Bukan berarti saya harap kamu mengalaminya. Sebaliknya, saya doakan hubunganmu berjalan lancar, mulus, dan berakhir indah. Namun tak ada salahnya tulisan ini dibaca dan dijadikan pertimbangan.

Mari kita mulai dengan ciri-ciri orang yang cintanya berlebihan. Apa kamu termasuk?

Kalau cinta tumbuh kelewat batas, lama-lama jadi obsesi. Tentu tidak baik. Biasanya orang lebih mudah terobsesi pada lawan jenis yang sesuai tipe idamannya. Entah karena punya penampilan menarik atau kualitas yang jarang ditemui. Nah, kalau sudah bertemu tipe idaman—apalagi berhasil pacaran—seseorang akan sangat takut kehilangan. Lalu berusaha keras menjaga hubungan. Di titik inilah sering terjadi kesalahan yang tak disadari. Supaya pasangan nyaman dan bahagia, kadang kita rela melakukan apa pun. Misalnya mengubah diri habis-habisan sampai tak bisa dikenali. Atau mencoba sesuatu yang tak sesuai nurani. Bisa juga yang lain.

Mungkin awalnya, kita berniat mendukung pasangan supaya sukses. Lalu mulai membantunya sebisa mungkin. Memberinya ribuan perhatian. Mencarikan dia kesempatan. Menghujaninya dengan banyak hadiah mahal. Tentu tak masalah, malah bagus kalau kualitas hidup pasangan meningkat. Tapi bagaimana dengan hidup kita? Karena sibuk mengurus pasangan, jangan-jangan kita lupa mengurus diri sendiri. Penampilan pun jadi kumal. Karier macet. Dompet kosong. Pesona kita pudar dan bisa-bisa pasangan tak tertarik lagi. Wah, gawat! Dampak buruk cinta yang berlebihan adalah lupa mencintai diri sendiri. Karena itu, perhatikanlah dirimu dengan baik.

Cinta yang berlebihan membuat kita buta akan banyak hal, termasuk akhir hubungan

Dengan cinta yang teramat besar, orang yakin bisa mengalahkan apa pun. Mulai dari perbedaan agama, restu orang tua, sampai jarak umur yang membentang jauh. Tentu tidak salah. Kita boleh berharap yang terbaik untuk masa depan. Jangan lupa berusaha bersama pasangan. Namun tetaplah berpikir logis, termasuk untuk kemungkinan buruk. Biasanya orang yang sudah terobsesi tak mau memikirkan itu. Mereka kira cinta bisa menang di atas segalanya. Dalam sebagian kasus memang terjadi. Tapi cinta juga bisa kalah. Kadang ada tembok yang tak bisa ditembus.

Orang yang cintanya teramat besar akan pura-pura tak melihat penghalang. Tetap terlena pada perasaan dan khayalan. Padahal waktu terus berjalan, makin lama tembok itu makin dekat. Sesaat sebelum menabrak tembok, barulah dia melihatnya. Tentu terasa sakit. Sangat sakit malah… sebab tak pernah menyiapkan diri untuk itu. Bagi orang yang cintanya berlebihan, patah hati selalu terjadi mendadak. Tiba-tiba saja hatinya patah. Terkoyak. Berdarah. Hancur jadi ribuan keping. Seolah tanpa peringatan. Padahal, dari dulu sudah ada tanda-tanda yang jelas.

Patah hati akibat cinta yang berlebihan akan lebih sulit sembuh. Bersabarlah…

Patah hati biasa sudah cukup parah. Apalagi patah hati akibat seseorang yang sangat dicintai. Hampir mustahil untuk melepas. Tiap hari selalu rindu. Kerap berpikir tentang kabarnya, kegiatannya, kesulitannya, pokoknya apa pun tentang dia. Ingin kembali lagi seperti dulu... tapi sudah tak bisa. Rasanya sakit sekali. Namun suatu saat, semua itu akan hilang. Luka-luka pun sembuh. Hati sudah tak utuh, tapi itu bukan halangan untuk mencintai lagi. Akan tiba waktunya jodoh kita datang. Saat kesempatan itu tiba, pastikan untuk mencintai secukupnya saja. Jangan berikan cinta sekaligus. Pelan-pelan. Tingkatkan seiring dengan kepastian hubungan. Setelah menikah, barulah berikan cinta yang seutuhnya.  



Sumber ilustrasi: pinterest.com

4 comments:

  1. Nice! Keliatannya sih sederhana tapi prakteknya butuh usaha. Cinta selalu jadi topik yang asik utk didiskusiin. Apalagi orang yang sampai nglakuin halhal gak logis karenanya. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe hidup jadi meriah ya berkat cinta. Kadang bikin nangis, tapi bisa bikin ketawa juga. Anyway, makasih Mbak udah baca dan ngasih komentar. Tunggu tulisan-tulisan selanjutnya 😊

      Delete
  2. Replies
    1. Monggo kalau mau komen. Saya seneng banget kalau ada yang nanggepin tulisan saya 😊

      Delete

About Author

Ratu Pandan Wangi, tinggal di Yogyakarta. Bisa dikontak melalui e-mail: ratupandanw@gmail.com

Popular Posts This Week

Categories

Art (9) Family (10) Friend (31) Growing Up (22) Love (16) Studies (8) Traveling (16)

Search in This Blog

Follow This Blog